18 May 2006

Selamat tinggal Ayahku terkasih

Tanggal 15 mei 2006 jam 22:45, ayah saya akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir, setelah beberapa bulan keluar-masuk rumah sakit karena gagal Jantung. Almarhum ayah saya meninggal di rumah setelah seminggu keluar dari RS.Jantung Nasional Harapan Kita. Saya menyaksikan proses perjuangan ayah saya untuk hidup dan terus menarik nafas seraya selang tabung oksigen dipasang dihidungnya, namun ternyata itulah perjuangan terakhirnya di dunia ini, ayah saya ternyata tidak kuat lagi untuk menghirup oksigen dan meninggal di kamar tidurnya di samping saya dan di pelukan saya. Selesai sudah perjuangan almarhum ayah saya dalam mengarungi kehidupannya yang cukup panjang dan penuh dengan asam-garam serta suka-duka kehidupan. Malam itu juga saya memutuskan untuk membawa jenazah ke rumah duka RS.Cikini, dengan pertimbangan agar para pelayat khususnya family dan kerabat dekat lebih mudah datang ke lokasi yang strategis di tengah kota. Besoknya pada tanggal 16 mei 2006 sekitar jam 15:20 sore ayah saya dimakamkan di TPU Pondok Rangon Cibubur, setelah sebelumnya dilakukan acara ceremonial pelepas Jenazah dari rumah duka dan ucapan belasungkawa dari semua family, kerabat dll.

Ayah saya Drs. Sounggilon Gultom dilahirkan di Tapanuli Utara, tepatnya di pulau Samosir pada tanggal 20 Juni 1938. Almarhum memiliki track record yang sangat menonjol dalam hal pendidikan. Di usia remaja almarhum ayah saya mendapatkan beasiswa dari sekolah Katolik (Sekolah Lanjutan Atas) di Balige Sumatera Utara karena sejak sekolah dasar ayah saya selalu rangking satu dan juara kelas, Ayah saya mendapat beasiswa di salah satu sekolah katolik di kota Malang Jawa Timur sekitar tahun 1956. Sekitar tahun 1963 ayah berangkat ke Jakarta untuk mengadu nasib, ayah saya beserta rekan-rekannya di Jl.Mangga Besar, Jakarta Pusat mendirikan sebuah sekolah yang diberi nama Don-BosCo. Kemudian ayah saya melanjutkan kariernya dengan mendirikan perusahaan kontraktor bersama teman-temannya. Pada tahun 1970an ayah saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi (Universitas Nasional), dan dalam tempo 5 tahun ayah saya menyelesaikan pendidikan Sarjana dengan predikat Summa Cum-Laude, karena sejak semester pertama sampai akhir, ayah saya selalu rangking pertama di universitas tersebut. Setelah menamatkan gelar sarjana, ayah saya menjadi dosen tetap di Universitas Nasional dan belakangan dia juga menjadi dosen honorer di beberapa universitas lain (Univ.Kertanegara, Akademi Bahasa Asing, UI, dll). Almarhum ayah saya pernah juga menulis beberapa buku pelajaran bahasa Inggris dan buku sejarah kebudayaan bangsa Inggris. Ayah saya juga pernah bekerja di Bimantara sebagai penterjemah, dan di beberapa institusi pemerintah dan swasta pada masa pemerintahan presiden Suharto, ayah saya pernah dipercaya oleh gubernur DKI Suprapto pada waktu itu untuk menerjemahkan beberapa buku kebudayaan Indonesia dan tentang Pencak Silat yang disebarluaskan ke negara Eropa dan Amerika, proyek penerjemahan itu dibawah naungan IPSI, sahabat dekat ayah saya di IPSI yang banyak membantunya dalam berkarier adalah pak Tata Rustadi (sekjen IPSI). Terlalu panjang riwayat hidup ayah saya jika semuanya saya tulis di blog ini, namun yang pasti Ayaku adalah guruku, pembimbingku, sahabatku yang kepadanya aku banyak sekali belajar dan mendapatkan ilmu khususnya tentang cara menghadapi problem kehidupan.

Konon menurut cerita almarhum ayah saya, dahulu kala kakek moyang saya adalah seorang raja di daerah wilayah Gonting Pulau Samosir, Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara. Kalau disejajarkan
kedudukannya dengan jabatan saat ini kira-kira setingkat Bupati atau Walikota. Nama kakek saya tersebut adalah Ompu-ni Ottom Gultom, dia hidup sekitar tahun 1830an. Kakek saya tersebut memiliki prisip hidup dan pendirian yang sangak kokoh, sehingga dia meninggal dibunuh oleh penjajah Belanda karena tidak mau kompromi dengan pemerintah Belanda pada waktu itu. Putra dari Ompu-ni Ottom Gultom juga menjadi kepala suku di daerah itu, namanya adalah Ompu Somuttul Gultom, sedangkan putra dari Ompu Somuttul adalah Hezekiel Gultom dan juga pernah menjabat sebagai kepala kampung atau setingkat Camat di wilayah Gonting, Hezekiel Gultom adalah ayah kandung dari Ayah saya almarhum. Prinsip hidup dari Hezekiel Gultom juga lurus, keras dan tegas sama seperti kakeknya. Dan menarik sekali sifat tersebut diwariskan juga kedalam diri almarhum Ayah saya. Ayah saya sejak dulu punya pendirian tegas dan lurus, dia tidak mau ikut terlibat dalam urusan politik praktis karena menurutnya politik itu licik dan busuk, padahal rekan-rekan sebaya dia dulu adalah aktivis mahasiswa exponen 1966, salah satu sahabat akrab ayah saya adalah Cosmas Batubara yang pernah menjabat Menteri dalam kabinet presiden Suharto, beberapa sahabatnya juga menjabat anggota DPR/MPR RI. Andaikata ayah saya dulu mau ikut dalam bidang politik mungkin saja ayah saya sempat menjabat Menteri. Bahkan sewaktu almarhum ayah saya terdaftar menjadi pegawai Negeri di departemen Pendidikan & Kebudayaan di jaman Suharto, almarhum tidak pernah mau ikut memilih / menusuk partai Golkar dalam pemilihan umum, sehingga almarhum ayah saya sempat dikucilkan di tempat kerjanya. Inilah salah satu kebanggaan saya pribadi karena memiliki ayah dan kakek yang berpendirian kokoh terhadap prinsip yang benar.

Memang semua manusia pada akhirnya akan mengalami nasib yang sama yaitu kematian, saya jadi teringat dengan tulisan saya sebelumnya tentang kematian yang berjudul Menghitung umur, bahwa kita semua saat ini sebenarnya sedang menghitung mundur umur kita sampai berakhir di kematian. Ayah saya hanya lebih dahulu pergi ketimbang yang lain, demikianlah akhir dari semua orang. Untunglah saya memiliki iman dan pengharapan sesuai keyakinan agama saya, bahwa kelak orang-orang yang telah meninggal akan dibangkitkan dalam system kerajaan Allah nanti. Selamat tinggal ayahku, guruku dan sahabatku yang sangat kukasihi, beristirahatlah dengan tenang sambil menantikan hari kebangkitan yang telah dijanjikanNya dalam Firman Allah Yehuwa, semoga kita kelak bertemu kembali di dalam kerajaan Allah, amin.
It's me Ronald on my blogspot

0 komentar: