Mosi tidak percaya terhadap agama dalam sejarahSejarah mencatat tentang seorang tokoh filsuf bernama Karl Marx di jaman dulu yang pernah mengungkapkan suatu kalimat sehubungan dengan eksistensi agama, dia mengatakan “Religion is the opium of the people” - Karl Marx (1818 - 1883) yang artinya bahwa “agama adalah candu masyarakat”, kalau kita benar-benar menyelidiki sejarah umat manusia sehubungan dengan tradisi, adat-istiadat, kepercayaan, agama serta pola berpikir masyarakat, sepertinya ungkapan ini sepertinya memiliki dasar yang masuk akal. Mengapa demikian, sebab sepanjang sejarah sampai sekarang ini kecenderungan umat manusia dalam memeluk agamanya atau kepercayaannya lebih banyak bermotifasikan kepentingan diri sendiri ketimbang bermotifasikan pengabdian tulus tanpa pamrih kepada Tuhan sang maha pencipta, sehingga agama memang seolah-olah seperti candu atau opium yang dapat meninabobokan seseorang ditengah-tengah segala macam penderitaan hidup. Coba saja kita perhatikan beberapa agama yang mengajarkan bahwa apabila seseorang melakukan kebaikan maka dia nantinya akan masuk surga dimana terdapat banyak bidadari yang cantik-cantik, kemudian dapat menikmati segala jenis kenikmatan hidup di sana, sedangkan kalau seseorang melakukan kejahatan maka mereka akan menerima siksaan kekal di dalam api neraka, mereka akan disiksa hidup-hidup, dibakar, diseterika, disayat-sayat…dan segala bentuk penyiksaan yang sangat mengerikan (walaupun notabene sebenarnya konsep ini jelas bertentangan dengan sifat Tuhan yang maha pengasih dan penyayang yang tidak pernah ingin menyiksa orang walaupun orang itu jahat, Tuhan lebih menginginkan orang jahat tersebut bertobat dari kejahatannya dan mendapat kesempatan untuk diselamatkan ketimbang untuk disiksa). Coba kita kaji lebih dalam, jika tidak ada konsep surga dan neraka apakah orang-orang masih akan tetap mau tulus beribadat kepada Tuhan?.
Fakta di jaman sekarang ini.
Kita dapat menyaksikan fakta di sekeliling kita bahwa ada banyak sekali orang yang berpindah-pindah agama hanya karena ingin menemukan “pelarian” dari sebuah penderitaan, atau ingin mendapatkan suatu “pengakuan” jati diri semata ditengah-tengah suatu kemelut hidup. Saya ambil contoh sebut saja seorang yang sedang menderita penyakit akut yang tadinya beragama A, kemudian singkat cerita orang ini mendapat kesembuhan penyakit secara 'mukjizat' dari seorang ulama beragama B, dapat ditebak orang yang mendapat kesembuhan tersebut akan dengan mudah berpindah agama dari agama A menjadi agama B karena dia telah mendapatkan kesembuhan dari penyakitnya (walaupun notabene dukun-dukun pun sanggup melakukan penyembuhan-Red.). Contoh kasus lain ada seorang yang beragama A sedang jatuh cinta dengan seorang wanita yang beragama B, cinta mereka sedemikian kuat sehingga hal ini akan membuat salah satu dari kedua pihak meningalkan agamanya demi mendapatkan cintanya, dengan kata lain agama hanyalah semacam “pengakuan” jati diri semata demi mendapatkan suatu tujuan yang diinginkan. Ada kondisi lain yang dapat kita temui di dalam masyarakat sehubungan dengan konsep berpikir mereka terhadap agama, saat ini agama seolah-olah menjadi semacam tembok yang mengelompokkan pengikutnya ke dalam satu kesatuan exclusive, sama halnya seperti kesatuan etnis atau suku, nasionalisme atau kebangsaan. Coba saya simulasikan hal ini agar anda dapat lebih memahami korelasinya, apa yang terjadi jika ada orang lain yang mendiskreditkan suku anda atau kebangsaan anda? Apa kira-kira reaksi anda? kebanyakan orang akan marah dan tersinggung jika suku atau etnisnya dicela atau dikritik walaupun kritikan yang diberikan beralasan. Tidakkah demikain halnya dengan agama? apa yang terjadi jika ada orang lain yang mendiskreditkan agama atau kepercayaan anda? Apa kira-kira reaksi anda? kebanyakan orang akan marah dan tersinggung jika agamanya dicela atau dikritik walaupun kritikan yang diberikan beralasan.
Keragaman agama salah satu penyebab konflik horisontal
Sepanjang sejarah peperangan umat manusia di bumi ini, hampir semua di dasari atas friksi dan pertentangan kepentingan antar suku, antar bangsa/nasionalisme/politis, atau antar agama. Begitu banyak perang-perang antar suku, perang-perang besar antar bangsa atau agama yang didasari atas kebanggaan yang tidak rasional terhadap komunitas kesukuan dan kebangsaan, nasionalisme atau bahkan kebanggan agama. Ketika Nazi Jerman dibawah kepimpinan Adolf Hitler membantai ratusan ribu etnis Yahudi dalam genosida besar-besaran di kamp-kamp konsentrasi, Hitler tidak hanya beranggapan bahwa ras Aria Jerman adalah etnis yang sangat unggul, dan ras Yahudi adalah bangsa yang patut dimusnahkan karena telah memonopoli perekonomian rakyat Jerman, melainkan juga karena ras Yahudi telah bertanggung jawab atas kematian sang mesias Yesus Kristus yang dibunuh oleh kakek moyang orang Yahudi. Memang bukti menunjukkan bahwa ada banyak sekali pertikaian dan peperangan atas nama agama disebabkan oleh karena kebanggaan dan exclusivistis terhadap kepercayaannya atau dendam kesumat turun-temurun antar kelompok agama (seperti sejarah perang salib dan masih banyak lagi yg lain, jika ditulis semuanya di sini terlalu panjang). Begitu banyak perang-perang antar agama atau mengatasnamakan Tuhan yang didasari atas kebanggaan yang tidak rasional terhadap kelompok agamanya. Umat beragama seolah-olah seperti suporter dari group sepak bola tertentu, sehingga sebagus apapun pemain sepak bola dari kelompok lain tidak akan dianggap, dan seringkali suporter sepakbola akan emosi dan marah besar jika pemain kelompok lawan dapat membuktikan bahwa pemain kelompoknya tidak becus bermain sepak bola. Ketimbang introspeksi diri suporter yang fanatik tidak akan bersedia menerima kekalahannya. Demikianlah juga halnya dengan umat beragama, katakanlah misalnya ada umat agama lain yang dapat membuktikan bahwa doktrin dari agamanya salah, seorang yang fanatik tidak akan mau menerima hal ini, dan cenderung akan emosi dan marah ketimbang introspeksi diri. Nah hal-hal ini semua yang menyebabkan Karl Marx menulis bahwa “agama adalah candu masyarakat”. Orang-orang tidak lagi menjadikan agama itu sebagai “jalan hidup” atau “way of life” melainkan hanya sebagai attribute kelompok atau tanda pengenal saja atau cenderung sebagai pelarian belaka terhadap suatu kelompok eksklusif sbg jatidiri seseorang. Itulah sebabnya seringkali muncul kebanggaan-kebanggaan yang bersifat competitive atau bersaing dalam arti memvonis agama lain sesat dan menganggap bahwa agamanyalah yang benar. Ketimbang dengan rendah hati mau membuka diri dengan semangat kasih serta kebersamaan untuk mencari dan menggali kebenaran yang sejati, umat beragama lebih senang saling bersaing dengan menyatakan agamanya sajalah yang benar dan agama orang lainlah yang sesat. Kelompok-kelompok agama tidak mau dengan lapang dada membuka front diskusi secara bijaksana untuk saling tukar-pikiran satu sama lain guna mencari kebenaran. Oleh karena itu pula pemerintah republik Indonesia dulu pernah membuat suatu istilah SARA (Suku Agama Ras dan Antargolongan) yang dapat menimbulkan perpecahan antara masyarakat. Dan memang demikianlah faktanya bahwa Suku, Agama, Ras dan Golongan dapat disejajarkan sebagai suatu penyebab utama perpecahan dan bahkan pertikaian umat manusia di bumi ini.
Kecenderungan orang.
Bukti essay tadi di atas telah mengakibatkan banyak orang menjadi agak alergi dengan yang namanya agama, andaikatapun orang mengaku beragama sebagai identitas diri, pada hakekatnya mereka tidak menganggap agama itu sebagai suatu hal yang penting, mereka memungkiri 'power' dari agama itu sendiri. Di sisi lain ada informasi yang mengatakan bhw gereja-gereja di beberapa negara di Eropa sudah mulai sepi pengunjungnya, dan bahkan ada gereja yang dijual dan dijadikan gedung bioskop krn sudah tidak ada pengunjung. Oleh sebab itulah juga dewasa ini jika orang bicara soal agama akan dianggap orang aneh dan jika diskusi tetang kebenaran sejati akan dianggap tidak populer. Coba perhatikan blog-blog yang ada di media internet, jarang sekali yang terkait dengan topik agama, kebanyakan tentang ilmu pengetahuan sekuler (teknologi, marketing, ekonomi, kedokteran, dll) karena hal itu lebih populer dan lebih disenangi oleh kebanyakan orang daripada topik yang berkaitan dengan agama. Bagaimana dengan anda? apa pandangan anda tentang hal itu?

2 komentar:
Ulasan yang sangat menarik dari Pak Ronald. Mungkin kita sama-sama merasakan bahwa begitu banyak topik-topik lain yang lebih menarik di dunia ini ketimbang topik 'agama' yang sepertinya sudah basi untuk dibicarakan atau didiskusikan. Tetapi yakinlah bahwa masih banyak saudara-saudara kita sesama manusia yang masih memandang agama dan hal-hal yang berkaitan dengan Tuhan sebagai suatu hal yang sangat penting dan sakral.
Mungkin hanya sedikit saja yang dapat memanfaatkan apa yang kita sebut dengan teknologi untuk menyampaikan pendapatnya, seperti Pak Ronald. :)
Ketidak tahuan inilah yang pada akhirnya menjadi hambatan untuk mengkomunikasikan apa yang ada di dalam pikiran masing-masing kita.
Jika kita berbicara mengenai agama, maka bagi saya pribadi, agama adalah Firman Allah, terlepas dari campur tangan manusia dan zaman. Jika kita memandang agama hanya sebagai aturan dan tulisan atau tata cara yang berada dalam kitab suci saja, maka kita akan kehilangan hal yang sangat penting. yaitu "Allah" Sang Pencipta Yang Awal dan Yang Akhir.
Apakah yang akan kita pilih? Antara 'berkat' atau 'pemberi berkat'? Antara 'hidup' atau 'pemberi hidup'? Saya yakin bahwa kita akan lebih memilih sang 'Pemberi' ini.
Pada waktunya kita akan bertanya, (seperti blog nya Pak Ronald ini); mengenai kebenaran sejati, mengenai segala sesuatu dalam hidup ini, mengenai tujuan hidup kita. Yang sebenarnya telah dijawab dan di Firman-kan oleh Allah sendiri.
Dan yang berikutnya bagaimana masing-masing dari kita manusia untuk menjawab Firman Allah tersebut. Dan kita diberikan kebebasan yang pada akhirnya masing-masing kita akan mempertanggung jawabkannya.
Apa yang Pak Ronald katakan mengenai "mendapatkan kesempatan untuk diselamatkan" adalah benar adanya. Dan inilah merupakan suatu Kemuliaan dan Kebesaran Allah bagi manusia yang dikasihiNya.
Salam hangat pak Yahya, terimakasih atas komentar anda yang membina.
Memang tidak bisa dipungkiri faktanya saat ini kecenderungan orang tidak peduli dengan hal-hal yg bersifat rohani dan spiritual apalagi dgn yg namanya agama.
Kebanyakan org yang mengaku cendikiawan dan intelektual akan mengklaim bahwa konsep agama tidaklah ilmiah dan bersifat abstract. Padahal sejarah mencatat bhw di jaman dahulu orang-orang berpendidikan tinggi senang menyelidiki kitab suci, sejarah dan hal-hal yang bersifat rohani.
Dan sebenarnya kitab suci sangatlah ilmiah. Sejarah mencatat tentang Copernicus dan Galileo yang ditentang penguasa gereja katolik dahulu kala karena mengeluarkan hipotesis bahwa bumi ini bulat, ternyata belakangan para sarjana alkitab menemukan catatan dlm kitab suci bahwa bumi memang bulat - (Yesaya 40:22 "Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman!")
Itu hanyalah salah satu bukti bahwa kitab suci bukanlah berisi fakta non-ilmiah, ada banyak sekal bukti lain yang terlalu panjang jika saya tulis di sini.
Intinya, jika memang benar Tuhan itu ada, semestinya ada jawaban terhadap semua pertanyaan sehubungan dengan masa lalu, masa kini dan masa depan umat manusia. Dan Agama yg sejati serta Kitab Suci yg sejati seharusnya mampu menjawab pertanyaan itu semua secara ilmiah. Jika tidak, maka itu bukan agama / kitab sejati.
>>Salam Damai<<
Post a Comment