12 February 2006

Ada apa dengan Agama?

Seorang tokoh filsuf yang dulu pernah diagungkan oleh orang-orang atheis dan komunis pernah mengungkapkan suatu kalimat sehubungan dengan agama, dia mengatakan “Religion is the opium of the people” - Karl Marx (1818 - 1883) yang artinya bahwa “agama adalah candu masyarakat”, kalau kita benar-benar menyelidiki sejarah umat manusia sehubungan dengan tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, agama serta pola berpikir masyarakat, memang ungkapan Karl Marx ini seolah-olah memiliki dasar yang cukup masuk akal. Mengapa demikian? sepanjang sejarah hingga sekarang ini kecenderungan umat manusia dalam memeluk agamanya atau kepercayaannya seringkali bermotivasikan kepentingan diri sendiri ketimbang bermotifasikan pengabdian tulus tanpa pamrih kepada sang maha pencipta, sehingga agama memang seolah-olah seperti candu atau opium yang dapat meninabobokan seseorang ditengah-tengah segala macam penderitaan hidup. Coba saja kita kebanyakan agama yang mungkin mengajarkan bahwa apabila seseorang melakukan kebaikan maka dia nantinya akan masuk surga kemudian dapat menikmati segala jenis kenikmatan hidup di sana, sedangkan kalau seseorang melakukan kejahatan maka mereka akan menerima siksaan kekal di dalam api neraka, mereka akan disiksa hidup-hidup, dibakar, … dan mungkin segala bentuk penyiksaan lainnya yang sangat mengerikan (walaupun sebenarnya konsep ini jelas bertentangan dengan sifat Tuhan yang maha pengasih dan penyayang yang tidak pernah ingin menyiksa orang walaupun orang itu jahat, Tuhan lebih menginginkan orang jahat tersebut bertobat dari kejahatannya dan mendapat kesempatan untuk diselamatkan ketimbang untuk disiksa - beberapa agama lain memiliki konsep demikian). Ada fakta ironi yang dapat kita lihat dari sisi lain, misalnya ada beberapa oknum umat tertentu yang rela mati atau bahkan mematikan atau membunuh orang lain dalam aksi bom bunuh diri yang mereka sendiri menyebutnya dgn konsep jihad demi mendapatkan "tiket cepat ke surga". Coba kita kaji lebih dalam, jika tidak ada konsep surga dan neraka apakah orang-orang masih akan tetap mau tulus beribadat kepada Tuhan?. Fakta lainnya ada banyak sekali orang yang berpindah-pindah agama hanya karena ingin menemukan “pelarian” dari sebuah penderitaan, atau ingin mendapatkan suatu “pengakuan” jati diri semata ditengah-tengah suatu kemelut hidup. Saya ambil contoh sebut saja seorang yang sedang menderita penyakit akut yang tadinya beragama A, kemudian singkat cerita orang ini mendapat kesembuhan penyakit secara mukjizat dari seorang alim ulama beragama B, dapat ditebak orang yang mendapat kesembuhan tersebut akan dengan mudah berpindah agama dari agama A menjadi agama B karena dia telah mendapatkan kesembuhan dari penyakitnya. Contoh kasus lain ada seorang yang beragama A sedang jatuh cinta dengan seorang wanita yang beragama B, cinta mereka sedemikian kuat sehingga hal ini akan membuat salah satu dari kedua pihak meningalkan agamanya demi mendapatkan cintanya, dengan kata lain agama hanyalah semacam “pengakuan” jati diri semata demi mendapatkan suatu tujuan yang diinginkan. Ada kondisi lain yang dapat kita temui di dalam masyarakat sehubungan dengan konsep berpikir mereka terhadap agama, saat ini agama seolah-olah menjadi semacam tembok yang mengelompokkan pengikutnya ke dalam satu kesatuan exlcusive….sama halnya seperti kesatuan etnis atau suku, nasionalisme atau kebangsaan. Kata “beragama” sudah sangat identik dengan ketaatan pada sebuah institusi atau organisasi agama ketimbang kepada nilai spiritual di dalam diri umatnya sehingga tak jarang ada orang yang tidak pernah menjalankan ibadatnya namun tetap membela institusi agamanya jika terjadi pertikaian antar umat beragama. Coba saya simulasikan hal ini agar anda dapat lebih memahami korelasinya, apa yang terjadi jika ada orang lain yang mendiskreditkan suku anda atau kebangsaan anda? Apa kira-kira reaksi anda? kebanyakan orang akan marah dan tersinggung jika suku atau etnisnya dicela atau dikritik walaupun kritikan yang diberikan cukup beralasan. Tidakkah demikain halnya dengan agama? apa yang terjadi jika ada orang lain yang mendiskreditkan agama atau kepercayaan kita? Apa kira-kira reaksi anda? kebanyakan orang akan marah dan tersinggung jika agamanya dicela atau dikritik walaupun mungkin kritikan yang diberikan cukup beralasan. Coba anda perhatikan berita-berita di televisi banyak orang tiba-tiba tampil anarkis untuk membela agamanya walaupun pada dasarnya belum tentu mereka menjalankan ibatnya secara konsekwen. Sepanjang sejarah peperangan umat manusia di bumi ini, cukup banyak yang didasari atas friksi antar suku atau antar bangsa. Begitu banyak perang-perang antar suku, perang-perang besar antar bangsa yang didasari atas kebanggaan yang tidak rasional terhadap komunitas kesukuan dan kebangsaan atau nasionalisme. Sama halnya seperti Nazi Hitler dulu yang pernah membantai jutaan orang hanya atas dasar kebanggan ras, demikianlah juga berkenaan dengan agama, ada banyak pertikaian dan peperangan atas nama agama disebabkan oleh karena kebanggaan dan exclusivistis terhadap kepercayaannya. Begitu banyak perang-perang antar agama atau mengatasnamakan agama yang didasari atas kebanggaan yang tidak rasional terhadap agama (salahsatu contoh sejarah perang salib). Umat beragama seolah-olah seperti suporter dari group sepak bola tertentu, sehingga sebagus apapun pemain sepak bola dari kelompok lain tidak akan dianggap, dan seringkali suporter sepakbola akan emosi dan marah besar jika pemain kelompok lawan dapat membuktikan bahwa pemain kelompoknya tidak becus bermain sepak bola. Ketimbang introspeksi diri suporter yang fanatik tidak akan bersedia menerima kekalahannya. Demikianlah juga halnya dengan umat beragama, katakanlah misalnya ada umat agama lain yang dapat membuktikan bahwa doktrin dari agamanya salah, seorang yang fanatik tidak akan mau menerima hal ini, dan cenderung akan emosi dan marah ketimbang rela untuk dialog secara terbuka. Nah hal-hal ini semua yang mungkin menyebabkan Karl Marx menulis bahwa “agama adalah candu masyarakat”. Orang-orang tidak lagi menjadikan agama itu sebagai “jalan hidup” atau “way of life” melainkan hanya sebagai attribute kelompok atau tanda pengenal saja atau cenderung sebagai pelarian belaka. Itulah sebabnya seringkali muncul kebanggaan-kebanggaan yang bersifat competitive atau bersaing dalam arti memvonis agama lain sesat dan menganggap bahwa agamanyalah yang benar. Ketimbang dengan rendah hati mau membuka diri dengan semangat kasih serta kebersamaan untuk mencari dan menggali kebenaran yang sejati, umat beragama lebih senang saling bersaing dengan menyatakan agamanya sajalah yang benar dan agama orang lainlah yang sesat. Kelompok-kelompok agama jarang mau dengan lapang dada membuka front diskusi secara bijaksana untuk saling tukar-pikiran satu sama lain guna mencari kebenaran. Oleh karena itu pula pemerintah republik Indonesia pernah membuat suatu istilah SARA (Suku Agama Ras dan Antargolongan) yang dapat menimbulkan perpecahan antara masyarakat. Dan memang demikianlah faktanya bahwa Suku, Agama, Ras dan Golongan dapat disejajarkan sebagai suatu penyebab utama perpecahan dan bahkan pertikaian umat manusia di bumi ini selain daripada faktor ideologi politik dan nasionalisme. Nah, bagaimana pandangan kita masing-masing sehubungan dgn hal ini?

4 comments:

dare said...

saya tidak setuju dengan tindakan anarkis, & " karl mark" ateis wajar berpendapat begitu, are you?
coba contoh sederhana diluar agama; Orang tua sebagai panutan Bang Gultom gue bikin karikatur yang meng-hina atau ngak senonoh, marah? atau (agama anda tuhan/ayah?) dgn alasan kebebasan berexpresi.
keep blogg

erik ekstrada said...

test

erik ekstrada said...

sebagian besar saya setuju dgn bung ronald. kalau menurut saya yg namanya emosi berlebihan menanggapi segala sesuatu yg terjadi di dunia ini tidak benar, walaupun itu penghinaan thd orang tua, agama, atau Tuhan sekalipun.marah, emosi ..itu boleh2 saja, karena kita manusia punya rasa & hati, tp bukan berarti harus terus2an bahkan berlebihan, sebab jika berlebihan berarti kita tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, dan itu jelas tidak benar. bahkan sebaliknya, kita harus mendoakan orang2 yg melakukan penghinaan tersebut supaya mendapatkan jalan terang dari Tuhan, mungkin hal itu lebih berarti. bukankah kita percaya Tuhan maha PEngasih, PEnyayang, Adil, dsb..? makanya kita harus mengimaninya secara sungguh2. selalu rendah hati & mendengarkan hati nurani, menurut saya itu adalah kuncinya. maaf jika tidak sependapat..ini hanya opini.

Ronald T.Gultom said...

Hanya ada dua kata kunci utk perdamaian, Obyektifitas dan Cinta Kasih.