07 October 2006

Dilematis Antara Relative & Absolute

Pernahkah anda iseng - iseng mencoba mencocokkan waktu yang tertera pada jam tangan anda dengan semua jam tangan orang lain yang ada di kantor anda, atau diantara teman-teman anda yang lain? adakah yang persis sama waktunya? Atau kalau anda mungkin tidak pernah pakai jam tangan coba cocokkan jam di handphone anda dengan handphone teman-teman anda, apakah ada yang yang cocok waktunya secara detail (persis sama jam, menit dan detiknya). Saya berani mengatakan bahwa sangat sulit sekali untuk menemukan waktu yang persis sama antara jam kita dengan jam orang lain. Andaikata timbul pertanyaan “manakah jam yang benar dan akurat?” apakah kita bisa yakin bahwa jam kitalah yang benar sedangkan jam orang lain itu salah? Coba bayangkan ada jutaan bahkan mungkin milyaran jumlah jam tangan, jam dinding, jam handphone, jam komputer dan jam-jam lainnya di dunia ini yang tidak persis sama menitnya atau detiknya satu dengan yang lainnya. Namun demikian tidak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya ada standard waktu yang telah ditetapkan secara international untuk seluruh dunia sehingga setiap alat penunjuk waktu harus mencocokkannya agar mendapatkan waktu yang tepat sesuai standard. Akan tetapi kenyataannya setiap orang pasti akan berpegang terhadap waktu yang tertera di jam yang dipakainya tidak soal sesuai standard waktu atau tidak, bisa karena dia yakin bahwa jamnya benar sedangkan jam orang lain salah, bisa karena tidak begitu peduli, bisa juga karena tidak menemukan standard jam yang benar-benar cocok untuk dijadikan patokan waktu, bukan karena tidak ada standard waktu yang absolute melainkan karena kebanyakan orang yang malas mencocokkan jamnya dengan standard waktu tersebut, karena sebenarnya ada standard waktu yang baku yang telah ditetapkan sebagai sinkronisasi jam di dunia ini, tinggal berpulang ke kita masing-masing apakah kita mau mencocokkan atau tidak.

Seperti itulah kira-kira berkenaan dengan agama, ada begitu banyak agama dan sekte-sekte di dunia ini, dan bisa dikatakan bahwa ajaran atau doktrin dari setiap agama-agama tersebut tidak ada yang sama persis walaupun secara umum semua agama mengajarkan kebaikan namun jika dikaji secara detail pasti ada perbedaan doktrin di dalamnya (sama seperti jam-jam yang dikenakan semua orang di dunia ini yang tidak persis sama menit dan detiknya). Setiap orang yang menganut agama dan sekte tertentu pasti dengan yakin akan mengatakan bahwa agamanya yang benar sedangkan agama yang dianut orang lain salah dan sesat. Namun demikian di sisi lain ada juga orang yang memiliki pandangan liberal dengan bernalar bahwa kebenaran agama adalah bersifat relatif tidak absolute, mereka mengatakan bahwa semua agama sama-sama menuju jalan yang benar. Bagaimana menurut pendapat anda? Jika dibuat semacam survey terhadap orang-orang di dunia ini tentang agama yang dianutnya pasti akan begitu beragam pendapat dan pandangan hidup dari mereka. Mungkin ada yang apatis atau acuh-tak-acuh, skeptis atau ragu-ragu, fanatik, fundamental, pasrah mengikuti agama leluhur atau faktor keturunan, liberal, moderat, dan masih banyak lagi paradigma orang-orang di dunia ini jika terkait dengan agama. Akan tetapi bagaimanapun juga, tidakkah berkenaan agama sepantasnyalah hanya ada satu standard kebenaran yang ditetapkan okeh sang pencipta Tuhan yang maha kuasa, jika Tuhan memang pribadi yang maha tertib dan maha teratur?

Ada satu hal yang menjadi bahan renungan saya pribadi yang ingin saya share kepada anda. Mungkinkah semua agama itu benar? Tidakkah semestinya hanya ada satu saja agama yang benar? jika memang ada Tuhan mungkinkah Dia tidak menetapkan standard yang absolute berkenaan dengan agama mana yang benar sebagai satu-satunya sarana untuk dapat beribadat kepadanya? Sebagai ilustrasi, pemimpin manusia saja memiliki standard protokoler apabila ada tamu yang hendak menghadap kepadanya, katakanlah misalnya seorang raja. Mungkinkah raja tersebut akan menerima tamunya yang tidak hormat masuk ke istana raja dengan memanjat tembok istana menggunakan tali dan memakai topeng agar tidak dikenal? Sudah pasti pengawal raja akan menangkap tamu yang tidak hormat tersebut bukan? Coba kita perhatikan hal lain misalnya di dalam perusahaan ada yang namanya SOP (Standard Operational Procedure), ada juga yang namanya ISO (International Standard Organization). Orang menetapkan suatu standard adalah agar supaya segalanya berjalan dengan tertib, teratur, sistematis dan tidak kacau balau. Manusia saja memiliki standard yang baku, tidakkah selayaknya Tuhan sang pencipta yang maha cerdas memilik standard yang jelas dan baku juga yang ditetapkan kepada umat manusia untuk dapat beribadat kepadanya? kita bisa lihat dari ciptaanNya, ciptaan Tuhan jelas sekali me-representasikan sifat dan karakter dari penciptanya yaitu Tuhan, semua ciptaanNya maha teratur, maha rapih dan maha tertib, saya ambil beberapa contoh saja misalnya tata surya kita, ada sembilan planet yang diketahui oleh para ahli antariksa mengelilingi matahari secara teratur mengikuti garis lingkaran orbit didalam tata surya dan urutan orbit tersebut tertata dengan begitu rapih, salah satu planet di tata surya tersebut adalah bumi tempat kita hidup, bumi mengelilingi matahari pada orbit yang sama dari dulu sampai sekarang dan tidak pernah melenceng sedikitpun dari orbitnya, kita bisa bayangkan jika bumi posisi orbitnya mendekat atau menjauh dari matahari sedikit saja maka akan berdampak sangat serius pada iklim dan cuaca di bumi, atau andaikata bumi mengelilingi matahari dengan kecepatan yang tidak menentu maka jumlah hari-hari, bulan-bulan dan tahun-tahun akan kacau balau.

Saat ini ada begitu banyak kekacauan dan ketidak teraturan dalam hal agama baik dari segi doktrin maupun umat, bahkan agama telah menjadi sarana perpecahan, pertikaian bahkan pembantaian. Banyak orang membunuh atas nama agama, menyakiti orang lain karena doktrin yang diajarkan agamanya. Saya yakin hanya masalah waktu saja Tuhan masih belum bertindak menghakimi kekacauan dalam agama-agama di dunia ini. Tidakkah Tuhan di atas sana menginginkan hanya ada satu saluran unik untuk dapat sampai kepadanya dalam hal ibadat dan doa? Sebagaimana halnya dengan ilustrasi jam tadi bahwa sebenarnya ada standard waktu yang telah ditetapkan yang bisa menjadi patokan dari jam yang dikenakan oleh orang-orang di dunia ini yang memang mau mencocokkan waktu jamnya. Dalam dunia komputer ada yang dinamakan dengan istilah
Atomic Clock, dimana setiap orang yang ingin agar jam di komputer mereka uptodate sinkron dengan standard jam dunia maka mereka bisa otomatis mencocokkannya dengan server di atomic clock, bagi anda yang ingin mencocokkan waktu di jam komputernya bisa click di sini.

Kalau boleh saya jabarkan dan simpulkan secara logika akal budi mengenai agama maka kita sebenarnya dihadapkan kepada pilihan-pilihan sebagai berikut, khususnya jika anda sedang mencari kebenaran sejati, pilihan tersebut adalah sbb:

1. Semua agama benar
2. Semua agama salah
3. Ada banyak agama yang benar dan ada banyak agama yang salah (50% : 50%)
4. Semua agama benar dan hanya satu agama saja yang salah
5. Hanya ada satu agama yang benar sedangkan semua agama lainnya salah

Jika anda dihadapkan kepada pilihan di atas, yang mana yang akan saudara pilih? Kalau saya pribadi saya sudah pasti akan memilih pilihan nomor 5. “Hanya ada satu agama yang benar”. Karena saya yakin bahwa Tuhan sang pencipta pastilah maha tertib dan maha teratur, tidak mungkin Dia membiarkan kekacauan di dunia ini karena agama, hanya masalah waktu saja bahwa pada saatnya nanti Tuhan akan bertindak pada hari penghakiman (Armagedon atau Kiamat) dan akan menunjuk satu agama yang benar tersebut sebagai satu-satunya yang terbukti menjadi sarana unik sebagai saluran ibadat kepadaNya. Agama apakah itu??? saya mengundang anda untuk mencari, menggali dan menyelidikinya jika anda memang merasa belum menemukannya dan anda memang berniat mencari kebenaran sejati, namun jika anda sudah yakin betul bahwa agama yang anda anut sekarang ini adalah agama yang benar maka kita hanya tinggal menunggu hari penghakiman saja di mana Tuhan kelak akan menentukan dan memberikan bukti kepada semua umat manusia di bumi ini berkenaan agama mana sebenarnya yang layak dan berkenan kepadaNya.

17 comments:

zhen said...

Hi Ronald ,
Just wanna comment
bagaimana anda bisa menggunakan logika anda utk berpikir di pihak Tuhan / Pencipta .
Anda memilih hanya 1 agama yg benar - ini atas dasar apa ? Apa karena atas dasar renungan dan banyaknya buku yg anda baca dan galian Pengetahuan pikiran ?
Saya mgkn sama dengan kebanyakan org tidak tahu mana yg benar , tetapi hanya dengan menggunakan pengetahuan kita yg terbatas utk menjudge itu sangat lah
jauh dari jalan kebenaran.
Jika dlm perumpamaan Raja di cerita Anda mungkin itu bisa kita bisa bahas karena masih dalam sudut pandang manusia .
Idealnya seorang Raja adalah melihat dunia yg damai dimana org saling menghargai, Rasa damai dan Tentram.

Raja yg arif tidak akan senang jika semua org memujanya jika Negaranya kacau kecuali Raja yg Arogant. Jadi daripada anda berpikir dgn otak yg terbatas
alangkah baiknya jika anda lebih banyak memberikan kebahagiaan kepada org lain , seperti membantu org , menyadarkan org dari kebodohan , dan lain sbgnya
Yg saya setuju adalah jika seseorang adalah penganut agama tertentu hendaknya dia membersihkan hati dan ego lewat disiplin dan membantu org
membersihkan hati dari ego dan memberikan teladan lewat tindakan bukan Argumen.
Mengenal Pencipta bukannya seperti PEMILU utk memilih satu pemimpin yg ditawarkan lewat Kampanye Kampanye ....
Mengenal Pencipta adalah dgn menghargai ciptaannya yakni diri kita , dan mengenal diri kita dan menghilangkan ego dan memberi kontribusi di dunia ini secara
nyata, Pengakuan hanyalah satu pengakuan saja tidak memberikan ketentraman melainkan hanya memberikan kekacauan saja bagi sesama.
Regards
Zhen

Ronald T.Gultom said...

Hallo brother Zhen, salam kenal,

Thanks atas komentar anda, namun sayangnya sepertinya anda agak salah persepsi dalam memahami tulisan saya, mungkin karena anda hanya membaca sebagian saja dan tidak membaca keseluruhannya secara seksama?

Dalam tulisan saya tersebut tidak ada unsur atau nada penghakiman terhadap agama apapun, bahkan juga tidak menunjukkan mana agama yang benar dan mana agama yang salah, saya hanya mengajak para pembaca untuk ikut berpikir dan merenung, yang saya tulis hanyalah hasil renungan saya tentang eksistensi dari kebenaran absoluted yang semestinya hanya ada satu saja. Renungan ini mencapai titik kulminasi setelah mengalami proses pencarian, exploring yang cukup panjang dalam kehidupan pribadi saya yang tentunya tidak perlu saya jelaskan di sini panjang lebar. Dan saya mengajak para pembaca untuk ikut berpikir dan merenung, soal benar atau salah tentunya pada akhirnya akan berpulang kepada sang pencipta, perhatikan bagian akhir dari tulisan saya.

Mengapa saya katakan bahwa semestinya kebenaran itu hanya ada satu saja? Tidakkah anda mengamati apa yang terjadi di dunia ini sepanjang sejarah peradaban manusia sampai saat ini? Ada begitu banyak kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan atas nama agama. Kalau anda pernah membaca sejarah dari perang salib, sejarah inquisition, perang badar kubra , perang uhud, perang khandaq dan begitu banyak lagi perang-perang lain atas nama agama, belakangan ada pembantaian etnis Yahudi oleh Nazi dibawah pimpinan Adolf Hitler yang direstui oleh vatikan katolik Roma. Perang-perang dunia di negara-negara Eropa dan Amerika yang notabene juga direstui oleh para pemimpin agama. Di Indonesia saja anda tentu pernah mengetahui bagaimana sekelompok orang yang rela mati dalam bom bunuh diri untuk membantai orang-orang seperti yang terjadi di Bali, juga perang antara agama di Ambon, Palu, Poso, dan masih banyak lagi yang lain. Kemanakah perginya “power” moralitas dan kasih dari agama-agama tersebut ketika semua kejahatan itu terjadi?

Coba anda jawab, adakah organisasi agama yang melarang umatnya untuk menjadi tentara militer dan berperang? coba bayangkan jika di seluruh dunia tidak ada pasukan militer, tidakkah akan terjadi perdamaian dan keamanan? jutaan orang dibunuh dan membunuh hanya karena perbedaan kepentingan politik atau perbedaan kepentingan nasionalnya, dan “power” agama seolah-olah telah kehilangan wewenangnya terhadap umat manusia dan bahkan tidak berkuasa sama sekali untuk mencegah terjadinya pembantaian keji tersebut sepanjang sejarah umat manusia. Di manakah kekuatan moral dari agama itu pada saat terjadinya pembantaian berdarah terhadap jutaan orang yang terdiri dari anak-anak, orang tua, wanita, dan banyak orang yang tidak tahu apa-apa. Di manakah “suara lantang” para pemimpin agama dan para cendikiawan agama yang seharusnya mengkritisi bangsa-bangsa yang saling membunuh pada saat peperangan tersebut berlangsung? Tidakkah kitab suci agama mengajarkan perdamaian, kebaikan, kasih sayang dan cinta kasih? Ataukah memang kitab suci tertentu mengajarkan peperangan dan kebencian? organisasi agama manakah yang secara konsekuen dan konsisten menjalankan ajaran yang tertulis di dalam kitab sucinya sehubungan dengan cinta kasih?

Tidakkah anda merasakan hal yang sama jika anda melihat fakta yang ada di dunia ini, baik fakta yang anda amati dari sejak anda lahir sampai saat ini, maupun dari buku-buku sejarah, encyclopedia dan lain2 jika memang anda suka membaca. Karena itu pasti ada something wrong dengan agama-agama yang ada di dunia ini, dan itu menuntut pengkajian dari kita. Sebenarnya agama bukanlah sekedar suatu kepercayaan tertentu, agama adalah suatu organisasi atau institusi yang terdiri hirarki kepemimpinan dari manusia-manusia tertentu, dogma atau doktrin tertentu dsb. Andaikata dikatakan agama tidak bertanggung jawab terhadap sejarah kekejian umat manusia sepanjang sejarah sebenarnya hal itu tidaklah tepat, namun kalau dikatakan bahwa kitab suci dan ajarannya tidak bertanggung hal ini mungkin bisa benar. Sebab bisa jadi kitab suci tidak mengajarkan pembantaian keji manusia namun pemimpin agama saja yang mengajarkannya kepada pengikutnya. Lain halnya kalau ternyata ada kitab suci juga mengajarkan peperangan dan pembantaian, sebab ada juga kitab suci yang menghalalkan pembantaian terhadap orang kafir (saya bisa buktikan kepada anda tentang hal ini)

Belum lagi dengan masa-masa kegelapan rohani dari agama-agama sepanjang sejarah, kalau anda pernah baca sejarah renaisanse sampai ke abad reformasi kristen, ada begitu banyak tokoh-tokoh reformis muncul ke permukaan karena terjadinya penyimpangan di dalam agama Kristen pada waktu itu. Apakah anda senang membaca? jika demikian coba anda baca-baca sejarah Kekristenan, sepanjang sejarah agama Kristen pernah melalui masa kegelapan rohani, berabad-abad yang lalu Kekristenan telah diwarnai oleh banyaknya “peleburan filosofi dan budaya kafir ke dalam agama Kristen” - ini yang disebut dengan istilah Sinkretisme, hal tersebut mengakibatkan munculnya para reformis Kristen yang dengan tulus ingin kembali mengajak para penganut Kristen untuk kembali ke ajaran yang murni Alkitab, sebut saja nama-nama mereka misalnya Arius, John Wycliff, William Tyndale, Martin Luther dan masih banyak lagi.

http://en.wikipedia.org/wiki/William_Tyndale
http://en.wikipedia.org/wiki/John_Wycliffe
http://en.wikipedia.org/wiki/Arius.

Namun ironisnya mereka mati dibunuh dan disiksa, atau dikejar-kejar menjadi buron justru atas restu dan perintah dari pemimpin agama Katolik, http://en.wikipedia.org/wiki/Inquisition. Hanya karena mereka tulus ingin kembali ke ajaran murni dari Alkitab. Saya punya Encyclopedia lengkap, jika ingin pinjam dan melihat fakta-fakta sejarahnya.

Anda mengatakan dalam komentar anda “alangkah baiknya jika saya lebih banyak memberikan kebahagiaan kepada org lain , seperti membantu org , menyadarkan org dari kebodohan , dan lain sbgnya”. Tentu hal ini penting dilakukan dan saya tidak perlu menulis dalam blog saya kebaikan apa saja yang pernah dan telah saya lakukan terhadap orang lain sepanjang hidup saya, karena hal itu sepertinya hanya mencari popularitas pribadi, biarlah Tuhan saja yang tahu tentang kebaikan setiap orang terhadap sesamanya, tidak perlu digembar gemborkan.

Satu hal yang saya ingin katakan kepada anda, “kebaikan” dan “kebenaran” adalah dua hal yang berbeda. Kebenaran tidaklah sekedar kebaikan, sebagai ilustrasi : orang atheis yang tidak percaya Tuhan pun banyak yang berbuat baik, orang Rusia dan RRC dulu yang kebanyakan penganut ateisme apakah mereka otomatis orang jahat? tidak juga....banyak dari mereka adalah orang-orang baik yang banyak mengabdi kepada masalah sosial dan membangun untuk negara serta kemanusiaan.

Namun esensinya bukanlah sekedar masalah berbuat baik .....tetapi melakukan kebenaran, dan untuk itu perlu pengetahuan dan penyelidikan. Ada yang mengatakan bahwa semua agama mengajarkan kebenaran, kalau menurut saya yang tepat semua agama mengajarkan kebaikan bukan kebenaran. Jadi kebenaran posisinya berada di atas kebaikan.

Contoh: Robin Hood ......apakah dia orang baik? ya bagi orang miskin yang mendapat hasil jarahan dia, Robin Hood adalah orang baik bagi orang miskin, namun bagi orang kaya yang dirampok oleh Robin Hood dia adalah orang yang jahat dan kejam. Nah inikan ada dua sudut pandang, lalu bagaimana menyelesaikannya - yaitu menggunakan kebenaran fundamental yaitu bahwa "mencuri itu adalah tindakan yang salah", jadi singkatnya kebenaran mutlak hanya satu saya, tetapi kebaikan itu sifatnya relative.

Salam damai,
Ronald T. Gultom

zhen said...

hi comment back ;)
yg saya tangkap dari tulisan adalah berikut
"Kalau saya pribadi saya sudah pasti akan memilih pilihan nomor 5. “Hanya ada satu agama yang benar”"
dari yg anda comment
"bahkan juga tidak menunjukkan mana agama yang benar dan mana agama yang salah" berarti mgkn ada kesalahan penulisan pada pertamanya , then it is my apology also karena telah salah persepsi atas pemikiranmu (bukan tulisanmu)


Saya setuju ttg kebenaran hanya satu , dan absolutely kebaikan di atas kebenaran karena kebaikan hanya satu sifat , tetapi yg ingin saya tanya apakah "kebenaran adalah agama" ?
anda menulis :
"kalau menurut saya yang tepat semua agama mengajarkan kebaikan bukan kebenaran."
Sejujurnya saya sangat bingung, Jadi fungsi agama itu apa ? kebaikan atau kebenaran ? trus kalo cuman kebaikan kenapa dijadikan acuan karena kebenaran di atas agama.

jika boleh saya berumpama, ini mungkin satu kebodohan jika saya salah .
Jika saya melihat Agama = Bela diri,
Tidak ada yg bisa bilang Bela diri mana lebih superior daripada yg lain.
Pada pertamanya semua bela diri belajar set of form, pada tahap ini ada yg akan compare form bela diri yg ini dgn yg itu utk mencari mana yg mempunyai teknik lebih baik.
tetapi itu hanya fase pertama utk mengenal saja. sbgian org terlena dgn personifikasi seseorang seperti bruce lee, org mau belajar dan seperti dia, tetapi bruce lee hanyalah 1 saja. bahkan prinsipnya jg di ambil dari hukum alam, tetapi bisa di manipulasi oleh dia (bukankah ini sama saja)
Tahap berikutnya adalah dengan menyatukan hati, pikiran dan tubuh.
jika sudah mencapai tahap ini , form tidak lah diperlukan lagi , bahasa alam hanya satu "tanpa konflik dan pertentangan" makanya Beladiri menjadi Do = "the way " di jepan , menjadi jalan hidup.
di bela diri Jepang dan Cina , para praktisi tidak perlu bertarung utk mencari siapa yg terbaik, dgn melihat / menyentuh saja bahkan dari goresan Kuas saja bisa diketahui kemampuan ilmu seseorang.
Bukankah ini lah jalan kedamaian yg diimpikan ?

Ronald T.Gultom said...

Hi Bro, senang diskusi dengan anda.

Tepat sekali apa yang Zhen tangkap dari tulisan saya, "Kalau saya pribadi saya sudah pasti akan memilih pilihan nomor 5. “Hanya ada satu agama yang benar”". Tapi saya tidak tulis agama apa yang benar itu kan?

Ya memang, itulah fakta yang seharusnya kita pilih, karena semestinya memang hanya ada satu saja agama yang benar, tapi saya tidak tulis apa nama agama yang benar itu. Saya mengajak para pembaca utk mencarinya sendiri, yang pasti harusnya memang cuma hanya ada satu kebenaran absolute jika memang Tuhan itu ada, jika tidak maka untuk apa beragama, dan untuk apa percaya Tuhan?

Kalau semua agama itu benar, berarti hari ini kita bisa ke mesjid, lalu besok kita ke gereja, lalu lusa kita ke klenteng, minggu depan kita nyembah patung-patung atau mungkin bikin upacara pengorbanan manusia kepada dewa-dewa dan hantu-hantu, kalau toh semua agama dan kepercayaan itu benar. Atau mungkin kita bisa bikin tatacara shalat lima waktu di gereja kristen, why not? kalau semua agama benar dan sah-sah saja bikin kebenaran sendiri maka segala hal bisa dilakukan bukan? Tapi kan tidak mungkin hal itu bisa diterapkan, iya kan?

Itulah yang saya maksudkan dalam tulisan saya bahwa semestinya tatacara ibadat kepada Tuhan itu harus ada satu standard yang benar, nggak bisa seenaknya menentukan kebenarannya sendiri. Sama halnya ilustrasi uang, ada uang palsu, dan kelihatan sekilas uang palsu itu mirip dengan uang asli, tapi tidak bisa dipungkiri hanya ada satu uang asli dan kita bisa teliti mana uang asli dan mana uang palsu (diraba, diterawang, atau menggunakan alat deteksi uang palsu). Dan setiap orang yang memalsukan uang akan kena hukuman berat dari pengadilan.

Demikian juga dengan agama, sebenarnya kita juga bisa bedakan mana agama palsu dan mana agama yang sejati. Dan setiap agama palsu kelak akan menerima penghakiman dan pengadilan oleh Tuhan (sama seperti pemalsu uang palsu dalam ilustrasi tadi)

Itulah sebabnya ada begitu banyak orang yang kecewa dengan agama sehingga lari kepada filsafat sekuler, lari ke science, lari ke ilmu spiritual mistic, atau kepada ilmu-ilmu beladiri, atau ironisnya ada yg menjadi atheis dan agnostic. Bahkan ada yang berTuhankan tokoh-tokoh music dll.

Karena itulah saya mengajak para pembaca tulisan saya utk merenung apakah memang sudah tidak ada lagi kebenaran yg absolute yg bisa kita jadikan pegangan selama hidup sampai kita mati? ataukah memang ada?


Salam damai,
Ronald T. Gultom

zhen said...

Hi there ,
akhirnya saya bisa secara tegas tahu apa yg anda maksudkan
"karena semestinya memang hanya ada satu saja agama yang benar, tapi saya tidak tulis apa nama agama yang benar itu." dgn tidak menulis nama agama pun saya kira org yg baca bisa menebak mana yg anda maksud.

Saya kira anda cukup kritis dan org yg banyak merenung , Sayangnya di mata anda tidak berusaha memahami agama / ajaran lain, atau mungkin begitulah anda di ajarkan.

" Kalau semua agama itu benar, berarti hari ini kita bisa ke mesjid, lalu besok kita ke gereja, lalu lusa kita ke klenteng, minggu depan kita nyembah patung-patung atau mungkin bikin upacara pengorbanan manusia kepada dewa-dewa dan hantu-hantu, kalau toh semua agama dan kepercayaan itu benar."

anyway tks for the feedback

Regards
Zhen

Ronald T.Gultom said...

Dear Zhen,

Tulisan saya hanya bertujuan utk mengajak para pembaca merenung, berpikir dan senang menyelidiki apa itu kebenaran sejati. Istilah Kebenaran merupakan jargon umum yang semua orang pasti sering dengar namun berbeda-beda dalam interpretasi dan persepsi. Tulisan saya tidak bertujuan untuk adu kuat-kuatan ilmu, tidak juga bertujuan untuk berdebat dan mencari kemenangan dalam perdebatan. Jadi jauh dari konsep petarung dalam ilmu kungfu yang adu kekuatan dan kehebatan dalam bertarung. Diskusi tentang kebenaran harus didasari atas motivasi untuk mencari fakta dan bukti, layaknya detektif yang sedang membongkar suatu kasus pelik yang sulit dibuktikan benar salahnya.

Anda mengatakan: "Sayangnya di mata anda tidak berusaha memahami agama / ajaran lain, atau mungkin begitulah anda di ajarkan". Ini adalah pendapat yang keliru sekali dari anda terhadap saya, justru karena setelah menyelidiki agama-agama yang ada di dunia inilah maka saya mencapai satu kesimpulan bahwa semestinya hanya ada satu saja agama yang benar dan yang lain adalah agama palsu, dan saya bisa buktikan itu bukan semata dari logika berpikir saya, melainkan dari banyaknya fakta-fakta serta bukti-bukti sepanjang sejarah eksistensi agama-agama tersebut. Sama halnya ilustrasi uang asli dan uang palsu, setiap orang sanggup membuktikan mana uang asli dan mana uang palsu asalkan orang tersebut punya motivasi untuk membuktikannya.

Sekali lagi saya tidak suka berdebat untuk cari menang seperti petarung kungfu, tujuan saya hanya untuk sharing informasi dari fakta-fakta yang saya pelajari dan saya ketahui, jika ingin memberikan sanggahan terhadap informasi saya maka kumpulkanlah juga fakta-fakta yang realistis, informatif dan dapat diterima kebenarannya. Saya senang sekali menerima informasi dari anda yang faktual, comprehensive dan bermanfaat. Jangan menyerang pribadi saya, tapi seranglah fakta informasi yang saya bagikan tersebut dengan informasi dari anda yang juga bersifat edukatif dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Thanks and warm regards,
Ronald T. Gultom

zhen said...

Hi there ,
senang jg bisa ketemu org seperti kamu.
Saya mungkin tidak sedetail anda mencari fakta dan bukti , karena saya dlm memahami hal kebenaran tidak memakai logika semata, karena saya tau logika sangat terbatas.
maksud saya fakta memang perlu tapi bukan segalanya.

dari tulisan anda, berumpama
"Tulisan saya tidak bertujuan untuk adu kuat-kuatan ilmu, tidak juga bertujuan untuk berdebat dan mencari kemenangan dalam perdebatan. Jadi jauh dari konsep petarung dalam ilmu kungfu yang adu kekuatan dan kehebatan dalam bertarung."

Dari yg saya tulis , saya tidak menghadirkan agama manapun utk bertarung / berdebat dgn anda. Jadi perdebatan apa yg anda maksud ?
saya kira anda tahu hal ini .
dan sekedar menambahkan dari apa yg anda tidak tau.
Di tulisan saya terdahulu saya berusaha mencoba menggariskan apa yg saya maksud lewat perumpamaan beladiri karena saya mencoba mengajak menyelam kepada bagaimana satu proses beladiri itu mulai dan berakhir .

Saya menulis ttg Martial art menjadi Do atau the way itu sangat lah jauh dari bertarung yg anda maksudkan.
siapa yg kuat, siapa yg menang ?
Inilah adalah MIndset yg ada dipikiran org yg tidak mengenal Martial art atau masih di level awal.

Pada Intinya saya bisa mencoba menutup dgn begini :
Religius dan Spiritual itu berbeda.
Tujuan Religius adalah menuju Ke Spritual ( Jika Anda Setuju )
Jika Tujuannya sama ke Spiritual, mengapa harus memperdebatkan agama mana yg benar dan salah ?
karena Agama / Kitab Suci itu adalah salah satu Pintu Masuk ke Dunia Spiritual.
Jika anda merasa Pilihan Agama anda paling benar, bukankah jg org lain merasa agama mereka adalah paling benar ? Jika mau digali faktanya saya rasa banyak yg jg bisa berdebat dgn anda ttg fakta, tetapi what's the point in that ? hanya memicu perdebatan suatu fakta dan ego saja.
tetapi karakter dan cara pikir tiap org berbeda , mungkin kita tidak bisa klop karena cara pikir yg berbeda. Tetapi jika bisa saling mengerti bukan kah akan lebih bermanfaat anda menjelaskan apa kebaikan yg bisa dipelajari di agama anda dan diterapkan utk semua org karena yg penting adalah esensi dan pengamalannya, tetapi bukannya dengan memaparkan bukti bahwa agama anda adalah satu satunya yg paling benar.
Tetapi jika anda masih ingin memaparkan fakta yg telah anda kumpulin bak seorang detektif.
Bolehkah saya tau apa saja fakta yg membuktikan bahwa agama lain adalah palsu dan hanya agama anda yg benar ?

Regards
Zhen

Ronald T.Gultom said...

Dear Zhen, thanks atas argumen anda,

Mohon maaf jika ada kata-kata dalam tulisan saya yang menyinggung perasaan anda ataupun para pembaca yang lain. Sebenarnya kita hanya berbeda perspective saja dalam memandang kehidupan dan memandang konsep kebenaran, disamping itu kita berdua mungkin memiliki “Level of Consciousness” yang berbeda dalam melihat sisi-sisi kebenaran dalam segala corak kehidupan kita masing-masing.

Jika anda membaca posting-posting saya yang lain di dalam blog saya ini, maka anda akan dapat melihat apa sebenarnya esensi dasar dari pandangan pribadi saya berkenaan kebenaran serta seperti apa sih sebenarnya paradigma yang saya tawarkan kepada para pembaca dalam memandang kebenaran itu.

Kalau anda minta saya untuk mengatakan agama apa yang benar dan agama apa saja yang palsu, maka sekali lagi saya katakan itu harus melalui penyelidikan yang panjang, dan saya tidak akan menjabarkan hal itu dalam blog ini. Saya juga tidak mengatakan secara eksplisit bahwa agama yang saya anut adalah benar, karena pembuktian benar salahnya suatu agama harus melalui proses yang panjang, seperti perumpamaan saya sebelumnya tentang detektif yang sedang menyelidiki suatu kasus.

Tapi agar anda dapat memahami maksud tulisan saya terdahulu, saya akan uraikan beberapa pertanyaan yang semestinya dapat dijawab oleh kitab suci serta agama yang mengaku benar, kalau tidak bisa dijawab dengan memuaskan maka kebenaran dari agama itu patut dipertanyakan.

1. Apakah memang Tuhan itu ada? Jika ada di manakah dia berada? Apakah agama dan kitab suci bisa membuktikan kepada manusia bahwa Tuhan memang ada? Apakah Setan dan Hantu-Hantu itu ada, jika ada siapa yang ciptakan Setan, dan untuk tujuan apa Setan diciptakan?

2. Apakah manusia itu ciptaan Tuhan? Bukankah para ahli atau ilmuwan berpendapat bahwa manusia itu berasal dari proses evolusi tanpa penciptaan (Teori Darwin)? Bagaimana agama dan kitab suci dapat membuktikan bahwa manusia dan segala mahluk hidup di bumi ini merupakan ciptaan Tuhan?

3. Kalau memang Tuhan itu pencipta, lalu apa tujuan Tuhan menciptakan manusia dan mahluk hidup lainnya di bumi ini? Dan apa tujuan Tuhan menciptakan alam semesta ini? Apakah memang tidak ada sama sekali maksud tujuan tertentu atau dengan kata lain Tuhan hanya iseng-iseng saja mencipta?

4. Apakah memang tujuan dari Tuhan untuk menciptakan manusia dengan kondisi seperti sekarang ini, hidup menderita lalu kemudian mati? Mengapa manusia umurnya pendek sedangkan binatang ada yang umurnya samapai 400 tahun seperti kura-kura, pohon saja umurnya mencapai 1200 tahun seperti pohon sekoya dll.

5. Jika manusia mati kemana ia pergi? apakah memang benar arwah orang mati itu gentayangan dan bisa gangguin orang hidup? Apakah benar arwah orang mati itu akan ke surga atau ke neraka? Apakah orang mati sudah tidak punya harapan apa-apa lagi?

6. Apakah benar bahwa orang-orang jahat itu akan disiksa selama-lamanya di api neraka hidup-hidup? Bahkan beberapa agama mengajarkan bahwa di neraka orang akan disayat-sayat, diseterika, dibakar hidup-hidup selamanya, apakah benar demikian? Tidakkah Tuhan itu maha adil, maha pengasih dan maha bijaksana? Manusia yang beradab saja tidak akan tega menyiksa orang jahat sekalipun, hukuman paling berat adalah hukuman mati. Apakah Tuhan itu lebih kejam daripada manusia?

7. Apa persisnya api neraka itu? Di manakah lokasi api neraka itu? apakah memang Tuhan telah membangun dan mempersiapkan api neraka sebagai tempat siksaan manusia, sama seperti Hitler mempersiapkan kamp konsentrasi untuk menyiksa para tawanan politiknya?

8. Jika Tuhan itu memang ada, mengapa Dia membiarkan begitu banyaknya penderitaan manusia di bumi ini? Mengapa Dia tidak menyelamatkan manusia dari penderitaan?

9. Mengapa ada begitu banyak penderitaan manusia di bumi ini (penyakit, kemiskinan, kejahatan, moralitas yang semakin merosot, peperangan, kebencian atas dasar ras/etnic/agama, bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tsunami, gunung meletus, polusi udara dan air, dll). Mengapa Tuhan seolah santai-santai saja di atas sana, dan tidak bertindak untuk membantu menyelesaikan problem-problem tersebut, tidakkah Ia maha kuasa dan maha pengasih?

10. Kalau memang Tuhan itu maha kuasa dan maha pengasih tentunya dia akan sanggup menyelesaikan semua problem umat manusia di bumi ini (karena itulah yang dikatakan oleh para pemimpin agama), lalu jika demikian kapan hal itu akan Dia laksanakan? Apakah masih lama lagi?

Kalau kita mau jujur dan dengan rendah hati mengakui, sebenarnya ada begitu banyak pertanyaan-pertanyaan lain lagi yang tidak diketahui jawabannya secara memuaskan oleh orang-orang di seluruh dunia. dan bahkan ada banyak agama yg juga tidak sanggup menjawab pertanyaan tersebut secara memuaskan. Nah akhir kata dari saya, agama yang benar harus sanggup menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tersebut.


Salam,
Ronald T. Gultom

zhen said...

Hi again,

akhirnya perdebatan ini akan makin mendalam.
sblmnya saya jg tidak sempat membaca semua postingan anda , ada bbrp yg saya baca dan memang kesimpulannya anda berbakat jadi penulis ;)

dari tulisan anda saya sbnarnya berharap anda lebih "berani" untuk mengatakan hitam ataupun putih, karena seseorang yg berada pada sisi "abu-abu" akan sangat susah untuk di ajak berbincang , soalnya ini saya tangkap pada kalimat berikut ini :

"Saya juga tidak mengatakan secara eksplisit bahwa agama yang saya anut adalah benar, karena pembuktian benar salahnya suatu agama harus melalui proses yang panjang."
Benar atau Tidak adalah hitam putih ,jika anda berani bilang benar , kemudian begitu makin dalam kita berbincang anda bilang tidak megnatakan secara eksplisit agama anda adalah benar.
Explisit atau tidak itu tidak penting, yg penting anda tetap harus punya keyakinan dan pegangan dong apalagi anda sudah menyelidiki sebanyak mungkin fakta yg ada.
dari Pertanyaan yg anda ajukan sebagian besar saya tidak tahu jawabannya , tetapi saya sangsi apa dengan mengetahui secara detail jawabannya jg akan membawa seseorang kepada Penciptanya , walau saya tida k bisa menjawab sesuai di kitab suci tetapi saya tergelitik jg ingin mencoba menjawab , mungkin dari jawaban saya anda bisa menilai sendiri.

1. Apakah Tuhan Ada ? dimana ? Setan Itu ada ? Tujuan Setan ?
- Menurut saya Pencipta manusia itu ada yg disebut Tuhan . Dimana tepatnya ? Di Surga ? Surga itu dimana ? Tentunya saya tidak tau .
Tetapi jika yg pernah saya baca
"Tuhan ada dimana mana dan bukan hanya di rmh ibadah" , Saya sendiri merasa itu ada di hati kita.
Jika Ego kita menurun disitulah Kita bisa melihat Pencipta kita dan memuja keagungan atas ciptaan dia , Saya kira sering kita kadang melihat ke langit dan melihat betapa kecilnya kita dan betapa luasnya dunia. Apakah Tuhan itu satu sosok ? itu saya tidak mengerti tetapi saya mengerti ada sesuatu yg sangat besar yg menjalankan Tata Surya ini dan jg Ciptaan nya , saking besarnya saya kira dgn fakta dah sejarah pun tidak bisa mengupas itu.

2. Manusia Ciptaaan Tuhan ? Dan ilmuwan ?
Manusia terbentuk karena sesuatu dan ada yg menyebut life energy tapi saya kira itu tidaklah penting. Ilmuwan memang dari dulu mempunyai teori dan pencarian yg panjang , tetapi tidaklah bisa mencapai perspective yg sama dalam hal tersebut , selain ciptaan manusia masih banyak kok kasus dimana ilmuwan jg blon bisa menjelaskan dgn logika. mungkin disini anda bisa memaparkan apa yg anda tahu ttg ini.

3. Tujuan Tuhan Mencipta ?
wow... ini terlalu jauh dari yg saya bisa pikirkan , no idea ttg ini . Tetapi saya sendiri cuman mempunyai pemahaman , karena kita sudah ada dalam wujud manusia ada karunia akal budi dan hati , maka kita harus mengenal diri kita , bahkan byk org saja tidak mengerti cara bernafas yg benar dan tidak menghargai tubuhnya.

4. tujuan Tuhan Menciptakan manusia dari menderita hingga mati ? Jika dijelaskan lebih banyak mgkn kita tidak sepaham apalgi mengenai Reinkarnasi, tetapi secara singkat, ada bagusnya hidup manusia itu terbatas, Karena keterbatasan inilah kita bisa mencari tujuan hidup kita itu apa.
Ada pepatah dari Zhuang Zhi Filsuf dari Cina , "Umur itu terbatas, Pengetahuan itu tidak terbatas, Sangatlah sia sia jika org hidup terus untuk mencari ilmu ." initnya lebih menghargai hidup ini , Hidup lah pada saat ini.

5. Arwah dll ? kalo saya mau menjelaskan mungkin kita akan seperti 2 org buta yg memegang Gajah , Mungkin jawaban ini akan muncul seiring dgn dunia spiritual kita bisa maju.

6. Manusia Disiksa setlah mati ?
Saya sendiri tidak mengerti akan hal ini . Tetapi yg saya anut adalah JIka hati kita bersih kita sudah ada di Surga dan jika hati kita Kotor kita sudah di Neraka walau kita blon mati. Ada jg org yg mau masuk Surga oleh karena itu beribadah yg rajin dll, tetapi itu jauh dari apa yg saya pahami , selama kita masih terikat dgn ego kita, Apalah arti Surga itu ? ada org yg mau meninggal dan pindah agama ? apakah ada gunanya ? Jika sudah ada "A Ticket to Heaven" itu sudah kamu pegang di hati , tergantung anda mau memakainya atau tidak .

7. Dimana persisnya api neraka ?
WOw ......... hebat sekali pertanyaan mu ini benar benar Give Up deh

8 n 9. Penderitaan - utk ini pertannyaannya agak luas, apkah penderitaan kita atau penderitaan di negara Miskin atau apa ?
utk sesuatu yg besar saya masih tidak sanggup menjawab. mungkin anda bisa membantu menjawabnya, mengapa ada negara yg sampai busung lapar ? dan makan pun susah ?

10. Utk masalah di pihak Tuhan ya sekali lagi itu di luar logika kita atau pikiran kita atau saya.
Tetapi jika diumpamakan dalam keluarga karena saya telah berkeluarga begitu jg anda.
Jika dalam hidup anda , apakah anda ingin menyediakan segala hal untuk anak anda ? atau anda mendorong mereka utk mendapatkan sesuatu , sehingga mereka lebih bisa mengerti apa arti mrncoba dan belajar , gagal dan mencoba sehingga berhasil , dan anda sekali kali push dari blkg .
saya tentunya akan memilih yg ke-2 karena itulah arti hidup.

Seprti kriteria yg anda ingin adalah agama yg benar bisa menjawab semua pertanyaan tersebut. bagi anda mungkin jawaban itu yg penting tetapi tidak lah menjadi soal karena jawaban itu tidak penting bagi saya. yg penting adalah pengamalannya .

Sekian
GBU

Ronald T.Gultom said...

Hallo, Jumpa lagi Mr.Zhen,

Saya senang diskusi dengan anda, anda memang smart dan luar biasa, terus terang saya tidak menyangka bahwa anda akan menjawab semua point-point dari pertanyaan yang saya jabarkan sebelumnya. Terlihat jelas bahwa anda memang seorang yang berpotensi juga sebagai pemikir dan penulis yang berbakat.

Sejujurnya Mr.Zhen, pertanyaan saya tersebut sebenarnya hanyalah bersifat "Retorik", atau suatu pertanyaan yang tidak saya harapkan harus dijawab oleh pembacanya. Pertanyaan tersebut saya jabarkan dengan tujuan agar pembaca tergerak untuk berpikir dan merenung bahwa sebenarnya ada begitu banyak pertanyaan yang muncul bagi orang yang concern terhadap situasi yang terjadi di dunia ini, dan terhadap masa depan hidupnya (bukan masa depan semu seperti jadi orang kaya dan sukses, melainkan masa depan yang bersifat permanen dan kekal atau menurut istilah anda masa depan yabg bersifat “spiritual” ).

Jawaban dari semua pertanyaan tersebut sebenarnya sudah saya temukan, dari mana? tentu saja bukan dari logika akal budi saya, melainkan dari kitab suci yang seharusnya merupakan satu-satunya sarana dari sang pencipta untuk berkomunikasi dengan umat manusia, ditambah dengan renungan pribadi saya, sesuai dengan judul blog ini “Renunganku tentang kebenaran sejati”. Sedangkan agama buat saya hanyalah semacam "tools" untuk membantu saya menggali kitab suci lebih seksama dari biasa dan mengenal lebih dalam tentang siapa Tuhan sang pencipta itu serta apa maksud tujuannya bagi umat manusia.

Anda mengatakan bahwa “dari tulisan saya seolah-olah saya tidak "berani" untuk mengatakan hitam ataupun putih, atau dengan kata lain saya tidak berani mengatakan bahwa agama yang saya anut itu benar sedangkan agama lain salah”. Hehehehe….(sorry saya agak sedikit tertawa geli membaca komentar anda ini). Mr.Zhen, jawaban hitam dan putih, atau benar dan salah tanpa melalui suatu proses pembuktian berdasarkan observation, exploring, dan proses lainnya adalah jawaban yang naif dan tidak edukatif, bahkan cenderung merupakan jawaban “bodoh” dari seorang yang fanatik buta akan agamanya. Saya bukan type orang seperti itu. Saya tidak mau mendikte orang lain tentang benar atau salahnya suatu hal apalagi Agama, tapi cara saya adalah melalui proses pembuktian. Sebagai perumpamaan dalam pengadilan saja seorang Hakim tidak akan langsung memvonis sang terdakwa tanpa melalui suatu proses pembuktian terlebih dahulu, bahkan dalam sidang pengadilan tidak hanya ada Jaksa penuntut saja melainkan juga ada Pengacara sebagai pembela dari sang terdakwa. Sekali lagi saya katakan, kalau anda baca seluruh posting saya sebelumnya dalam blog ini maka anda akan mengenal lebih jauh orang seperti apa saya sebenarnya. Saya bukan tidak berani mengatakan bahwa agama yang saya anut adalah satu-satunya agama yang benar, itu adalah urusan saya dengan Tuhan saya dan Agama saya. Namun andaikata anda memang mau mendengar bahwa agama saya yang benar maka cara saya dalam mencapaikannya bukanlah dengan hitam dan putih, melainkan dengan cara yang bersifat edukatif serta informatif.

Saya kasih ilustrasi tambahan, dalam bidang IT (computer science) ada satu konsep berpikir atau konsep pengembangan system dan pemecahan masalah yang disebut dengan “Algorithm”. Sebuah kamus menjelaskan arti dari kata Algorithm atau Algoritma = “problem-solving computer program: a logical sequence of steps for solving a problem, often written out as a flow chart, that can be translated into a computer program – berdasarkan: Microsoft® Encarta® Reference Library 2003. Dalam logika algoritma seorang ‘computer programmer‘ yang professional tidak akan langsung meng-create coding programming sebelum terlebih dahulu menjabarkan alur atau flow dari suatu system yang akan dikembangkan. Coding hanya dilakukan di bagian akhir dari proses development suatu aplikasi program. Demikian juga cara saya dalam menghasilkan suatu hipotesa terhadap segala hal termasuk berkenaan dengan kepercayaan atau agama yang saya anut. Saya yakin Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan “akal budi” adalah untuk digunakan dalam mendalami dan mengenal lebih jauh penciptanya. Saya ingin tanya kepada anda, seberapa manusia menggunakan akal budinya untuk mengenal lebih jauh penciptanya? Fakta membuktikan bahwa kebanyakan orang menggunakan akal budinya untuk mengenal science, teknologi dan untuk mencari uang, bukankah demikian kenyataannya?.

Tidak seperti binatang yang hanya memiliki instinc, manusia memiliki kemampuan berpikir dan bernalar, dan saya yakin Tuhan memang merancang manusia sedemikian rupa agar manusia dapat mengenal siapa penciptanya karena itulah Tuhan menurunkan kitab sucinya kepada umat manusia sebagai sarana untuk itu. Hanya akan timbul pertanyaan berikutnya, kitab suci mana yang memang benar-benar diturunkan Tuhan kepada ciptaanNya? Apakah semua kitab suci itu benar?. Itulah yang saya maksudkan perlunya suatu proses pembukitan yang panjang. Satu ilustrasi terakhir dari saya, dalam ilmu komputer ada istilah “Input, Proses, Output”, nah saya tidak menjelaskan tentang Output, melainkan yang saya jelaskan kepada anda adalah Input dan Proses saja, karena Output tergantung dari dua komponen dasar tersebut yaitu Input dan Proses.


Salam damai,
Ronald T. Gultom

zhen said...

Hi again ,
kyknya gak habis habis kalo kita bahas karena masih banyak hal yg blon saling mengerti dari diri kita masing masing.
Gua sendiri berlatih disiplin di Aikido dan mendapat byk hal.
Jika anda berkenan mungkin anda bisa mencoba datang dan liat.
Lupakan segala ttg kitab suci dan agama , datanglah dgn hati bersih dan mgkn bisa memberikan masukan, siapa tau bisa dijadikan tulisan.
utk waktu bisa japri ke saya.

Regards
Zhen

Promotional Group said...

yang jelas aku melihat kalau semua agama benar, maka agama itu tidak penting untuk diamalkan, karena toh tetap masuk ke tempat yang sama.

tetapi kalau tidak semua agama penting, maka agama itu penting untuk diselidiki mana yang benar mana yang salah.

Ronald T.Gultom said...

Hehehe....(sorry Zhen kalo saya agak tertawa geli), saya jadi ingat dengan lirik sebuah lagu "kau yang memulai kau yang mengakhiri". Bukankah anda sendiri yang mulai di awal diskusi kita ini? Seharusnya anda mempertanggungjawabkan argumen anda sampai benar-benar bermuara pada suatu kesimpulan akhir yang dapat disepakati bersama, itu baru namanya diskusi.

Kalo menurut saya diskusi ini masih dalam batas-batas wajar dan tidak merupakan debat kusir yang tiada habis-habisnya. Karena penjabaran kita masing-masing masih mempunyai dasarnya sendiri-sendiri.

Hanya saja menurut pengamatan saya persoalannya adalah karena kita berdua memiliki latar belakang yang sangat berbeda (saya lebih cenderung dengan konsep yang bersifat realist dan naturalist, sedangkan anda lebih cenderung kepada konsep yang bersifat abstract dan filsafat)

Salam,
Ronald T. Gultom

Angel said...

:)
Agama tersebut disebut peace & purity :)
Andaikan semua makhluk dibumi ini menyadari bahwa kita adalah asalnya jiwa, maka tidak akan ada perpecahan didunia ini di sebabkan agama badaniah yang kita anut selama ini.
karena didunia itu tidak ada yang pasti....yang pasti hanyalah kematian. all people will die, because they are soul & will return to soul, this body is as if a cloth.
People changes clothes to keep continue playing their role in the world of drama, until the world is renewed once again.
om shanti..

zhen said...

wow mulai rame nih commentnya :
Mengingat awal dan akhir yg dibicarakan antara saya , sbnarnya tidaklah ada masalah menurut saya.
Pada awal sblm saya ada , pemikiran anda ya begitu , stlah saya ada , pemikiran anda tetaplah begitu jg .
Jadi sbnarnya tidak ada awal yg harus diakhiri saya rasa.
seperti yg dikutip Angel (nah nih ada suara angel ... bisa nanya rumor ttg tulisan anda ;) )
"Andaikan semua makhluk dibumi ini menyadari bahwa kita adalah asalnya jiwa"

Jika ada yg ingin menginginkan akhir , itu hanyalah keterbiasan org yg ingin merangkumkan suatu masalah seperti jg risensi(salah gak tulisannya ) film.

Saya setuju dgn angel , bahwa jika kita menyadari asalnya jiwa , maka tidak akan ada perpecahan didunia ini di sebabkan agama badaniah yang kita anut selama ini.

Jadi argumen atau apapun yg dilemparkan pada akhirnya tidak akan menuju kepada apa apa jika org tidak mau menerima utk menyadari.
Mgkn apa yg dikatakan angel malah sudah cukup utk mengakhiri diskusi ini .
"Apakah org menyadari ?"

Mengenai background kita yg realist dan abstract saya kira susah jg utk bilang yg mana abstact dan realis.
Kita ambil contoh spt saya pernah ditanya dan jg sama anda
Apakah kamu percaya ada surga dan neraka stlah mati ?
Saya menjawab surga dan neraka itu ada pada saat ini.
Tetapi ada yg percaya stlah kematian , kemanakah mereka pergi ?
apakah neraka itu ada , dan apakah benar disitu ada siksaan dsb.
Ada org yg percaya karena diajarkan begitu dari tulisan.
Jika pada keadaan diatas
mnrt anda siapakah yg realis dan siapakah yg abstract ?

regards
Zhen

Ronald T.Gultom said...

Perbedaan antara Realist & Abstract adalah sebagai berikut:

Segala hal yang bersifat Realist pasti bisa dibuktikan, karena realist adalah fakta, kenyataan atau realitas.

Sebagai contoh, kalau dicubit sakit, kalau terbakar gosong, Matahari terbit di timur dan terbenam di barat, setiap benda yang dijatuhkan pasti akan menuju bumi selama berada dalam radius gravitasi.

Bagaimana dengan hal-hal yang belum dapat dibuktikan secara ilmiah, nah ini membutuhkan suatu "petunjuk". Orang bijak dahulu kala sering menggunakan alam sebagai "buku petunjuk". Misalnya untuk menentukan musim, iklim atau arah angin dll, ini juga adalah konsep realist atau naturalist. Nah untuk hal-hal yang bersifat rohani dibutuhkan juga "buku petunjuk" yang dikenal dengan Kitab Suci. Ini juga realist, hanya saja persoalannya ada begitu banyak Kitab dari beragam agama di dunia ini, nah inilah yang perlu dikaji, mana yang benar-benar Kitab Sejati.

Sedangkan konsep Abstract, kebanyakan akan sulit dijabarkan secara factual, karena konsepnya masih samar dan ambigu. Sama halnya ketika kita melihat lukisan abstract akan sulit untuk menentukan arti dari lukisan itu, berbeda dengan lukisan realist dan naturalist yang dengan mudah dapat dikenali karena berhubungan dengan fakta dalam kehidupan sehari-hari.

Mengenai pertanyaan Surga dan Neraka apakah itu realist atau abstract, anda bisa temukan penjelasannya dalam "buku petunjuk" yaitu kitab suci, namun harus kitab suci yang sejati, jika tidak anda tetap akan menemukan penjelasan yang bersifat abstract. Kitab suci yang sejati tidak menjelaskan bahwa Tuhan menyediakan tempat penyiksaan kekal di Neraka, konsep itu adalah ajaran palsu dan dongeng belaka, mau tahu lebih jauh, saya akan jelaskan dalam artikel tulisan saya selanjutnya.

Demikian komentar saya,

Salam,
Ronald T. Gultom

zhen said...

Menanggapi tanggapan yg tidak mengerti bisa diartikan begini :

Mempelajari diri ini ada di meditasi, yakni dgn mulai memperhatikan
pikiran kita dan tubuh kita. Dalam hidup ini kita kadang berkutat pada
hal hal yg sbnarnya kita sendiripun tidak tau apa itu benar atau tidak.
sperti yg mas ronald katakan "pada titik kulminasi akhirnya merubah
mindset anda" pada saat ini anda merubah mindset anda terhadap apa yg
anda mau percaya atau yakini.
( kita bisa berdebat 30hari 30 malam ttg keyakinan anda, tetapi keyakinan
adalah masih dalam kepercayaan anda ,tetapi bukan mutlak berarti benar.
Org bisa meyakini dia diculik ALIEN , dsb.)

bagi bbrp org merubah mindset dikarenakan dia merasa sesuatu itu benar
baginya tetapi apakah itu benar, kita tidak tau, tetapi yg pasti dia merasa benar.
mempelajari diri itu melepaskan semua pemikiran , kenyamanan dan kepuasan
yg kita mau dan pada saat itulah yg dinamakan "enlightment" dimana tidak ada
kemauan atau ketiadaan "aku" dan yg jg dinamakan "total menyerahkan diri
kepada Pencipta*" yg pernah saya refer "Wu Wei" 'No Mind" atau 'No Self"
Jika anda mempelajari dan mencari ini dan itu .
yg saya pelajari justru melepaskannya.
saya harap anda dapat menerimanya .

Utk masalah 'Hilangnya Kitab itu " cuman satu joke kok jadi serius ya ?
sampai keluar undang undangnya .
"Mengenai hilangnya guru saya , buku saya , atau filsafat saya "
Jika saya bisa hilang semuanya saya tentu sangat bersyukur dan apalagi
hilangnya semua ego saya.
pada saat itu saya akan sangat bahagia dan saya akan menjadi guru
untuk mengajar yg lain"

*Pencipta yg saya refer adalah begini
Anda mengatakan bahwa kita mempelajari Pencipta dari Agama.
Jika saja org pernah merenung , darimanakan kita berasal ?
Tentunya ada satu beginning dari ketiadaan menjadi Ada
dan disitulah yg dinamakan Penciptaan,
Apakah itu sosok ? atau apa ? saya terus terang tidak tahu
tetapi proses dari Tidak ada menjadi adalah itulah Penciptaan yg dimaksud .

Regards
Zhen