18 October 2007

Ateis = Agama ? suatu perspektif.

Setelah sekian lama berkecimpung dlm forum diskusi di milis ateis (http://groups.yahoo.com/group/ateis/join?), dan berdiskusi panjang dengan komunitas orang-orang Ateis Indonesia, saya mendapat suatu kesimpulan pribadi sehubungan dengan paradigma berpikir kelompok ateis (setidak-tidaknya ateis di indonesia, mungkin di luar negeri berbeda saya tidak tahu sebab belum sempat mengikuti forum diskusinya), dan saya ingin menuliskan detail kesimpulan saya di sini.
Begini kesimpulan singkat saya: Ateis sebenarnya sama dengan "Agama" atau "Kepercayaan".

Menurut sebuah kamus, salah satu arti dari kata RELIGION = A religion is a set of beliefs and practices generally held by a human community, involving adherence to codified beliefs and study of ancestral or cultural traditions, writings, history, and mythology, as well as personal faith.

Jadi esensi yg terkandung dari kata agama adalah suatu kepercayaan yang ditata sedemikian rupa menjadi suatu landasan pola berpikir dari seseorang maupun sebuah kelompok tertentu yg terdiri dari orang-orang yg memiliki mind-set serta minat yang sama. Jadi, menurut pendapat saya orang ateis pada dasarnya tidak berbeda dengan orang beragama dalam konteks sama-sama memiliki mind-set terhadap suatu dogma tertentu dan landasan berpikir tertentu.
  • Ateis punya Tuhan (Tuhan orang ateis adalah "Science")
  • Ateis punya kitab suci (Kitab suci orang ateis adalah buku-buku yg berisi content "menentang eksistensi Tuhan", salah satunya seperti buku On the origin of spesies. Ateis punya nabi (Nabi orang ateis adalah tokoh-tokoh ilmuwan yg mendukung teori ketiadaan Tuhan, seperti Charles Darwin, Richard Dawkins, dan toko-tokoh lain), orang ateis akan sangat kagum dengan "nabi" mereka ini, gak jauh beda dgn orang beragama, jangan coba-coba menghina atau mengkritik Darwin, orang ateis akan mati-matian membelanya.
  • Ateis punya umat dan kelompok (jika kita search segala hal terkait dgn atheist di internet maka kita akan menemukan bbrp komunitas ateis yang berkelompok untuk tujuan tertentu di antara mereka) Coba anda googling, search keyword "atheist community".
  • Ateis punya visi dan misi (salah satu visi orang ateis adalah mengedepankan science dan mengagungkan segala hal yang dibuat oleh teknologi manusia utk kepentingan manusia dengan konsep dasar "manusia bisa jalan sendiri tanpa mengandalkan sang pencipta Tuhan,") Kemungkinan besar ateis juga punya misi utk menyebarluaskan pahamnya kpd semua orang di dunia ini, dengan berbagai metode pendekatan, sama saja seperti para penginjil agama Kristen atau Da'i agama Islam.
  • Ateis punya dogma atau doktrin (salah satu dogma orang ateis adalah "Filsafat Materialism"), setiap orang ateis yg menentang konsep materialism dan mulai percaya terhadap konsep penciptaan dan supranatural maka mereka adalah "orang murtad" atau dgn kata lain tidak lagi sah dianggap sebagai kelompok orang ateis (karena telah murtad dari "agama ateis"), andaikatapun mau dikelompokkan mungkin bisa masuk menjadi kategori Agnostic atau Skeptis, bukan lagi Atheist.
  • Orang ateis juga bisa fanatik seperti orang beragama. Jangan harap orang ateis mau open-mind sedikitpun terhadap konsep "adikodrati", "adimanusiawi", "supranatural" yang dalam bahasa agama disebut dgn Tuhan, apalagi mau open-mind thd kitab suci. Walaupun mereka mengaku open mind tapi pada dasarnya hanya mau terbuka sebatas terkait dalam ruang lingkup science dan filsafat materialism, di luar itu close-minded. Justru saya menilai orang beragama lebih mau open-mind utk mendalami dan mempelajari buku-buku science ketimbang orang ateis menyelidiki kitab suci. Jangan harap orang ateis mau disuruh baca seluruh isi kitab suci dan mengadakan metode perbandingan agama untuk membuktikan bahwa semua agama salah dan itu tidak perlu ada, sesuai klaim mereka.
  • Orang ateis lebih cenderung alergi terhadap kitab suci, dan prejudice serta bersikap generalisasi dalam menghakimi agama dan eksistensi Tuhan. Mereka juga akan mati-matian membela "nabi" mereka yaitu para scientist jika kita tentang keras, nggak jauh beda dgn orang beragama yg akan marah jika nabi mereka ditentang (nb: walaupun tidak semua orang beragama seperti itu).
Jadi janganlah anda semua terlalu berharap banyak bhw orang ateis akan mau membuka wawasan berpikir mereka seluas-luasnya untuk memahami agama, kitab suci atau keTuhanan, saya pribadi sanga pesimis dgn hal itu. Mereka mencari dalih dengan selalu menuntut bukti kepada orang teis tentang eksistensi Tuhan, memangnya orang beragama (teis) itu siapa? Asisten Tuhan apa? Mereka sebenarnya tahu jawabannya apa, sudah jelas-jelas orang beragama mendasarkan kepercayaannya kpd Tuhan dgn 2 dasar bukti (keberadaan alam semesta dan segala mahluk hidup yg merupakan "saksi bisu" terhadap "intellegent design" sang pencipta, dan kitab suci.) ….lalu bukti apalagi yg diminta orang ateis ? mereka sendiri bingung menjawabnya dan muter-muter gak karuan. Makanya saya berani mengatakan bhw orang ateis juga bisa dikategorikan fanatik. Jika orang beragama bisa fanatik terhadap kepercayaannya maka orang ateis juga fanatik terhadap ketidakpercayaannya.

23 comments:

blog taufik said...

salam kenal aja

Usman Surya said...

Yang terhormat saudara Ronces, saya Tayo Sandono dari grup ateis. Kesimpulan2 yang anda buat sangat menarik untuk dikaji. Maka dari itu saya telah membuat komentar panjang lebar mengenainya. Saya menuliskannya di blog saya. Silakan kunjungi dan bila sudi, memberi komentar mengenainya.
Tentang Ateis punya Tuhan ada disini http://segalahobi.blogspot.com/2008/01/apakah-tuhan-atheist-adalah-sains.html
Mengenai Ateis punya kitab suci ada disini http://segalahobi.blogspot.com/2008/01/atheist-memiliki-kitab-suci.html
Mengenai Ateis punya umat dan kelompok ada disini http://segalahobi.blogspot.com/2008/01/apakah-ateis-punya-umat-dan-kelompok.html
Mengenai Ateis punya visi dan misi ada disini http://segalahobi.blogspot.com/2008/01/link-logika-yang-berguna.html
Mengenai Ateis punya dogma atau doktrin ada disini http://segalahobi.blogspot.com/2008/01/apakah-atheist-memiliki-dogma-dan.html
Mengenai Orang ateis juga bisa fanatik seperti orang beragama ada di sini http://segalahobi.blogspot.com/2008/01/apakah-atheist-fanatik.html
Mengenai Orang ateis lebih cenderung alergi terhadap kitab suci, ada disini http://segalahobi.blogspot.com/2008/01/apakah-ateis-alergi-terhadap-kitab-suci.html

Terima kasih telah membuat saya meninjau ulang pemahaman saya kembali.

Salam

Tayo Sandono

dewi said...

Dari list yang anda buat, ada perbedaan mendasar yang tidak anda sebutkan antara agama dengan ateis, ialah bahwa menjadi ateis bersifat sukarela. Tidak ada indoktrinasi untuk percaya kepada Tuhan tertentu, kitab suci ttt,conformity kpd kelompok ttt, dan penyebaran ajaran yang semuanya bersifat paksaan dan kekerasan sebagaimana terdapat dalam agama. Namun ada ideologi yg memiliki sifat mirip agama, yaitu komunisme: harus memuja Marx,Stalin atau Mao,wajib membaca dan percaya buku mereka,tidak boleh pindah ke negara non komunis,dan penyebaran ideologi ke sebanyak mungkin negara dilakukan dengan kekerasan. Tetapi ateis yg anda bahas tampaknya bukan komunisme, jadi kurang sesuai.

dewi said...

"saya menilai orang beragama lebih mau open-mind utk mendalami dan mempelajari buku2 science ketimbang orang ateis menyelidiki kitab suci.." "orang ateis cenderung alergi thd kitab suci"

Tahukah anda, bahwa sebagian besar ateis berasal dari keluarga beragama dan mendapat pendidikan agama yg baik dari kecil? Justru krn mereka sangat serius membaca dan MEMIKIRKAN KITAB SUCI maka mereka kemudian menemukan kejanggalan2 di dalamnya, antara lain kontradiksi antara satu ayat dg ayat lainnya, antara realitas dg tulisan dalam teks, antara satu agama dg agama lain. Dan jka orang religius berhenti bertanya ketika menemukan kejanggalan dalam kitab suci atau ajaran agamanya (krn takut neraka), maka ateis tidak. Ia terlalu kritis, rasional dan terlalu jujur utk berpura2 mengerti dan menerima begitu saja penjelasan yg - misalnya - jelas bertentangan dg realitas atau sejarah. Bahkan Bunda Teresa, yg tdk diragukan lagi keimanannya, tidak mampu lagi menyangkal rasionalitasnya ketika terus menerus menghadapi realitas yg keras (kontradiktif dg doktrin agama) dr kegitannya menolong org2 yg terbuang, sehingga kehilangan kepercayaan - ia tdk lagi berdoa sejak 40 th yg lalu, dan memilih menjadi hipokrit (Mother Teresa:COme Be My Light).

Theist justru sgt arogan; sebelum membaca satu pun buku biologi,fisika, sejarah (apalagi mempelajari dg serius) langsung menuduh bhw suatu teori salah, hanya krn bertentangan dg kitab sucinya (Itu sebabnya dunia hrs menunggu 1500 th utk mengetahui bhw bumi mengelilingi matahari).

Hamori semua ateis telah membaca dan mempelajari kitab suci, ritual agam, kisah nabi2, karena semua itu pelajaran wajib (indoktrinasi) sejak kecil selama bertahun2, sehingga jika ia menjadi ateis bukan karena tidak tahu, tetapi justru krn tahu dan memikirkannya dg serius sebelum meninggalkannya. Karena itu ateis biasanya cerdas, kritis, dan membaca lebih banyak, bahkan mengenal isi kitab suci lebih baik. Sebaliknya teis, banyak yg tdk pernah meneliti (membaca dan memikirkan ayat demi ayat) kitab sucinya krn dr awal sdh menganggapnya 100% benar, dan sangat jarang bersedia membaca atau mempelajari hal2 di luar kepercayaannya - selain krn buku demikin lebih sulit diperoleh, juga krn teis sudah merasa paling benar, sehingga merasa tidak perlu melakukannya. Teis tdk mau keluar dr comfort zone. Ya, jika langsung mempercayai satu kitab suci saja sudah menjamin keselamatan selama2nya, utk apa mengambil risiko membaca/mempelajari/memikirkan hal2yg bisa membahayakan keselamatan? Mungkin itu sebabnya hal2 yg berguna (misalnya penemuan2 yg kelak juga akan memudahkan hidup teis) banyak ditemukan ateis,yg tidak takut berpikir utk membuka rahasia alam.

dewi said...

"It is tempting to conclude that if he (God) exist, it is the atheists and agnostics that he loves best, among those with any pretensions to education. For they are the ones who have taken him most seriously". (Galen Strawson)

zhen said...

Dewi I totally agreed with you .
saya sangat senang , ada org lain yg berpendapat demikian, karena jika saya yang tulis hal berbau demikian maka saudara gultom akan mengecap saya "suka menyerang dia" seperti yg sudah sudah.
Salam kenal dewi

Ronald T.Gultom said...

Dear Usman Surya / Tayo Sandono,

Mohon maaf karena kesibukan, saya baru sempat masuk lagi ke blog saya, jadi baru sempat nulis balasan comment.

Terimakasih krn sudah bersedia membaca blog saya dan rela pula memberikan argumen terhadap tulisan saya tsb.

Saya sudah baca-baca blog anda tentang sanggahan terhadap argumen saya. Pada dasarnya saya sependapat dengan anda jika penjelasan anda itu ditinjau dari sudut pandang / perspektif atheist atau agnostik.

Tapi jika ditinjau dari perspektif netral (bukan theist dan bukan pula agamais/theist) maka tulisan anda itu lebih "bernada" membela konsep atheistik.

Begini:
Tulisan saya yang berjudul - "Ateis = Agama ? suatu perspektif" adalah suatu wacana pemikiran serta renungan yang saya tuangkan dalam bentuk tulisan setelah lama berdiskusi dengan orang-orang Atheist di dalam forum diskusi kelompok ateis indonesia.

Perhatikan kembali bhw saya mengawali dgn kata pengantar demikian:

Ateis sebenarnya sama dengan "Agama" atau "Kepercayaan".

Menurut sebuah kamus, salah satu arti dari kata RELIGION = A religion is a set of beliefs and practices generally held by a human community, involving adherence to codified beliefs and study of ancestral or cultural traditions, writings, history, and mythology, as well as personal faith.

Saya berbicara sebagai seorang netral yang menilai ateis sama dengan agama dalam arti kedua-duanya sama-sama merupakan "kepercayaan" atau "pegangan hidup" atau "pola berpikir yang dapat menuntun seseorang".

Sehingga menurut kacamata netral saya, entah seseorang itu beragama maupun tidak, teis maupun ateis, kedua-duanya bisa berimplikasi sama. Bisa sama-sama fanatik, bisa sama-sama mengabdi kpd sesuatu, dsb.dsb. Walaupun secara teknis memang berbeda seperti yang anda jelaskan. Secara teknis orang beragama / teis pergi ke Masjid atau Gereja, secara teknis orang beragama berdoa kepada Tuhan. Tetapi secara konseptual orang ateis juga sebenarnya sama saja dgn orang beragama dalam hal mereka dapat juga pergi ke suatu tempat atau forum tertentu yang berisi orang-orang sepemikiran.

Gerejanya atau Masjidnya orang ateis bisa saja adalah komunitas kelompok ateis yang sedang berkumpul utk suatu maksud tujuan tertentu misalnya (wadah organisasi tertentu misalnya yang secara berkala dirancang utk media berkumpulnya para pemikir dan anggota atheist).

Sekali lagi saya hanya sedang menganalisa dan menilai dari perspektif saya pribadi bahwa "atheis is a religion".

Contoh Analogi: Seseorang yang sangan meng-idolakan seorang penyanyi Rock misalnya dapat dikatakan sedang menuhankan penyanyi tersebut. Menjadikan idolanya tsb sebagai "Tuhan" bagi dirinya. Orang yg fanatik terhadap idolanya tersebut bisa meniru habis-habisa gaya sang idola, gaya rambut, gaya berpakaian, memajang foto-foto idolanya di dinding kamar, mengalungkan di leher gambarnya, dan bahkan men-tatoo gambar idolanya di tangan. Ada bahkan yang menjadikan lirik-lirik lagunya sebagai "Kitab Suci" sebagai penuntun jalan hidupnya. Saya ingat teman saya dulu yang sangat fanatik terhadap group music The Beatles (Beatles Maniac) menjadikan setiap lirik lagu Beatles sebagai pedoman berpikir dan bertindak bagi dia. Itulah yang saya maksudkan bhw segala hal bisa dikategorikan sbg Religion dalam perspektif tertentu.

Semoga dapat dipahami.

>Salam<
RTG

Ronald T.Gultom said...

Dear Dewi, Salam kenal.

Dalam beberapa segi, saya sependapat dengan tulisan yang anda posting di kolom comment ini. Tetapi ada beberapa hal lain saya tidak sependapat, anda sepertinya terlalu terburu-buru mengklaim sesuatu yang anda sendiri kurang kuasai. Dan lagipula sepertinya anda agak keliru menilai saya. Saya tidak mewakili agama apapun, dan saya tidak membela agama manapun. Saya berupaya sebisa-bisanya utk berdiri di posisi Netral dalam menilai Teis maupun Ateis. Untuk lebih memahami pola berpikir saya, silahkan anda baca-baca tulisan saya yang lain di:

http://rotogu.blogspot.com/2006/02/ada-apa-dengan-agama_12.html

http://rotogu.blogspot.com/2006_02_01_archive.html

----------------------------------
Anda menulis:
Theist justru sgt arogan; sebelum membaca satu pun buku biologi,fisika, sejarah (apalagi mempelajari dg serius) langsung menuduh bhw suatu teori salah, hanya krn bertentangan dg kitab sucinya (Itu sebabnya dunia hrs menunggu 1500 th utk mengetahui bhw bumi mengelilingi matahari).
-----------------------------------
Saya sependapat bahwa ada banyak kalangan pempin agama yang arogan padahal "bodoh", tapi btw. darimana anda tahu bahwa klaim para theis dahulu kala yang memvonis para ilmuwan seperti Galileo atau Copernicus mendasarinya dari kitab suci? kitab suci mana? di ayat mana? yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan dikala itu? justru para pemimpin agama pada waktu itulah tersebutlah yang "buta", alias bodoh dan "sok-tahu" sehingga keblinger memvonis sesuatu yg tidak dikuasainya.

Satu hal yang perlu anda pahami, ada tiga entity yang selalu menimbulkan ambigu, absurd dan ketidak jelasan dari para atheist karena sering mencampuradukkannya menjadi satu kesatuan entitas, yaitu:

1. Kitabsuci
2. Agama
3. Tuhan

Ketiga entitas diatas tidak selalu dapat dipadupadankan atau dicampuradukkan, ketiganya terpisah-pisah dan independent. Kita harus mengkajinya secara kontekstual dan proporsional.

- Kitabsuci TIDAK SELALU SAMA atau berbanding lurus dengan Agama
- Tuhan TIDAK SELALU berbanding lurus dengan Kitabsuci atau Agama
- Agama TIDAK SELALU berbanding lurus dengan Tuhan atau Kitab Suci

Jika seluruh agama di dunia ini "rusak" dan dilenyapkan tentu tidak akan berpengaruh sedikitpun terhadap eksistensi Tuhan (jika Dia memang ada dan mahakuasa) - ini Logic lho.

Jika seluruh Kitabsuci di dunia ini dibakar dan dilenyapkan tentu tidak akan berpengaruh sedikitpun terhadap eksistensi Tuhan (jika Dia memang ada dan mahakuasa) - ini Logic juga lho.

Jika Tuhan memang ada, maka tentulah Dia tidak akan mau dibatasi oleh Agama apapun! jika Kitabsuci yang sejati ada maka tentulah dia tidak akan mau "dikontrol" atau "disetir" oleh Agama apapun.

Jadi jangan menghakimi kitabsuci atas dasar dogma Agama, atau menghakimi Tuhan atas dasar dogma Agama. Perlu riset yang seksama, comprehensive dan mendalam untuk sampai kepada tahap kritikus Tuhan, tidak sekedar ikut-ikutan menjadi Atheist tanpa ada dasar keilmuan yang bersifat edukatif (bukan sekedar agnostikisme) karena jika demikian tak ada bedanya dengan kaum fanatik agama.

Lagipula, darimana anda begitu yakin bahwa semua orang-orang Atheis PASTI sudah riset segala hal dan tidak cuma ikut-ikutan sama seperti orang fanatik agama.

- Teis bisa Fanatik terhadap kepercayaannya. (Jika tanpa landasan keilmuwan yg bersifat open-mind dan comprehensive)

- Ateis bisa Fanatik terhadap Ketidakpercayaannya. (Jika tanpa landasan keilmuwan yg bersifat open-mind dan comprehensive)

- Agnostik bisa Fanatik terhadap Keragu-raguannya. (Jika tanpa landasan keilmuwan yg bersifat open-mind dan comprehensive)

Ada 2 kemungkinan yang dapat terjadi terhadap seseorang yang kecewa terhadap Agama:

1. Meninggalkan agamanya dan langsung menjadi Atheist.

2. Meninggalkan agamanya namun tidak langsung menjadi Atheist melainkan mencoba riset lebih mendalam utk membuktikan bahwa tidak adalagi agama yang benar, tidak adalagi kitabsuci yang benar maka dengan demikian tidak adalagi Tuhan.

Nah untuk kasus point yang ke dua ini bisa berimplikasi terhadap 2 Hal lagi :

1. Setelah Riset mendalam ternyata tidak ada satupun agama dan kitabsuci yang benar, maka kesimpulannya jadilah dia seorang Atheist SEJATI.

2. Setelah Riset mendalam ternyata ada agama dan kitabsuci yang sepertinya benar, berbeda dengan agama atau kitabsuci yg sebelumnya dianutnya, maka dia tidak jadi Atheist. Mungkin bisa Agnostic atau mungkin juga tertarik utk menyelidikinya lebih jauh dan lebih seksama lagi.

Semoga dapat dipahami.

Salam,
Ronald T.G.

Ronald T.Gultom said...

Tanggapan utk comment dari Zhen.

Trimakasih sebelumnya krn sudi mampir di blog saya.

Tapi saya terpaksa harus berterus terang kpd anda Zhen. Bahwa memang style komentar anda "jauh berbeda" dengan style
sdri.Dewi dan sdr.Tayo Sandono.

Oleh karena itu sepertinya anda perlu belajar beberapa hal dari ibu Dewi atau pak Tayo bagaimana cara berargumen yang bernuansa "tidak menyerang pribadi orang" melainkan "menyerang argumen orang".
Jadi diskusi yg menarik dan edukatif adalah apabila ada pertukaran informasi yg bersifat argumentative, jadi "seranglah pendapat orang tapi jangan serang pribadi orang".

Sdr.Zhen katakan:
Dewi I totally agreed with you.

Apanya yang anda setujui? "totally agreed"?, apakah hanya krn sdri.Dewi berpendapat "berbeda" dari saya maka anda otomatis setuju secara total tanpa ada kajian detailnya? ....hehehe.

Coba renungkan analogi ini: Ada banyak para peserta demonstran mahasiswa (yg masih belum lulus) yang "ikut-ikutan" berdemo di bunderan HI. Mereka ikut2an demo tentang sesuatu yang pada dasarnya mereka sendiri tidak kuasai akar permasalahannya, katakanlah misalnya demo ttg hal-hal yg terkait dgn masalah politik. Coba tanyakan kpd para mahasiswa yg berdemo itu apakah mereka semua benar2 menguasai dan paham apa yg mereka tuntut, latarbelakangnya, sejarahnya, rumusannya, visinya, misinya, dsb...dsb. Saya yakin yg benar2 menguasai hanyalah beberapa gelintir orang saja yg memang benar seorang tokoh kunci dlm demo tsb. Demikianlah juga halnya saya perhatikan dari beberapa media forum diskusi ateis dan agnostic di indonesia yg pernah saya masuki. Kebanyakan hanya ikut2an saja dan asal ngomong "berbeda" saja. Mereka seolah-olah seperti para kritikus Tuhan yang sedang "berdemo" thd agama, kitabsuci dan keTuhanan tanpa terlebih dahulu menguasai akar duduk persoalannya secara mendalam serta comprehensive.

Ada banyak kritikus agama dan kitabsuci yang memang benar2 kompeten utk menempatkan dirinya menjadi kritikus sejati, tirulah mereka itu sblm berani memposisikan diri sebagai pihak oposan. Saya banyak membaca tulisan kritikan bermutu tinggi dari mereka terhadap agama dan kitabsuci (sebab mereka memang benar2 sudah terjun utk riset mendalam). Dan ada banyak kritikus agama & kitabsuci yang tidak menjadi atheist melainkan masih terus menerus mengadakan riset utk mencari dan menemukan kebenaran sejati.

Contoh: seorang kritikus film harus benar2 sudah menonton film tersebut dan memahami benar alur ceritanya dari awal, proses berjalan hingga akhir, sehingga kritikannya akan bermutu tinggi. Demikian juga seorang kritikus agama dan kitabsuci harus benar2 sudah pernah mengadakan riset study perbandingan agama dan perbandingan kitabsuci terlebih dahulu barulah dia dpt dikategorikan sbg kritikus yg bermutu. Jika belum demikian, duduklah manis dipojok sana sbg pengamat pasif.

Semoga sdr.Zhen dpt memahami tulisan saya tsb.

>>salam<<

zhen said...

Halo Saudara Gultom ,
sepertinya sudah cukup kita bertukar pikiran ya , dan sudah cukup saling mengenal lama ya dari tulisan2 terdahulu.

Setelah lama saya tidak membuka blog kamu, akhirnya saya buka lagi pada saat ini .
Memang kelihatan sekali kita ini sangat berbeda pandangan dari dulu.
dan lewat tulisan/kata kata sulitlah utk menjelaskan secara detail pokok permasalahan atau belief yg ada di kepala ini karena tidak bisa dibahas secara tuntas 100% dan bisa menimbulkan “kerancuan” dan perdebatan yg tidak berakhir.
Contoh :

1. Kitabsuci
2. Agama
3. Tuhan
Ketiga entitas diatas tidak selalu dapat dipadupadankan atau dicampuradukkan, ketiganya terpisah-pisah dan independent. Kita harus mengkajinya secara kontekstual dan proporsional.
- Kitabsuci TIDAK SELALU SAMA atau berbanding lurus dengan Agama
- Tuhan TIDAK SELALU berbanding lurus dengan Kitabsuci atau Agama
- Agama TIDAK SELALU berbanding lurus dengan Tuhan atau Kitab Suci

Berarti disini adanya ketidakpastian antara Kitab Suci , Agama dan Tuhan
Dan malah setiap kali anda selalu meminta untuk menggali Kitab Suci yg anda yakini adalah yg benar dan Absolute, dan ternyata di saat tertentu anda malah membantah hubungan Kitab Suci , Agama dan Tuhan .

Jadi selama ini saya jg salah memahami anda, ternyata anda adalah seorang pedebat sejati. apapun yg diperdebatkan tidak lah masalah yg penting ada berdebat, ibaratnya pendekar yg bertarung dgn Jurus 1 , kalo kalah ganti Jurus 2 , trus ganti Jurus 3 , Jurus 4 ... dan selanjutnya berganti terus , yg penting adalah berdebat oooppsss…. Sori anda pasti akan tidak setuju dgn kata berdebat tapi saling bertukar argument / pendapat mencari kebenaran sejati (emang beda ? :) )

Daripada saya meresearch Kitab Suci , menghabiskan waktu lama dan jadi seperti anda.… saya lebih memilih untuk mencintai Anda apa adanya saudara Gultom ….

Maka habislah pencarian saya dari sejak awal kita ketemu ….

God Bless You , dan semoga kita semua berbahagia ….

Ronald T.Gultom said...

Rekan Zhen yang saya kasihi,

Sayang sekali jika "anda menyerah atau mundur sebelum masuk arena pertandingan", apa sebenarnya pertandingan yang saya maksudkan, yaitu pertandingan dalam proses exploring and searching for the ultimate truth. Apakah kebenaran sejati itu ada? apakah segala hal di dunia ini benar? atau apakah segala hal palsu? atau apakah ada yang palsu dan ada yang sejati? mana yang palsu dan mana yang sejati? apa indikatornya atau parameternya? mengapa kita perlu concern ttg hal itu?.... dst..dst..dst. Itulah ajakan saya sejak awal mula kita berkenalan via blog di media internet ini.

Ok, seperti yg sudah pernah terjadi sebelumnya, saya harus menjelaskan lebih tajam lagi agar anda dapat memahami esensi tulisan saya:

Mengapa saya katakan :
------------------------
- Kitabsuci TIDAK SELALU SAMA atau berbanding lurus dengan Agama........... (KARENA ADA BANYAK KITABSUCI YANG BEREDAR DI DUNIA INI, dan tiap-tiap kitab "mengklaim" berasal dari ilham illahi, sehingga perlu pengkajian yg mendalam dan comprehensive utk memahami mana yg sejati dan mana yang palsu)

- Tuhan TIDAK SELALU berbanding lurus dengan Kitabsuci atau Agama........... (KARENA ADA BANYAK VERSI TUHAN YANG DIKENAL DI DUNIA INI, dan masing-masing Tuhan "diklaim" oleh umatnya sebagai Tuhan sejati oleh mereka yg menyembahnya, sehingga perlu pengkajian yg mendalam dan comprehensive utk memahami mana yg sejati dan mana yang palsu)

- Agama TIDAK SELALU berbanding lurus dengan Tuhan atau Kitab Suci........... (KARENA ADA PULUHAN BAHKAN RATUSAN VERSI AGAMA DI DUNIA INI, Belum lagi jika dihitung dgn jumlah denominasi dan sekte-sekte yg ada, dan masing-masing Agama "diklaim" oleh umatnya sebagai Agama sejati sedangkan Agama lain adalah sesat, sehingga perlu pengkajian yg mendalam dan comprehensive utk memahami mana yg sejati dan mana yang palsu)

Contoh: apakah otomatis Agama Katolik adalah representasi dari Tuhan? jika demikian bagaimana dong dengan Protestan? Atau apakah otomatis seluruh denominasi agama susunan Kristen otomatis representasi dari Tuhan? lalu jika demikian bagaimana dong dgn agama Islam atau Judaisme, dll?

Itulah maksud saya bhw ketiga entity (Agama, KitabSuci, Tuhan) tidak otomatis terkait secara langsung satu dgn lain, perlu masuk dlm penelitian dan pengkajian lebih dalam dan semua penilaian nantinya tergantung pada konteks risetnya masing2 sdr.Zhen.

Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan, saya hanya menuangkan hasil renungan pribadi saja.

Semoga anda dapat memahaminya.

Salam,
RTG

zhen said...

Semoga suatu hari anda juga bisa memahami ttg arti dan tujuan "mencintai"

Regards
Zhen

zhen said...

oh ada yg harus saya tambahkan mas gultom dari comment terakhir.

Sayang sekali jika "anda menyerah atau mundur sebelum masuk arena pertandingan"

saya sendiri tidak menyerah atau mundur mas gultom, karena pada dasarnya arena pertandingan ini adalah tidak ada.

pertandingan ini ada karena kita yg meng ada kannya.

Mungkin suatu saat setelah anda masih bertahan di arena pertandingan ini , anda bisa menulis blog lagi ttg pertandingan anda, saat saat sengit anda bertanding dan segala pengalaman anda dalam pertandingan ini .

Bagi saya sendiri. pertandingan ini sudah berakhir .... atau pun jika belum , maka saya akan disiplin untuk mengakhirinya.

Selamat Bertanding ...

Semoga Kita semua berbahagia dan menjadi terang di dalam gelap ..

Ronald T.Gultom said...

Rekan Zhen yang saya kasihi,

Saya paham betul apa arti mencintai, dan saya juga sudah mempraktekkannya dalam kehidupan saya sehari-hari dari sejak dulu(anda tidak usah kuatir soal itu). Btw. mengapa anda mengatakan kpd saya "Semoga suatu hari anda juga bisa memahami ttg arti dan tujuan "mencintai"? pernahkah kita bertemu? tidak bukan? kita hanya kenal lewat media internet / blog / chatting, anda belum kenal siapa saya dan seperti apa pribadi saya yg sebenarnya, demikian juga saya tidak mengenal kepribadian anda secara langsung selain melalui dunia cyber, lalu bagaimana anda bisa mengatakan hal itu? just curious aja sih.

Lagipula sdr.Zhen apa kaitannya persoalan Riset dengan Mencintai, itu adalah dua hal yang berbeda. Setiap orang baik secara personal maupun kelompok orang di dunia ini sedang melakukan riset, hanya saja berbeda-beda bidang risetnya. Ada yang riset ttg Teknologi, Biologi, Geologi, Sejarah, Antropologi, Arkeologi, Antariksa, Agama, KitabSuci, Tuhan, dsb. Nah saya hanyalah salah seorang yang concern atau peduli utk juga ikut melakukan riset atau penyelidikan secara pribadi disertai dgn renungan diri terhadap salah beberapa jenis riset tersebut.

Nah penyelidikan dan renungan diri itu saya tuangkan dalam bentuk tulisan, itu saja, am I clear?. Jadi apa kaitannya riset dan renungan pribadi saya dgn persoalan "mencintai", saya kira tidak perlulah saya testimoni di sini ttg bidang-bidang apa saja yg sudah saya geluti dan lakukan dgn tujuan "kasih" dan "mencintai", cukuplah hanya saya dan Tuhan saja yang tahu.

Dan satu hal lagi sdr.Zhen, saya tidak sedang bertanding apa-apa di sini (seperti penilaian anda). Saya sekali lagi hanya sedang melakukan perenungan diri dan penyelidikan pribadi, itu saja. Thanks krn sudah menyempatkan waktu anda utk bertukar pikiran dgn saya, bye-bye.


Salam damai,
Ronald T.G.

Anonymous said...

Halo , saya kira tidak akan bagus jika saya tidak reply ya ... :)
sebenarnya apa yg saya ungkapkan pada yg terakhir sudah jelas, dan ternyata mungkin masih ada yg tidak paham saja :
Anda memnulis
"Semoga suatu hari anda juga bisa memahami ttg arti dan tujuan "mencintai"? pernahkah kita bertemu? tidak bukan? kita hanya kenal lewat media internet / blog / chatting, anda belum kenal siapa saya dan seperti apa pribadi saya yg sebenarnya, demikian juga saya tidak mengenal kepribadian anda secara langsung selain melalui dunia cyber, lalu bagaimana anda bisa mengatakan hal itu? just curious aja sih.

Kepada siapapun kita harus mendorong org untuk mencintai ... dan saya jg mempraktekkan hal yg sama , dan dari sebagian byk yg saya sudah ketemu cuman anda saja yg sewot ....
kenapa ya ?
Apa mgkn anda adalah mempunyai hati seperti Bunda Theresa hehehe....
ga tau deh seperti yg anda katakan hanya anda dan Tuhan Anda yg tau saja ...
Cinta itu tidak pernah berakhir , hanya org yg memahami cinta yg akan mengerti arti dari Tuhan ...

Kalo anda sudah mengerti ya sudah ... kalo anda tidak mengerti ya sudah ...

dan pemakaian kata "pertandingan" sih anda yg mulai pakai ya seperti disini
"pertandingan dalam proses exploring and searching for the ultimate truth."
apakah saya mengatakan bertanding dgn saya ? tidak bukan ?

Salam berbahagia

Rgrds
Zhen

Anonymous said...

Geez man, you are so dead wrong about this...

read something from the english world, will you?

Anonymous said...

Waduh, kok malah ateis dikatakan close-minded? Bukan justru sebaliknya? Kami berhasil lepas dari dogma yang mengukung sepanjang kami hidup lalu menerima kenyataan bahwa Tuhan itu tidak ada.

That's pretty open-minded things, if you asked me.

Anonymous said...

Wow ternyata tanggapan anda tentang atheist sangat dangkal. Kalau ingin mengetahui tentang atheist kenapa tidak mencari sumber yang banyak dulu sebelum membuat kesimpulan. Banyak kok tinggal browser aja di Internet ini ada salah satu sumber dari wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Ateisme. Bagaimana atheist bisa disamakan dengan agama ? seperti anonymous said Kami berhasil lepas dari dogma yang mengukung sepanjang kami hidup lalu menerima kenyataan bahwa Tuhan itu tidak ada.

That's pretty open-minded things, if you asked me.

lovepassword said...

Kalo masalah ini mah relatip. Ada atheis yang open minded ada juga yang nggak. Ada yang jadi atheis karena openminded bisa juga sebaliknya cuma meme. Ada atheis yang memang benar2 logis ada juga yang sok logis tapi aslinya "beriman". Hik hik hik. Saya tahu ada beberapa kalian tersinggung jika dikatakan beriman. Padahal itu penghargaan lho. Hi Hi hi. Kalo ada yang yang ingin tahu lebih jauh mengapa kalian saya anggap masih beriman. Silahkan cari di blognya Karl Karnadi atau Adit. Hallo Mister Karnadi apa kabarmu? Hallo Dit...Hallo Hallo

lovepassword said...

Kami berhasil lepas dari dogma yang mengukung sepanjang kami hidup lalu menerima kenyataan bahwa Tuhan itu tidak ada.

===
Oh yeah. Bagimana bisa anda pastikan anda tidak sekedar berpindah dari dogma yang satu ke dogma yang lain? Smile up men

lovepassword said...

http://lovepassword.blogspot.com/2009/07/ateis-menjawab-gambit-pascal.html

Escheroid said...

Tuhan tidak perlu dijadikan penjahat megalomaniak. Sama seperti Tuhan tidak perlu dibela & dipuja agar merasa kuat & berkuasa. "Tuhan" di quotes itu hanyalah tokoh fiktif yang mencerminkan keinginan pengarangnya, tidak jauh beda dengan "tuhan" yang perlu dibela & dipuja agar berkuasa & bertambah kuat

*Perasaan lebih mulia detected*

Escheroid said...

Dari pandangan saya, ada versi ateis lain, yaitu yang tuhannya rasa kebenaran dirinya, serta kitab sucinya selain yang anda sebut juga ditambah sistem pengetahuan dalam pikirannya yang baginya konsisten hingga menolak informasi yang tidak sesuai, kamus beserta ayat2 definisinya, serta sains. Bisa juga rasionalitas sebagai kitab suci atau "nabi" pada tingkat yang setara dengan sains