16 August 2007

"iman" - Suatu paradox bagi orang Ateis

Orang-orang ateis seringkali alergi dengan satu kata ini: "iman". Buat mereka yang namanya iman atau kepercayaan itu haruslah selalu didasari atas sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan, dialami dan dibuktikan oleh "mata kepala sendiri", kebanyakan argumentasi orang ateis adalah seperti itu. Apakah anda juga demikian? ada artikel yang pernah saya baca tentang konsep ateis, bahwa mereka menganut filsafat "materialist", meyakini hanya pada materi atau obyek yang dapat dilihat / disentuh dsb... dsb. Karena Tuhan tidak dapat dilihat dan bukan materi, maka sulit untuk dipercaya.

Saya ingin menyanggah argumentasi itu: Sebenarnya dalam setiap aspek kehidupan kita, tanpa sadar kita banyak menggunakan "iman" termasuk orang ateis. Ketika anda makan di Restaurant apakah anda pergi ke dapur dulu untuk melihat bagaimana juru masak meproses masakan sebelum dihidangkan dan kita makan? hampir semua orang terima begitu saja makanan yang dihidangkan di restaurant, dan kita memakannya dengan "iman" dalam arti kita percaya gitu saja dengan makanan itu (bahkan anda tidak akan tahu apakah makanan itu diludahi dulu oleh sang pelayan di dapur yang mungkin sedang kesal karena gajinya tidak naik-naik). Ketika anda berobat ke rumah sakit atau ke dokter, anda pasrah dengan konsep "iman" sehingga percaya begitu saja dengan obat-obatan yang disuntikkan ke pembuluh darah anda via infus atau via oral tanpa menyelidiki dulu apa jenis obatnya dan bagaimana obat itu diproduksi. Adakah di antara kalian orang ateis yang pergi ke pabrik obat dulu untuk meyakinkan anda bahwa produksi obat tersebut layak anda konsumsi?

Ada banyak produk makanan yang anda konsumsi bertahun-tahun dengan "iman" sebenarnya mengandung formalin setelah diselidiki oleh dirjen POM (pengawasan obat dan makanan) Ada lagi argumen aneh dari orang ateis ..... para agamais atau yang disebut oleh orang ateis dgn istilah "kaum domba bagi orang kristen" dan "kaum onta bagi orang Islam" adalah orang-orang bodoh yang mau percaya begitu saja dgn apa yang tertulis dalam kitab suci mereka padahal belum pernah bertemu langsung dengan nabi-nabi atau rasul yang menulis ayat-ayat spt yang tertulis dlm kitab suci mereka, dan tidak pernah mengalami sendiri sejarah atau kejadian yg tercatat dlm kitab suci tersebut. Memang tidak dpt dipungkiri ada banyak sekali orang beragama yang mau terdogmatis secara "buta" tanpa mendasari imannya pada pengetahuan yang seksama, banyak yang menggantungkan sepenuhnya kepercayaan mereka terhadap para pemimpin agama (pastor / pendeta /uztad / biksu, dll), Namun tidaklah semua orang beragama mau seperti itu, ada juga orang yang tidak seperti itu walaupun mungkin jumlahnya sangat minoritas.

Saya mau tanya anda (orang atheis): apakah anda pernah ikut dalam pertempuran merebut kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945? lalu kok kenapa anda mau merayakan hari kemerdekaan setiap tanggal 17 agustus? apakah anda pernah bertemu dengan tokoh-tokoh pahlawan seperti bung Karno, Jenderal Sudirman, dll? jika belum pernah ketemu lalu kenapa anda percaya akan catatan sejarah tentang itu semua? Apakah mungkin tokoh-tokoh filsuf seperti aristoteles, plato dan lain-lain adalah tokoh fiktif dari cerita dongeng padahal tokoh tersebut diyakini eksistensinya oleh berjuta-juta ilmuwan, filsuf dan budayawan?. Pertanyaan itu dapat juga kita pakai utk hal ini: Apakah masuk akal utk mengatakan bahwa Yesus yang dipercayai oleh jutaan penduduk dunia dan telah banyak merubah paradigma umat manusia adalah tokoh fiktif dalam dunia dongeng yang sebenarnya tdk pernah ada?.

Bahkan ada banyak orang ateis yang jangankan ketemu dengan tokoh-tokoh ateis, malah belum pernah sama sekali membaca seluruh buku karya tulis Darwin dan Karl Max tapi sudah mengklaim dirinya sebagai penganut paham Darwinisme dan Karl Max. Itu kan sama saja kalian orang ateis telah ter-dogmatis oleh ajaran dari tokoh-tokoh tertentu. Bahkan itu sama saja namanya dengan "ber-iman", bukan beriman terhadap kitab suci tetapi terhadap konsep berpikir para tokoh ateis. Maka jika demikian halnya, orang ateis menurut saya tidak ada bedanya dengan orang-orang yang beragama, kedua-duanya bisa saja ter-dogmatis dan ter-indoktrinasi, hanya saja didogma oleh sumber yang berbeda, namun prinsipnya sama-sama ber-iman atas dogma / ajaran / konsep / paradigma tertentu. Jaman dahulu ketika microscope belum diketemukan tidak ada seorangpun yang pernah melihat bakteri atau virus (karena hanya bisa dilihat pakai mikroskop), bayangkan jika pada waktu itu ada orang yg mengatakan bhw sebenarnya ada mahluk hidup yang sangat kecil namun tak dapat dilihat mata, bisa jadi orang tsb akan dianggap orang gila. Namun seraya teknologi berkembang ditemukanlah mikroskop sehingga orang bisa melihat bakteri. Jadi kesimpulannya jika manusia belum bisa melihat sesuatu bukan berarti sesuatu itu tidak ada, hanya keterbatasan manusia sajalah yg mengakibatkan hal itu. Demikian juga dengan eksistensi Tuhan, manusia tidak sanggup melihat Tuhan hanya karena keterbatasan dimensi manusiawi belaka - tidak menjadi bukti science bhw Tuhan itu tidak ada.

Saya pribadi sangat anti dengan iman yang membabi-buta dan fanatik yang didengungkan oleh para pemimpin agama dunia ini. Namun demikian pada suatu titik kulminasi tertentu walau bagaimanapun juga pada akhirnya iman tetap harus dibutuhkan, kitab suci (yang sejati) seharusnya memang merupakan sarana penyingkapan atas beberapa rahasia Illahi, tapi tidak segala hal tertulis dalam Alkitab. Kitab suci menyingkapkan siapa itu Tuhan sang pencipta, namun kitab suci tidak menjelaskan dari mana Tuhan berasal dan siapa yang menciptakan Tuhan, kitab suci hanya menyebutkan Tuhan sebagai "Alfa-Omega" yang artinya tak bermula dan tak berakhir (memiliki kelengkapan yang paling utuh dan absolute), nah untuk hal ini dibutuhkan iman. Maka kesimpulannya jika orang memakai ukuran kepercayaannya harus berdasarkan suatu kondisi seperti harus bertemu dan melihat serta membuktikan sendiri baru percaya, itu adalah argumentasi yg sangat picik dan sempit. Jadi keluarlah dari dimensi kerdil kalian - out from box. Jangan terus terkurung berkutat pada dimensi manusiawi yang amat-sangat terbatas.