28 November 2005

Misteri di balik "benar" dan "baik"

Kemarin sore ketika saya pulang dari kantor menuju rumah, sebelum masuk jalan Tol di daerah pulomas saya melihat dari kejauhan mobil Honda CRV berhenti dipinggir trotoar dikerubungi oleh kuli-kuli bangunan dan para buruh penggali tanah. Mereka ramai-ramai berlarian menuju mobil tersebut......saya langsung memperlambat laju mobil saya dan berhenti tidak jauh dari "pertunjukan" itu untuk mengamati, saya curiga dan berpikir jangan-jangan mobil tersebut sedang dirampok atau supirnya sedang dikeroyok ramai-ramai karena nabrak salah satu teman mereka, saya berpikir sejenak kalau pengendara mobil itu sedang dirampok saya akan siap-siap untuk menolong dengan segala cara, paling tidak menelpon Polisi dari HP saya.

Eh ternyata tak lama kemudian dari jendela mobil CRV tersebut saya melihat tangan "putih bersih" keluar sedang membagi-bagikan makanan bungkusan kepada kuli-kuli bangunan dan para buruh penggali tanah yang berkerumun di sekitar mobil CRV itu. Rupanya seorang dermawan kaya yang baik hati sedang mempertunjukkan kasih kepada sesama manusia dan bagi-bagi rejeki kepada orang-orang miskin. Saya melanjutkan perjalanan pulang sambil merenung sejenak...sayang tidak bisa lama-lama merenungnya sebab ada teman-teman saya juga di dalam mobil saya yang menyaksikan dan berkomentar tentang kejadian itu. Dalam renungan singkat saya terbersit pertanyan-pertanyaan, kenapa yah orang-orang yang berjihad dengan cara membunuh orang-orang lain dalam aksi-aksi bom bunuh diri yang belakangan ini sedang marak beritanya, tidak mencontoh dermawan yang pengasih di dalam mobil Honda CRV tadi yah...?, coba bayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh para terorist untuk merakit bom-bom mobil dan bom-bom bunuh diri jenis lainnya yang dapat merobek-robek daging manusia hingga seperti serpihan daging cincang, nemisahkan kepala manusia dengan badannya dan segala bentuk kengerian lainnya. Dan aneh bin ajaib mereka yang melaukannya yakin sekali bahwa mereka akan masuk ke surga karena mereka menganggap perbuatan mereka adalah perbuatan baik. Jika kita adalah manusia yang waras dan memiliki kasih sayang alami sebagai manusia, bukan seperti binatang, tidakkah akal sehat kita akan bertanya dengan kritis kenapa yah biaya untuk itu semua nggak dibuat untuk kemanusiaan, untuk beli makanan dan dibagikan ke orang-orang miskin dan orang susah seperti yang dilakukan dermawan tadi, tidakkah tindakan dermawan penyayang seperti ini juga akan memungkinkan seseorang masuk ke surga? lalu kenapa juga tindakan keji dengan membunuh sesama manusia dijadikan pilihan untuk masuk ke surga?. Tidakkah Tuhan itu maha penyayang dan pengasih? bukankah kitab suci mengajarkan bahwa Tuhan sangat menyayangi manusia ciptaanNya? Tidakkah akan timbul pertanyaan lanjutan apakah mungkin yah Tuhan yang pengasih dan penyayang seperti itu mau menerima orang-orang pembunuh dan pembantai keji masuk ke surga tempat kediaman suciNya yang damai dan penuh kasih? Inilah yang saya sebut dalam judul tulisan saya sebagai misteri "kebaikan" dan "kebenaran", orang baik belum tentu benar, orang benar semestinya baik. Contoh....Kebenaran sejati tidaklah sekedar kebaikan, orang yang tidak beragama-pun bisa berbuat baik melebihi orang yang beragama, sebagai ilustrasi : orang ateis yang tidak percaya Tuhan pun banyak yang berbuat baik, orang Rusia atau RRC dulu yang kebanyakan penganut ateisme apakah mereka otomatis orang jahat?...tentu tidak ....mereka juga orang baik, yang banyak mengabdi kepada masalah sosial masyarakat dan membangun untuk negara dan kemanusiaan. Penjahat yang keluar-masuk penjara-pun berbuat baik paling tidak untuk keluarganya – anak dan istrinya. Namun esensinya bukan sekedar masalah berbuat baik .....tetapi melakukan kebenaran sejati, lalu apa sih kebenaran sejati itu? untuk mengetahui itu sangat diperlukan pengetahuan yang seksama dan comprehensive (agar tidak salah bertindak seperti para terorist tadi). Ada yang mengatakan bahwa semua agama mengajarkan kebenaran, kalau menurut saya yang tepat adalah semua agama mengajarkan kebaikan bukan kebenaran sejati. Jadi kebenaran posisinya berada di atas kebaikan. Contoh : Robin Hood ......apakah dia orang baik? ya bagi orang miskin yang mendapat hasil jarahan dia, Robin Hood adalah orang baik bagi orang miskin, namun bagi orang kaya yang dirampok oleh Robin Hood dia adalah orang yang jahat dan kejam. Nah inikan ada dua sudut pandang, lalu bagaimana menyelesaikannya - yaitu menggunakan kebenaran fundamental yaitu bahwa "mencuri itu adalah tindakan yang salah". Contoh kasus lainnya, membunuh adalah perbuatan salah, nah apakah tindakan membunuh dapat dibenarkan apabila alasannya adalah karena orang lain berbeda kelompok agama, ideologi, pola berpikir dll? tidakkah membunuh adalah tindakan keji dan tidak berprikemanusiaan apapun alasannya? jadi agama yang sejati dan benar seharusnya mengajarkan kasih dan perdamaian diantara umat manusia dan mengharamkan pembunuhan serta pembantaian jenis apapun. Singkatnya kebenaran absolute atau mutlak hanya satu saja, tetapi kebaikan itu sifatnya relative karena semua orang bisa meng-klaim tindakannya adalah baik walaupun faktanya merugikan orang lain.

Itulah sebabnya muncul anekdot atau joke seperti “Dosa apa yang dibenci Tuhan sekaligus dibenci Setan juga” jawabannya adalah : memperkosa istri Setan……..kalau kita lihat esensi dari humor tersebut bahwa kebenaran tetap kebenaran – bahwa “memperkosa” adalah tindakan yang salah menurut hukum Tuhan, tidak perduli alasan apapun. Sejarah juga mencatat begitu banyaknya pembantaian keji yang mengatasnamakan agama, seolah-olah mereka telah medapat sertifikat untuk membunuh atau "license to kill" dari Tuhan dengan legitimasi agama. Sejarah mencatat bahwa bahkan agama-agama “besar” seperti Kristen dan Islam yang memilik umat yang sangat banyak di dunia ini pernah juga menghalalkan pembantaian berdarah seperti yang dilakukan oleh kelompok agama animisme di jaman purba, sebagai contoh Perang Salib antara umat Kristen dengan Islam, masing-masing kelompok berperang atas nama agama, masing-masing prajurit baik dari Kristen maupun Islam diberkati oleh para pemimpin agamanya terlebih dahulu sebelum pergi ke medan perang untuk saling membantai satu sama lain. Orang Kristen membantai orang-orang Islam tidak perduli itu wanita hamil, anak-anak, orang tua dll, demikian juga sebaliknya orang-orang Islam membantai orang-orang Kristen dan mereka masing-masing beranggapan bahwa mereka sedang menjalankan kebaikan atas nama agama, kejadian ini pernah terjadi juga di negara kita Indonesia ini, tepatnya di Ambon dimana terjadi pertunjukkan sadis yang sangat menyedihkan sehingga menjadikan kota tersebut sebagai ladang pembantaian atau killing fields, kalau kita renungkan lagi ada apa sebenarnya yang terjadi dengan "power" agama ? sepertinya agama telah kehilangan kekuatan moral dan kasih dalam mengontrol umatnya untuk saling menyayangi dan mengasihi sesama manusia???.......... apakah ini suatu misteri ??? ...... selamat merenung dan berpikir.

1 comment:

eptia said...

Dear G,

Ketika seseorang menyerap agama ke dalam tubuh dan pikirannya sebatas sebagai pemujaan simbol, hal2 semacam fanatisme buta sangat mungkin terjadi, dan memang kebanyakan yg terjd demikian. Setiap orang seperti mempunyai cap di jidatnya dg tulisan kristen, islam, budha dsb. Masing2 berhadapan dg cap di jidatnya itu. Punya saya lebih benar! Tapi di saat bersamaan, kita lupa untuk berserah, lupa untuk menyelami setiap ajaran kitab suci, lupa untuk memetik keindahan kitab suci, lupa untuk menjadi rendah hati dan berjiwa besar... Karena ego akan sebuah simbol membutakan tidak saja mata, tapi juga mata hati dan setiap sel dalam tubuh yang tergerak...