21 June 2006

Bahaya dari suatu Propaganda

Salah satu cara paling mudah untuk menebar kebencian terhadap orang lain atau terhadap sekelompok orang atau terhadap suatu organisasi tertentu adalah dengan propaganda. Sebuah kamus mendefinisikan propaganda: “information that is spread for the purpose of promoting some cause”. Pada saat suatu propaganda telah tersebar luas dalam masyarakat maka akan segera tercipta suatu “opini public”, ada beberapa definisi lain yang menguraikan arti dari propaganda. Jika dikaji lebih seksama propaganda kebanyakan merupakan issue atau fitnah daripada fakta karena motivasinya adalah kepentingan tertentu bisa kepentingan kelompok, politik, sosial, agama dan kepentingan-kepentingan lain. Namun terlepas dari apakah propaganda tertentu adalah suatu fitnah belaka ataupun didasarkan atas fakta kebenaran, cara ini sangatlah efektif untuk mendiskreditkan dan membungkam kegiatan sekelompok orang atau organisasi tertentu.
Ada berbagai hal yang melatarbelakangi suatu propaganda, bisa latarbelakang politik, etnis, sosial, agama dan lain sebagainya. Di zaman dulu cara menyebarluaskan propaganda biasanya dengan memajang poster-poster, gambar-gambar karikatur, pamflet-pamflet di jalan-jalan layaknya kampanye partai politik, bisa juga menggunakan berbagai media massa seperti majalah, surat kabar atau koran, televisi, dll. Kalau di zaman sekarang ini dimana teknologi informasi dan komunikasi sudah semakin canggih ada cara yang sedang umum dipakai di dunia IT khususnya di media internet yaitu dengan menyebar issue yang bersifat Hoax melalui cara-cara seperti Spam Email dan lewat situs-situs internet. Kebanyakan orang yang menerima informasi dari media internet cenderung langsung percaya tanpa berniat untuk mencari tahu lebih jauh fakta kebenaran yang sesungguhnya dari suatu informasi. Jarang sekali orang yang berniat dengan rajin mencari tahu fakta kebenaran dari suatu informasi. Dulu di Jerman ketika partai Nazi berkuasa dibawah kepemimpinan Adolf Hitler (Tahun 1939-1945) Nazi mempropagandakan kebencian terhadap ethnic Yahudi. Kebencian yang amat sangat terhadap ras Yahudi di wilayah Jerman ini disebarluaskan melalui poster-poster, gambar-gambar karikatur dan informasi berita melalui berbagai media massa, serentak rakyat Jerman menjadi sangat benci terhadap rakyat Yahudi pada waktu itu . Semua kekuatan pemerintahan Jerman dari mulai tentara, polisi, dan kekuatan politik lainnya serentak berupaya untuk memusnahkan etnis Yahudi di setiap wilayah Jerman. Tidak soal anak-anak, orang lanjut usia, wanita hamil asalkan berasal dari ras Yahudi semuanya dibantai dengan sadis hanya karena kebencian ras yang telah dipropagandakan oleh Nazi. Di Negara Afrika juga pernah terjadi pembantaian etnis antara suku Hutu dan Tutsi, di Indonesia juga pernah terjadi pembantaian sengit antara suku Dayak dan Madura, dulu di Indonesia pernah juga dipropagandakan suatu pemusnahan total terhadap anggota PKI (Partai Komunis Indonesia) sampai-sampai petani dan buruh yang tidak mengerti politik juga disembelih berikut keluarganya, anak-anak dan istri mereka hanya karena mereka terdaftar sebagai anggota PKI, padahal notabene yang melakukan kudeta terhadap pemerintah adalah para petinggi Angkatan Bersenjata, yang menggunakan kekuatan militer seperti Cakrabirawa dan para perwira militer lainnya serta elite politik untuk memberontak. Ada banyak lagi contoh lain sepanjang sejarah kehidupan manusia bagaimana propaganda tertentu dapat mengakibatkan situasi yang sangat berbahaya dalam tatanan kehidupan peradaban manusia.
Bagaimana dengan propaganda terhadap suatu kelompok agama? Hal ini bahkan dapat mengakibatkan suatu situasi yang lebih berbahaya lagi ketimbang hanya atas dasar ras atau ethnic karena para pembunuh mengatasnamakan Tuhan dalam tindakannya. Cara paling mudah mempropagandakan kebencian terhadap kelompok agama adalah dengan memberi julukan agama sesat. Sejarah mencatat bagaimana dulu Paus Katolik mengejar-ngejar kaum Protestanism dengan legitimasi menghakimi atas nama Tuhan. Sejarah mencatat tentang Inkwisisi Katolik, dalam bahasa Inggris Inquisition (penyiksaan dan pembunuhan sadis yang dilakukan oleh pemimpin Katolik terhadap para bidah / kelompok orang yang dianggap sesat seperti kaum protestan dan lain-lain di zaman dulu), Sebuah kamus lain mendefinisikan propaganda sebagai berikut: “Psychological images and rhetoric developed to specifically persuade the masses to a particular point of view. Propaganda is usually seen as a form of political and/or religious advertisement.” Sejarah mencatat bahwa inkwisisi yang dilancarkan oleh gereja katolik terhadap protestanism maupun kalangan tertentu yang menentang adalah untuk meredam hal-hal yang membahayakan kedudukan gereja katolik. Ada banyak tokoh-tokoh reformasi Kristen yang dianiaya dan dikejar-kejar, seperti John Huss, Arius, John Wycliff, Willam Tyndale, Martin Luther, Pengikut protestan banyak yang menghadapi pengadilan yang kejam hanya karena mereka berani menelanjangi kebobrokan pemimpin agama kristen dan karena ketidak-sesuaian ajaran mereka dengan apa yang diajarkan oleh ajaran katolik, Ketika pemimpin katolik menganiaya kelompok Kristen Protestan, orang-orang Katolik tidak merasa tindakannya itu salah, bahkan mereka merasa bahwa tindakannya adalah atas nama Tuhan dan demi menegakkan kebenaran Tuhan. Yang sangat mengenaskan adalah tokoh-tokoh reformis tersebut dibunuh hanya karena menerjemahkan alkitab dari bahasa Ibrani, Aramaik dan Yunani kedalam bahasa Inggris. Tokoh-tokoh tersebut dibakar hidup-hidup beserta Alkitab terjemahan mereka. Coba bayangkan kalau dulu tidak ada tokoh-tokoh seperti mereka, kita tidak akan dapat membaca Alkitab dalam banyak terjemahan seperti sekarang ini, dengan adanya banyak terjemahan Alkitab kita dapat mengerti apa isi yang tertulis di dalamnya.
Ada banyak contoh yang membuktikan bahwa propaganda memang dapat mendiskreditkan kelompok agama tertentu, di wilayah Timur Tengah bentrokan antara Islam Sunni dan Islam Syiah sangat "berdarah" karena adanya propaganda dari masing-masing pemimpin kelompok tersebut, kedua kelompok tersebut saling membunuh dan membakar mesjid dari masing-masing kelompok. Di Indonesia kita pernah mendengar bagaimana kelompok Islam Ahmadiyah yang ditentang habis-habisan oleh kelompok Islam lainnya, sampai-sampai mesjid mereka dirusak, dilempari batu dan pengikutnya juga dianiaya karena adanya fatwa sesat. Kelompok agama lainnya misalnya yang menamakan dirinya Islam Liberal, kelompok ini ditentang keras oleh kelompok Islam mayoritas karena tulisan-tulisan mereka yang bersifat reformatif dan kritik terhadap Islam yang sudah mapan, dan kedepannya pun sepertinya mereka akan terus ditentang. Belum lama ini juga ada kelompok sekte yang menamakan dirinya Sekte Eden dengan pemimpinnya Lia Aminudin juga serang oleh massa dan ditangkap oleh aparat kepolisisan dan digiring ke penjara, jadi tidak hanya masyarakat umum yang dapat bertindak dengan kekerasan, bahkan aparat juga bisa melakukan tindakan keras seperti tadi. Walaupun ada beberapa alasan yang mendasari aparat untuk menindak kelompok agama tertentu namun bukankah alangkah baiknya mengedepankan dialog dan tukar pikiran daripada mengedepankan propaganda yang akan mendiskreditkan dan memojokkan kelompok tertentu dan bahkan dapat memancing tindakan anarkis dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

UUD pasal 29 ayat 1 dan 2 mengatakan bahwa hak azazi paling dasar seseorang adalah mempercayai agamanya sesuai dengan imannya, (berdasarkan kepada Bab XI tentang Agama pasal 29 UUD'45 yang berisikan, 1. Negara berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.), bahkan di India ada sekelompok orang yang menyembah tikus dan lembu saja tidak dianiaya oleh pemerintahnya selama tidak melakukan tindakan kriminal dan merusak. Saya tidak mengatakan bahwa semua sekte agama itu benar dan baik, memang ada sekte agama yang aneh, nyentrik bahkan sangat menyesatkan, tetapi yang saya kritik adalah cara mengatasi hal tersebut, andaikata pemerintah dan kaum ulama atau para cendikiawan agama mau menyadarkan "orang-orang sesat" tersebut tidakkah lebih bijak kalau dilakukan dengan cara persuasif dan dialog terbuka yang bersifat edukatif, informatif serta interaktif, bukankah kaum cendikiawan itu artinya orang-orang yang berilmu lalu mengapa tidak gunakan ilmu pengetahuan untuk diskusi dan tukar pikiran guna memutuskan kebenaran yang sejati, lain halnya kalau sekte tersebut melakukan tindakan anarkis dan kriminal, kalau demikian maka penguasa berhak menindak tegas mereka. Dulu juga pernah terjadi penganiayaan atas sekelompok agama Kristen Saksi-Saksi Yehuwa yang ditekan dan pengikutnya ditangkap atas tuduhan-tuduhan tertentu, pemerintah juga melarang organisasi ini di Indonesia karena desakan mayoritas denominasi Kristen, kelompok Saksi-Saksi Yehuwa ini dituduh oleh para pemimpin agama Kristen sebagai penyebar ajaran sesat, padahal jika kita membaca dengan seksama di situs resmi lembaga ini, apa yang sebenarnya mereka Percayai dan ajarkan berasal dari Alkitab yang juga dipercayai oleh seluruh pengikut agama Kristen. Sesuai dengan nama kelompok mereka Kristen Saksi-Saksi Yehuwa, mereka bersaksi tentang siapa itu Allah Yehuwa dan mengapa kebenaran tentang nama Yehuwa yang tertulis dalam Alkitab sepanjang sejarah telah dihilangkan dan ditutupi oleh para pemimpin agama Kristen, mereka juga menyingkapkan kebenaran bahwa Tuhan itu Esa bukan Tiga atau Tritunggal sesuai fakta tertulis dalam firman Alkitab dan sejarah kekristenan. namun kelompok mereka malah didiskreditkan karena berusaha menyingkapkan fakta-fakta tersebut. Itulah dampak berbahaya yang dapat ditimbulkan oleh sebuah propaganda. Adalah lebih baik mengedepankan dialog yang bersifat ilmiah secara intelektual dan logis untuk mencari kebenaran sejati ketimbang menyebarkan issue dan propaganda yang dapat menghancurkan intelektualitas manusia dan peradaban masyarakat, mengapa tidak buka forum diskusi terbuka diantara para cendikiawan agama jika terdapat ketidak-sesuaian pendapat diantara masing-masing sekte. Atau misalnya bikin forum debat terbuka dengan dasar saling menghargai pendapat kelompok lain yang minoritas untuk mencari kebenaran sejati.
Sekarang bagi kita masyarakat umum timbul pertanyaan. Apakah kita cenderung terlalu cepat percaya kepada propaganda tertentu ataukah kita lebih bijak dan smart menggunakan akal pikiran serta logika kita untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya ketimbang dengan gampangnya diprovokasi dan dipengaruhi untuk mempercayai propaganda tertentu yang ternyata dibaliknya ada unsur fitnah dan kepentingan tertentu? di sinilah potensi intelektualitas seseorang diuji.

7 comments:

Erik Tapan said...

Dear Pak Ronald,
Terus berkarya dan ditunggu karya yang lebih baru lagi.
Karya-karya Pak Ronald sangat menggigit.
Dengan bentuk tulisan yang panjang begini, sudahkah dipikirkan untuk dibukukan?

Salam,
Erik Tapan

Ronald T.Gultom said...

Terima kasih Pak Erik atas komentarnya yang membina,

Sebenarnya tulisan saya ini semata-mata hanya dari hasil riset terhadap banyak publikasi bacaan, buku-buku, majalah, dan exploring dari internet. Saya kaitkan itu semua dengan renungan saya pribadi. Jadi tidak murni suatu karya tulis ...bisa dikatakan hanya hasil oret-oret karena banyak merenung, itu saja, karena itu agaknya belum siap dibukukan. Berbeda dengan Dr.Erik yang sudah menulis banyak buku-buku ilmiah dan kedokteran.

Memang buat saya pribadi, kebenaran sejati itu mestinya hanya ada satu dan sifatnya absolute bukan relative, dan itu hanya dapat ditemukan apabila kita terus mencari, menggali dan belajar secara comprehensive, sehingga yang akan menemukan kebenaran itu semestinya kita sendiri, bukan "dicekokin" orang lain atau karena skala pengikut yang mayoritas dll. Itulah yang saya ingin tuangkan di dalam blog oret-oretan saya ini.

Salam hangat,
Ronald T. Gultom

papua said...

saya sangat di berkati dengan tulisan bapak. Dimana menjelaskan berbagai keburukan berbagai agama tanpa memilih maupun membedakannya.

dengan tulisan ini saya yakin, tidak akan ada yang namannya kecemburuan maupun iri hati. Tulisan yang sunggu sangat objektif, disertai dengan berbagai contoh atau fakta yang kogkrit.

salam kenal PAK
OKTO PAPUA

www.pogaufree.blogspot.com

Ronald T.Gultom said...

Hallo my brother nun jauh di Nabire, Papua sana.

Salam kenal, saya senang bertambah satu lagi kenalan saya dari bagian timur indonesia.

Saya sempat intip blog anda, namun belum sempat baca semua tulisan-tulisan anda di blog tersebut. Namun walaupun sekilas saya dapat melihat dari tulisan anda bhw anda memang seorang pelajar yang cerdas.

Terus berkarya my brother.

Anonymous said...

I wish not agree on it. I assume nice post. Especially the title-deed attracted me to study the whole story.

Anonymous said...

Genial dispatch and this mail helped me alot in my college assignement. Say thank you you for your information.

Anonymous said...

Well I to but I think the list inform should secure more info then it has.