25 April 2007

Kebenaran Relatif-Pandangan Populer yang Dilematis

Ada suatu ungkapan lama yang cukup terkenal yaitu “banyak jalan menuju Roma”, ungkapan tersebut sering dipakai oleh beberapa orang yang berpandangan liberal terhadap agama dengan mengatakan bahwa “ada banyak jalan menuju Tuhan”, dengan kata lain mereka beranggapan bahwa walaupun ada begitu banyak agama di dunia ini namun semua agama tersebut menuju jalan yang sama yaitu penyembahan kepada Tuhan tidak perduli walaupun ajarannya berbeda-beda. Ada beberapa kelompok scientis atau pemikir yang mengatakan bahwa tidak ada kebenaran mutlak, segala sesuatu bersifat relatif, apabila suatu kepercayaan tertentu diteliti dengan membandingkannya dengan kepercayaan lainnya maka akan didapati bahwa dalam setiap kepercayaan ada corak-corak khusus yang saling melengkapi satu sama lain, dan hal itu tidak berarti bahwa yang satu mutlak benar dan yang lain mutlak salah, kedua-duanya bisa sama-sama benar bisa juga sama-sama salah tergantung dari perspektif mana orang memandangnya, orang-orang yang berpandangan demikian dikenal dengan penganut paham liberalisme. Walaupun beberapa orang yang berpandangan liberalisme tidak selalu serba menerima segala konsep agama, namun paling tidak beberapa kelompok berpandangan bahwa ada unsur kebenaran dan kebaikan di dalam setiap agama, sehingga atas dasar penalaran demikian maka mereka tidak menerima konsep adanya kebenaran mutlak atau absolute, segala hal bersifat relatif tergantung sudut pandang masing-masing kelompok orang.

Banyak orang saat ini senang dengan paham liberalism, karena dengan mengikuti konsep berpikir seperti ini mereka berpandangan bahwa hubungan horisontal antara sesama umat manusia akan lebih harmonis karena menerima perbedaan di antara sesama manusia, orang yang berpandangan seperti ini tidak akan bersikap terlalu kritis dengan agama orang lain maupun agamanya sendiri. Oleh sebab itu munculah konsep pluralism seperti di dalam agama Kristen ada kelompok persekutuan yang disebut dengan Oikumene (menggabungkan seluruh sekte kristen dalam satu wadah perkumpulan jemaat) bahkan ada ungkapan yang diberikan oleh suatu konsili Vatikan Katolik Roma yang menyebutkan bahwa “ada kesucian di dalam semua agama”, dan disamping itu beberapa paham kelompok Kristen yang bersikap Liberal juga menerima tradisi upacara adat istiadat etnis ke dalam kekristenan sebagai bagian dari tatacara peribadatan. Di dalam agama Islam juga ada sebuah kelompok cendikiawan muslim yang menamakan kelompok mereka dengan nama
Jaringan Islam Liberal, ini hanyalah sebuah contoh bagaimana konsep liberalism telah menyusup juga ke dalam agama. Apakah konsep ini salah? Jika ditinjau secara liberal maka tidak ada yang salah dalam hal tersebut, sebab segalanya adalah bersifat relatif, akan tetapi jika ditinjau dari segi kebenaran absolute, realitas atau fakta maka akan timbul pertanyaan yang mendasar, apa yang dimaksudkan dengan liberal di sini? Apakah liberal dalam kaitannya dengan dogma, doktrin dan ajaran agama? Ataukah liberal dalam arti mentoleransi umat beragama lain dengan tidak saling mengusik atau menjelek-jelekkan agama orang?, jika demikian saya sependapat, namun Jika mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah liberal dari segi dogma dan ajaran maka timbul pertanyaan apakah memang semua agama benar-benar mengajarkan dogma yang sama? dan apakah semua agama benar-benar jalan yang sama menuju Tuhan yang sama pula? Apakah orang-orang yang menganut paham liberalism tersebut bersedia berpindah-pindah agama misalnya hari ini beribadah ke mesjid, besok beribadah ke gereja, lusa beribadah ke klenteng budha atau kuil hindu dan seterusnya? Saya tidak yakin akan hal itu.

Atau bisa jadi mungkin para penganut paham liberalism tersebut berdalih bahwa mereka hanya menerima sebagian-sebagian konsep dari seluruh paham agama-agama untuk di-combine dengan filsafat mereka menjadi satu "ramuan" pengajaran baru atau pencerahan baru - who knows, jadi mereka tidak menerima secara utuh semua paham agama di dunia ini, namun mencomot beberapa hal dan menggabungkannya dengan paham filsafat, jika demikian maka tidakkah hal ini berarti mereka (para penganut paham liberalism) tidak kosisten dan konsekuen? Jika mereka benar-benar liberal dan konsisten maka tidakkah seharusnya mereka menerima semua paham agama-agama secara utuh sebagai paham yang benar karena toh mereka mengatakan bahwa semua agama baik dan benar?. Saya ambil suatu simulasi, apakah para penganut paham Islam Liberal mau menerima Yesus Kristus sebagai juruselamat selayaknya orang Kristen memandang Yesus?, atau sebaliknya maukah para penganut paham Kristen Liberal mengakui Nabi Muhammad SAW sebagaimana orang muslim memandang Muhammad?. Atau mungkin saja para penganut paham liberal tersebut mengatakan bahwa mereka hanya berusaha untuk menghormati semua agama yang ada di dunia ini, bukan untuk menerima semua dogma dari agama-agama yang ada sebagai kebenaran yang sejati.

Salah satu argumen kelompok liberal adalah bahwa kebenaran itu dapat dibagi atas dua kategori: 1. Kebenaran Eksklusif, 2. Kebenaran Inklusif. Kebenaran eksklusif adalah kebenaran tertentu yang hanya diyakini dalam agama tertentu. Misalnya Umat Kristen pada umumnya percaya bahwa Yesus itu adalah Tuhan yang layak mereka sembah, sedangkan umat Islam tidak mungkin menerima doktrin itu dan tidak akan mau menyembah Yesus. Sedangkan ajaran cinta kasih dalam agama Kristen adalah kebenaran inklusif yang bisa diterima oleh pemeluk agama Islam dan bahkan oleh semua agama.

Maka jika demikian halnya itu berarti para penganut paham liberalism tersebut tetap saja menganggap bahwa agama yang dianutnya entah itu Islam atau Kristen atau apapun adalah agama yang benar dan agama lain selain yang dianutnya bukanlah agama yang benar, karena ada beberapa dogma fundamental dari masing-masing agama yang tidak mungkin bisa saling tukar-menukar konsep & iman diantara penganutnya. Dengan kata lain jika demikian maka konsep liberal yang dimaksudkan mereka hanyalah sebagai ungkapan saling toleransi antara umat beragama demi menjaga hubungan horizontal sesama manusia tidak soal latar belakang agamanya. Dan itu juga berarti bahwa kebenaran yang sesungguhnya tidaklah bersifat relatif, karena jika semua relatif maka tidak ada suatu "pakem" yang fundamental dalam setiap agama, karena terbukti bahwa tetap saja orang-orang yang berpandangan liberal memiliki status jati diri agamanya sendiri? mereka menamakan diri Islam Liberal yang notabene ada identifikasi Islam juga dalam kelompok itu.

Saya sering membaca artikel-artikel liberalism yang ditulis di media internet dan saya melihat sepertinya mereka hanya ingin mengkritisi para penganut di dalam kelompok agamanya sendiri khususnya agar supaya jangan sampai berpandangan ekstrim dan fanatik terhadap agamanya. Mereka jarang mengkritik agama lain, mereka hanya mencoba mengkaji ulang agamanya sendiri dari paradigma yang berbeda (seperti filsafat, science, sejarah, logika dan akal sehat), sehingga mereka mengajak umat agamanya untuk berpikir lebih comprehensive dan tidak picik. Saya menilai bahwa hal ini adalah suatu hal yang bersifat positif dalam arti mereka berusaha menggunakan akal pikirannya (yang notabene Tuhan menciptakan manusia memiliki akal budi untuk digunakan sebaik-baiknya tidak seperti binatang) untuk mengkaji ulang konsep berpikir umat beragama yang selama ini mungkin seolah-olah terbelenggu secara picik oleh agamanya. Akan tetapi tetap saja pada suatu titik tertentu para penganut paham liberalism ini akan mentok, karena konsep liberalism itu sendiri telah menjadi bumerang bagi mereka karena jika segala hal bersifat relatif maka konsep mereka pun juga akan menjadi relatif juga jika dikaji dari kacamata liberalism. Sehingga pada suatu titik mereka pada akhirnya akan dihadapkan juga kepada suatu pertanyaan dan pilihan tentang manakah sebenarnya kebenaran yang sejati itu.

2 comments:

Yahya said...

Salam kenal, pak Ronald,
Sangat menarik apa yang pak Ronald tulis mengenai kebenaran relatif ini.
Saya ingin mengomentari sedikit tentang kata Kebenaran Relatif yang pak Ronald sampaikan.
Apakah kita dapat membedakan kebenaran menjadi dua? (absolut dan relatif). Maaf pak Ronald, bukankah Kebenaran itu selalu absolut? bukankah kebenaran itu selalu adalah kebenaran sejati, jika kebenaran sudah menjadi relatif maka akan muncul pertanyaan dimanakah kebenaran?
Bagaimanakah pandangan pak Ronald mengenai kebenaran ini? terlepas dari apakah itu sejati maupun relatif? Ataukah pak Ronald sudah menemukan kebenaran yang sejati?

Ronald T.Gultom said...

Ronald T.Gultom said...
Hallo pak Yahya, salam kenal juga, terima kasih krn sudah memberi komentar pada blog saya ini dan senang bisa berdiskusi dengan anda.

Begini pak Yahya, tulisan saya itu (yang berjudul "Kebenaran Relatif-Pandangan Populer yang Dilematis") adalah berisi informasi tentang pandangan umum yang cukup populer dikalangan para cendikiawan atau orang-orang yang 'mengaku' berpendidikan dan berwawasan, ini adalah fakta yang dapat kita saksikan bahwa banyak cendikiawan menganut paham ttg kebenaran yg bersifat relatif.

Nah tulisan saya itu justru bertujuan untuk membuka "mata hati" mereka bahwa sebenarnya kebenaran yang sejati itu haruslah bersifat ABSOLUTE, jika hanya bersifat relatif maka itu bukanlah kebenaran yang sejati.

Pak Yahya bertanya kepada saya "bukankah Kebenaran itu selalu absolut?" saya jawab: "Memang seharusnya kebenaran itu selalu bersifat Absolute!" namun sayangnya fakta membuktikan bahwa tidak selalu demikian.

Memang sangat ironis bahwa banyak orang maupun kelompok orang atau organisasi yg mengatasnamakan agama tertentu telah "memalsukan kebenaran sejati", itulah sebabnya sepanjang sejarah, terjadi banyak sekali perpecahan agama dan sekte-sekte karena begitu banyak orang yang tidak puas dan merasa bahwa mereka telah dibohongi oleh pemimpin agama mereka, dan mereka melihat fakta bhw kebenaran sejati telah dipalsukan, sehingga sepanjang sejarah peradaban manusia banyak sekali bemunculan pencari kebenaran sejati (sebut saja nama-nama mereka misalnya seperti Tertullian, Arius, Iranaeus, Eusibius, John Wycliff, William Tyndale, Martin Luther, dll) Terlalu banyak jika harus saya sebutkan semua nama tokoh-tokoh pencari kebenaran sejati, walaupun mungkin mereka belum sempat menemukan kebenaran sejati, namun mereka adalah para pencari kebenaran yang gigih dan berdedikasi.

Mengapa muncul istilah atau frase 'kebenaran sejati' yaitu karena ada 'kebenaran tidak sejati' atau kebenaran palsu. Konsep kebenaran palsu hampir mirip dengan yang sejati namun tidak sama (serupa tapi tak sama). Ilustrasinya seperti uang palsu, jika dilihat sepintas hampir sama dengan uang asli, namun jika diterawang, diraba, dan diteliti dgn menggunakan alat deteksi uang palsu maka dapat terlihat jelas perbedaannya dengan uang asli. Demikianlah juga halnya dengan kebenaran sejati dapat terlihat sangat jelas perbedaannya dengan kebenaran non-sejati jika kita menelitinya dengan seksama.

Untuk lebih memahami apa yg saya maksudkan, silahkan pak Yahya baca tulisan saya sebelumnya yang berkaitan dengan topik ini di:

http://rotogu.blogspot.com/2006_10_01_archive.html

dan:

http://rotogu.blogspot.com/2007_03_01_archive.html


Salam,
Ronald T.G.