Powered By Blogger
Showing posts with label Consideration. Show all posts
Showing posts with label Consideration. Show all posts

07 September 2006

Harapan Permanen atau Semu?

Tanggal 2 September 2006 yang lalu, saya ikut dalam jajaran panitia seminar sehari Stem Cell yang diadakan di Aula FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Saya kebetulan ditempatkan oleh ketua panitia dalam seksi dokumentasi sebagai kameramen lengkap dengan peralatan kamera handycam merk Sony dll layaknya seperti seorang wartawan, hal ini menguntungkan buat saya karena memungkinkan saya untuk menyimak acara-demi acara presentasi dengan baik. Berbeda dengan panitia lainnya yang mondar-mandir mengurus sarana dan prasarana baik sebelum maupun selama acara berlangsung sehingga mereka tidak bisa menyimak acara dengan baik seperti saya.

Selama acara presentasi berlangsung ada banyak hal yang cukup menarik buat saya, seraya para profesor, doktor dan para ahli di bidang kedokteran, farmasi, kimia dan biologi molekuler menyajikan bahan presentasinya secara bergantian, saya terus menyimak dengan seksama sambil membidikkan lensa kamera video saya. Selain pembicara dari FKUI, tampil pula pembicara-pembicara dari FK UGM Yogyakarta, FK UNAIR Surabaya dan pembicara tamu dari Singapura.

Inti dari semua presentasi tersebut adalah adanya suatu harapan di masa depan bagi para praktisi medis dalam mengatasi berbagai jenis penyakit dengan teknologi medis alternatif dalam hal ini Stem Cell. Memang sepertinya hal ini merupakan suatu harapan dan perkembangan medical science yang spektakuler. Saya ingat apa yang dikatakan Dr.Boenyamin PhD. salah satu presenter, beliau mengatakan bahwa stem cell masuk dalam kategori medical science generasi ke 5.

1. Herbal Medicine (pengobatan alamiah)
2. Synthetic Medicine
3. Antibiotic (Penicilin) Medicine
4. Biotechnology Medicine
5. Stem Cell Medicine

Pada saatnya nanti teknologi medis stem cell ini akan sanggup menggantikan metoda pegobatan cara lama dengan metoda baru, yaitu meng-injeksi sel aktif ke dalam organ tubuh yang sakit (misalnya jantung atau otak) melalui pembuluh darah, sehingga sel yang di-injeksi tersebut akan beregenerasi dan memperbaiki sel-sel yang rusak di dalam organ-organ tubuh manusia. Hanya saja dalam hati saya ironis sekali, para pembicara rata-rata sudah lanjut usia, rata-rata berumur diatas 60 tahun. Saya bertanya dalam hati apakah mereka masih hidup apabila kelak teknologi stem cell ini berhasil diterapkan di Indonesia? Karena salah satu presenter yang sudah berusia lebih dari 70 tahun menjelaskan bahwa teknologi stem cell tidak hanya bisa digunakan untuk pengobatan saja melainkan juga bisa digunakan untuk menghambat proses penuaan (Anti Aging Medicine) maka muncul pertanyaan berikutnya apakah para pakar-pakar tersebut yang nota bene sudah pada lanjut usia nantinya masih sempat menikmati teknologi stem cell itu? inilah yang saya sebut dengan ironi.

Saya bertanya lagi dalam hati apakah stem cell pada saatnya kelak memang benar akan menjadi harapan gemilang yang bersifat permanen? hampir semua pakar dan para ilmuwan sangat mengandalkan science dan bahkan cenderung mendewakan ilmu pengetahuan, memang dalam kadar tertentu teknologi medis dapat membantu umat manusia mengatasi berbagai jenis penyakit dengan cara yang canggih tapi jangan lupa konsekuensinya, teknologi medis canggih sudah pasti sangat mahal harganya sehingga tidak semua orang dapat menikmatinya kelak, disamping itu masih banyak aspek-aspek etis dan hukum yang terkait, sebab ada juga teknologi stem cell yang melanggar norma-norma etis dan kemanusiaan seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. dr. MK Tadjudin ketua Pokja Stem Cell Komisi Bioetika Nasional, isu penelitian stem sel dapat ditinjau dari segi ilmiah, etika dan hukum. Menurutnya bila stem cell ini digunakan sebagai regenerasi atau therapeutic diperbolehkan. Yang tidak diperbolehkan adalah membuat cloning (suatu individu hidup yang utuh).

Karena itu saya berpikir pada akhirnya semua alternatif pengobatan modern apapun sifatnya semu, tidak dapat memecahkan alasan mendasar umat manusia, semua orang toh tetap saja akan sakit, usia tua dan akhirnya mati. Andaikatapun para ahli dapat memperpanjang umur orang ada beberapa problem lain yang akan terjadi, apakah orang yang panjang umurnya itu akan hidup senang di tengah-tengah dunia yang semrawut ini, penuh dengan problem politik, sosial, peperangan, bencana alam, polusi udara, air dan tanah serta problematik lainnya yang notabene tidak dapat dihindari oleh orang yang kaya raya atau para ahli sekalipun, sejarah peradaban manusia sudah membuktikan bahwa dunia ini semakin rusak di bawah kendali manusia. Disamping itu apa enaknya umur panjang jika teman-teman sebaya dia rata-rata sudah meninggal sehingga dia akan menjadi orang lansia yang kesepian tidak ada teman sebaya lagi selain itu anak-anak serta family sudah sibuk masing-masing dan tidak begitu peduli terhadapnya.

Jadi bagaimanapun juga manusia pada akhirnya tetap membutuhkan sumber kekuatan yang bersifat adimanusiawi atau istilah lain supranatural (dalah 'bahasa agama' dikenal dgn istilah Tuhan sang pencipta) untuk pemecahan problematik secara permanent. Tidak ada seorang ilmuwan pun di dunia ini yang sanggup meniadakan penyakit atau menahan kematian atau memperpanjang umur manusia dalam kadar unlimited. Tidak ada seorang pakar pun yang sanggup memperpanjang umur manusia. Ujung-ujungnya manusia pada akhirnya toh akan bermuara kepada pencarian akan kekuatan adimanusiawi tersebut dalam mengatasi segala jenis problem umat manusia secara permanen khususnya dalam topik ini yaitu problem penyakit, usia tua dan kematian, anda percaya atau tidak waktu sajalah kelak yang akan membuktikannya.

23 May 2006

Standarisasi Tertutup

Baru-baru ini saya bertemu dengan seorang dokter Nefrologi (ahli penyakit ginjal) dalam pertemuan perbincangan seputar proyek pengembangan Hospital Information system. Sebenarnya topik utama perbincangan adalah seputar pembuatan software IT untuk Medical Records khusus pasien penyakit Ginjal, karena spesialisasinya saya memang adalah consultant dan software engineer di bidang Hospital System dan saya juga ikut dalam jajaran pengurus IKCC / Indonesia Kidney Care Club maka saya dipercaya untuk membangun aplikasi system tersebut. Namun yang ingin saya tulis di sini bukanlah tentang proyek tersebut melainkan tentang salah satu topik pembicaraan yang berhubungan dengan kebenaran yang tertutup selama ini dikalangan awam tentang Cuci darah (Hemodialisa) bagi para penderita penyakit ginjal.

Dokter tersebut mengatakan bahwa standard cuci darah di Indonesia masih dibawah standard international. Hampir kebanyakan penderita penyakit ginjal di Indonesia saat ini mengetahui bahwa cuci darah cukup dilakukan sebanyak 2X seminggu saja. Ternyata standard itu diterapkan di Indonesia hanya karena mempertimbangkan biaya cuci darah yang cukup mahal, sehingga untuk orang-orang di Indonesia yang pendapatan perkapitanya masih jauh dibawah negara-negara berkembang lain biaya untuk cuci darah merupakan beban yang sangat berat untuk ditanggung. Akan tetapi rupanya cuci darah yang ideal dan efektif seharusnya 3X seminggu seperti yang memang diterapkan sebagai standard di luar negeri. Perbedaan standard ini dapat berdampak serius terhadap kesehatan penderita dan harapan perpanjangan hidup bagi sang pasien. Ironisnya perbedaan standard cuci darah tersebut kurang disosialisasikan kepada pasien-pasien Ginjal di Indonesia, sehingga tingkat pengetahuan para pasien juga rendah. Dilematis memang karena beberapa dokter yang saya tanya pernah mengatakan bahwa hanya ada tiga pilihan bagi seorang penderita selama selama sisa hidupnya: 1.Cuci Darah plus pengobatan lain (Pilihan mutlak kalau mau tetap hidup), 2.Transplantasi organ ginjal (jika punya uang banyak), 3.Berdoa sambil nunggu mukjizat (jika nggak punya uang). Sebagai informasi biaya sekali cuci darah berkisar Rp. 500.000,- maka jika cuci darah sesuai standard dalam sebulan adalah (3 x 500.000) x 4 = Rp. 6.000.000,-

Nah persoalannya jika pilihan No.1 diputuskan, itu artinya haruslah sesuai standard yang ideal agar supaya hasil yang diharapkan juga maksimal. Namun berhubung karena standard di Indonesia cukup dilakukan 2X seminggu (yang seharusnya 3X seminggu) maka tingkat kesuksesan dan perpanjangan hidup si pasien juga tidak optimal. Itulah sebabnya angka kematian karena penyakit ginjal di Indonesia cukup tinggi. Memang pilihan kembali dihadapkan kepada para pasien, apakah mau ambil terapi cuci darah 2X seminggu dengan harga lebih murah namun beresiko ataukah ambil terapi cuci darah 3X seminggu dengan harga yang lebih mahal tetapi hasilnya bisa lebih maksimal dan significant.

Namun persoalan yang masih mendasar menurut saya adalah sehubungan dengan kebenaran tentang standard cuci darah tersebut. Sudah seharusnya informasi itu disosialisasikan oleh para praktisi medis kepada seluruh penderita penyakit ginjal dan orang awam. Jangan menutupi kebenaran hanya agar para pasien tetap bisa cuci darah walaupun tidak sesuai standard, hanya agar pemasukan uang bagi para praktisi medis atau para dokter dan rumah sakit bisa tetap berkesinambungan (business oriented).

12 April 2006

Problematik Moralitas

Beberapa waktu yang lalu dan mungkin juga sampai saat ini masih ramai diperbincangkan khususnya oleh para blogger tentang RUU-APP dari pemerintah yang sebenarnya mungkin bermaksud baik guna menjaga moralitas rakyat Indonesia agar selalu berada dalam koridor etika moral yang baik. Namun banyak sekali terjadi pro-kontra di mana-mana ada yang menolak ada yang setuju, yang cukup menarik adalah adanya kelompok yang menolak kedua-duanya (menolak RUU-APP dan juga menolak Pornografi itu sendiri), bahkan istri mantan presiden Gusdur ikut dalam demo tersebut. Saya jadi ingin mencoba mengulas dari perspektif lain. Saya melihat Rancangan UU APP atau konsep-konsep lain apapapun yang terkait dengan unsur agama secara implisit sepertinya telah menunjukkan kegagalan institusi agama itu sendiri dalam menjaga moralitas umatnya. Urusan moralitas itu sebenarnya idealnya bukanlah tanggungjawab pemerintah, melainkan tanggungjawab individu orang terhadap Tuhannya melalui mediasi institusi agama dan kitab suci sebagai landasan fundamental berpijak. Institusi agama seolah-olah telah kewalahan menjaga moralitas dan etika umatnya sehingga perlu meminta bantuan dari pemerintah politik, karena pemerintahlah yang punya kuasa untuk menekan dan memaksa rakyatnya melakukan peraturan tertentu, sedangkan insitusi agama seolah-olah hanyalah media penyuluhan belaka yang sepertinya tidak punya kendali hukum untuk “memaksa” umatnya mengikuti kaidah-kaidah tertentu yang diajarkan oleh agama tersebut.
Mari kita coba breakdown apa saja sih yang seharusnya menjadi tugas pemerintah Indonesia saat ini. Ternyata ada begitu banyak sekali yang memang masih perlu dibenahi, seperti problem ekonomi, devaluasi, inflasi, problem infrastruktur (listrik, telekomunikasi, air bersih, jalan-jalan aspal yang rusak berat, kemacetan lalulintas), antisipasi bencana alam (banjir, gempa bumi, gunung merapi), problem buruh dan pengusaha, problem pendidikan, problematik politik, pertikaian antar etnis dan antar kelompok, pemberantasan korupsi, peningkatan angka kejahatan dan korupsi, lemahnya supremasi hukum, dan mungkin masih banyak hal lain lagi. Mungkinkah pemerintah sanggup mengurusi problem moralitas sedangkan problem-problem tadi saja sampai saat ini masih morat-marit? Saya pribadi agak ragu, mohon maaf para penguasa apabila kata-kata saya ini menyinggung anda, kritikan saya ini sebenarnya berdasar dan bersifat membangun. Pada saat suatu konsep atau kepentingan institusi agama tertentu telah masuk dalam environtment politik negara, maka kekuatan agama itu sebagai media spiritual telah mengalami degradasi dan bahkan bisa hilang sama sekali. Wahai "agama" dimanakah kekuatanmu? Menurut saya idealnya institusi agama tidak pantas campur aduk dengan kepentingan politik atau urusan politik. Pemerintah hanya bisa membantu dari segi penegakan hukum (seperti tindak pidana dan perdata), tanggung jawab menjaga moral dan etika masyarakat semestinya diemban oleh institusi agama dengan para pemimpinnya seperti uztad, pendeta, pastor, biksu dll sebagai sumber teladan, informasi dan penyuluhan, tentunya berlandaskan kitab suci dari agamanya masing-masing.
Ironisnya lagi penegakan hukum di negara kita ini saja sudah terpuruk, hukum bisa dibeli dan dimanipulasi. Para penguasa politik yang korup dibiarkan bebas merajalela. Demikian juga dengan institusi agama itu sendiri, Kita lihat ada banyak sekali bukti-bukti dimana bahkan para pemimpin agama sendiri ada yang tidak memberikan teladan atau contoh moral yang baik. Ada tokoh-tokoh agama yang kawin-cerai, berzinah dan tindakan amoral lainnya, beberapa bahkan memanfaatkan wewenang di dalam institusi agama untuk meraih keuntungan materi dari umatnya. Nah sekarang timbul pertanyaan besar, bagaimanakah mungkin moralitas umat dan rakyat dapat dijaga dan diatur jika supremasi hukum saja sudah parah dan para pemimpin negara serta tokoh-tokoh agama juga tidak memberikan teladan yang baik dari segi moral? Sebagai contoh bagaimana mungkin seorang ayah dapat memerintah anaknya jika sang ayah tidak memberikan teladan dan bertindak munafik, pasti anaknya tidak akan respek terhadap ayah demikian, demikian juga dengan para penguasa dan tokoh-tokoh agama yang tidak memberikan teladan baik kepada umatnya akan menjadi suatu preseden yang buruk. Jadi menurut saya yang harus dibenahi saat ini adalah moralitas para pemimpin politik dan pemimpin agama terlebih dahulu, serta menegakkan supremasi hukum dan supremasi kaidah hukum agama itu sendiri, barulah setelah itu sukses turun ke rakyat dan umat.
Ada fenomena lain yang terjadi jika melihat butir-butir dari undang-undang tersebut, seolah-olah hanya perempuan sajalah yang selalu menjadi obyek sasaran atau bidikan hukum apabila ada problematik moralitas. bagaimana dengan laki-laki? Tidakkah seharusnya laki-laki juga perlu lebih diarahkan oleh ajaran agama untuk lebih menjaga nafsu birahinya terhadap perempuan?. Istilahnya dengan kata lain bahkan pelacurpun tidak akan menjajakan dirinya jika tidak ada laki-laki yang datang. Apabila ada kejahatan pemerkosaan mengapa hanya perempuan yang diarahkan untuk hati-hati, mengapa para laki-laki yang hidung belang tersebut tidak diajarkan dan diarahkan oleh "kekuatan" agama untuk tidak melakukan pemerkosaan? tidakkah itu adalah tanggungjawab dari para cendikiawan agama dengan institusinya untuk menyadarkan umatnya khususnya para laki-laki hidung belang? atau mungkinkah para lelaki hidung belang tersebut sudah malas ke mesjid, ke gereja dan tempat ibadat lain karena mereka sendiri melihat banyak kemunafikan di dalam agama dan tidak menemukan kebenaran sejati di dalam agama?
Itu sama halnya ilustrasinya dengan larangan dari para cendikiawan agama agar restaurant tidak buka pada saat bulan puasa, andaikan buka tidak boleh terlihat dari luar. Mengapa? tidakkah para ulama percaya bahwa umatnya yang telah dibekali ajaran agama sanggup untuk menahan nafsu ditengah-tengah banyak tantangan? Tidakkah lebih efektif apabila yang berpuasa itulah yang sebaiknya diajar untuk berlatih menahan nafsu makan pada saat bulan puasa walaupun ada banyak restaurant yang jualan? Kalau orang hanya mau berpuasa jika tidak ada tantangannya berpuasalah di kutub utara atau di hutan belantara yang notabene nggak ada restaurant yang jualan. Tidakkah pahalanya akan lebih besar jika menjalankan ibadah ditengah-tengah tantangan? Ada beberapa pertanyaan yang saya baca di media internet, apakah mungkin ada sesuatu dibalik ini semua? apakah mungkin ada beberapa organisasi agama yang memang menggunakan tunggangan politik untuk kepentingan kelompoknya. Sehingga pada suatu waktu tertentu kelompok itu dapat menguasai paradigma atau "pola berpikir dan bertindak" dari masyarakat khususnya di Indonesia yang sangat majemuk ini, sesuai dengan konsep berpikir kelompok tersebut, seperti yang pernah terjadi di Afganistan di bawah penguasa Taliban dulu, konon ceritanya penguasa Taliban melarang perempuan menonton televisi apalagi bioskop, dilarang menggunakan make-up yang pakai kutex kuku akan dipotong jarinya, perempuan dilarang menyetir mobil, perempuan dilarang berfoto, perempuan harus pakai cadar yang hanya terlihat matanya saja, dilarang juga mendengar musik-musik khususnya dari barat. Apa yang terjadi pada waktu larangan-larangan tersebut diterapkan di Afganistan? rakyat banyak yang menderita siksaan dan penderitaan khususnya kaum perempuan, mereka menjalankannya hanya karena takut dicambuk bukan karena tulus ingin menjalankan peraturannya, dan banyak yang ingin memberontak namun takut, sampai akhirnya sebuah organisasi perempuan berani muncul dan bersuara, nama organisasinya adalah Revolutionary Association of the Women of Afghanistan (RAWA) - www.rawa.org. Apakah nuansa semacam itu yang akan terjadi di Indonesia kelak apabila penguasa mulai campurtangan dalam urusan moralitas rakyatnya? who knows.........

02 March 2006

Obyektifitas

Obyektifitas saat ini memang merupakan suatu hal yang sangat jarang kita temui dan sangat sulit untuk diterapkan di dalam berbagai corak kehidupan. Contoh kecil saja apa reaksi anda jika anak anda atau ayah anda atau salah satu dari anggota keluarga anda berbuat jahat dan terpaksa berhadapan dengan aparat pengadilan, biasanya kebanyakan orang akan tetap membela sanak saudaranya walaupun telah melakukan tindakan kriminal. Ikatan persaudaraan lebih kuat daripada fakta kebenaran sehingga walaupun faktanya saudara kita bertindak jahat kita cenderung untuk tetap membelanya secara subyektif, inilah yang sering disebut dengan istilah Nepotisme. Contoh lain bagaimana reaksi anda jika negara kita dihina oleh negara lain dengan sebutan sebagai negara paling korup dan paling bobrok di dunia, beberapa orang yang berjiwa nasionalis tidak akan terima dan tersinggung apabila bangsanya dihina atau dikritik walaupun kritikan tersebut beralasan, apalagi kalau yang mengkritik itu adalah negara tertentu yang memang sedang dibenci oleh kebanyakan orang Indonesia. Tidak soal apakah ungkapan tertentu tersebut memang benar dan beralasan karena notabene di Indonesia korupsi, kolusi dan nepotisme memang telah berurat berakar dan cukup beralasan jika negara kita dijuluki demikian. Tetapi seberapa banyak orang Indonesia yang mau berpikir obyektif dan mau introspeksi diri sehingga bersedia menerima dengan rendah hati kritikan dari pihak luar? Inilah yang menjadi persoalan.

Beberapa waktu lalu saya membaca artikel di surat kabar Kompas dan beberapa harian surat kabar lainnya yang mengulas tentang sepak terjang dari seorang milyarder keturunan Yahudi bernama George Sorosh yang menentang invasi Israel ke palestina. Bahkan Sorosh juga mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan, ia akan mengeluarkan uang jutaan dollar untuk menjegal George W. Bush agar tidak menjadi presiden Amerika Serikat lagi. Dia mengatakan bahwa pemerintahan Bush sangat berbahaya bagi terciptanya perdamaian antara Israel & Palestina, khususnya dan di timur tengah pada umumnya. Suatu fakta yang cukup menarik buat saya, sebab Sorosh adalah seorang Yahudi yang seharusnya membela bangsa Israel dan Amerika yang membantu bangsanya, namun sungguh suatu tindakan yang kontroversial dia menentang Amerika serikat yang notabene membantu rakyat Yahudi di Israel dalam misi menguasai Palestina padahal Israel merupakan tanah tumpah darahnya sendiri. Terlepas dari apa motivasi sebenarnya dari Sorosh dalam hal ini yang saya soroti adalah sisi keberaniannya menyatakan pendapat yang berbeda dari opini publik. Di sisi lain saya jadi teringat dengan Film “Schindler List” yang menceritakan sejarah nyata (true story) tentang seorang berkebangsaan Jerman dan juga tokoh partai Nazi bernama Oscar Schindler yang menyelamatkan ribuan orang Yahudi sehingga tidak dibantai oleh kekejaman Nazi Hitler di kamp-kamp konsentrasi pada tahun 1939-1945 dimana pada waktu itu Hitler mempropagandakan suatu genosida (pembantaian etnis) terhadap orang-orang Yahudi di Jerman. Schindler pada waktu itu benar-benar menonjol karena dia adalah tokoh terhormat di partai Nazi dan juga seorang pengusaha kaya namun dia membela rakyat Yahudi yang notabene sangat dibenci oleh orang-orang dari partai Nazi itu sendiri.

Kedua orang ini George Sorosh dan Oscar Schindler merupakan tokoh yang menurut saya dalam kadar tertentu telah sukses menerapkan obyektifitas. Mereka berdua berani melihat suatu kasus dengan fair tanpa melibatkan subyektifitas. Hal yang sama juga saya amati berkenaan dengan agama, Ada beberapa reforman Kristen jaman dahulu yang berani melawan “arus” dengan mengkritisi ajaran para pemimpin Gereja Kristen walaupun mereka adalah orang Kristen misalnya Arius, John Huss, John Wycliff, William Tyndale dan Martin Luther, dll. Orang-orang tersebut adalah para tokoh cendikiawan Kristen namun berani menentang kesalahan para pemimpin agama Kristen. Namun di sisi lain kita dapat melihat fakta bahwa sepanjang sejarah ada banyak juga orang yang telah membabi-buta membela institusi agamanya tanpa mau sedikitpun dikritik oleh pihak lain walaupun kritikan tertentu beralasan dan bersifat membangun. Ini yang disebut dengan fanatisme buta, orang seperti ini tidak akan mau menerima kritikan apapun dari pihak lain sebab orang fanatik menganggap bahwa hanya kelompok dia sajalah yang benar sedangkan kelompok lainnya sesat dan selain itu pikirannya sudah ditutup rapat-rapat dari konsep luar apapun yang bertentangan dengan konsep kelompoknya. Ini yang disebut oleh pepatah “katak dalam tempurung” sebutan untuk orang yang tidak pernah mau membuka diri secara comprehensive terhadap hal-hal diluar konsep yang telah dia miliki. Sebenarnya konsep membuka diri tidaklah berarti menerima begitu saja konsep diluar kita, mempelajari hal tertentu bukan berarti setuju dengan hal tersebut, sebagai contoh misalnya kita belajar tentang sejarah agama-agama animisme penyembah berhala kan itu tidak berarti bahwa kita menerima dan mengikuti agama animisme tersebut, tetapi tujuannya adalah agar kita tahu fakta sejarah tentang agama-agama animisme. Demikian juga dengan fakta sejarah tentang kelemahan tertentu dari para tokoh agama yang adalah manusia biasa yang tidak sempurna, hal itu tidak akan melemahkan kedudukan Tuhan sang maha kuasa. Alkitab Injil bahkan mencatat sejarah kelemahan dari seorang Rasul yang terkenal dikalangan umat Kristen yaitu Rasul Petrus yang menyangkal Yesus sebanyak tiga kali ketika Yesus ditawan dan hendak dibunuh. - Markus 14:66-72. Selain itu Alkitab juga mencatat sejarah tentang kegagalan raja Daud yang diurapi Tuhan yang belakangan berbuat zinah dengan istri orang dan bertindak kejam - 2 Samuel 11:2-27. Demikian juga ketika nabi Musa berbuat salah tidak memuliakan Allah di hadapan orang Israel melainkan mengatakan bahwa Musa yang mengeluarkan air dari bukit Meriba bukan Tuhan. Bilangan 20:1-12. Dan bagaimana raja Salomo atau Sulaiman memiliki istri banyak ada 700 istri dan 300 gundik dan belakangan meninggalkan Allah dan menyembah berhala - 1Raja-Raja 11:1-10. Jadi sebenarnya kesimpulannya apapun kegagalan yang pernah dilakukan hamba-hamba Tuhan para Nabi dan para Rasul, itu sama sekali tidak akan mempengaruhi atau mengurangi kredibilitas kemahakuasaan dari Tuhan sang pencipta yang maha kuasa, tidakkah demikan menurut anda. Jadi janganlah kita “men-Tuhankan” Nabi atau Rasul yang notabene adalah manusia biasa, melainkan “Tuhankanlah” sang pencipta yang maha kuasa, Allah yang bertahta di Surga. Oleh karena itu berpikiran obyektif lebih bijaksana dan masuk akal ketimbang subyektif, sebab hali ini akan membuat kita lebih bisa mengendalikan diri dengan smart dan lebih dewasa dalam menanggapi segala hal yang tidak ideal di dunia ini. Selamat merenung sambil membaca artikel ini secara obyektif juga.

07 January 2006

Motivation VS Limitation

Akhir-akhir ini banyak sekali bermunculan orang - orang yang merepresentasikan diri mereka sebagai konsultan "power of motivation". Mereka menawarkan suatu paradigma sehubungan dengan konsep positif thinking, optimisme dan motivasi, saya pernah beberapa kali mengikuti seminar-seminar yang diadakan oleh beberapa konsultan tersebut (sepertinya kurang etis untuk menyebutkan namanya). Disamping itu saya pernah membaca beberapa artikel yang terkait dengan konsep positif thinking, dan setiap berangkat ke kantor atau pulang dari kantor kadang-kadang saya menyetel radio Smart FM 95.9 Mhz dan beberapa radio lain di dalam mobil saya, topicnya berisi pembahasan talk show berkisar konsep “power of motivation”, isi pembahasannya seputar optimisme, motivasi, berpikiran positif. Dulu saya juga pernah mengikuti beberapa seminar MLM (Multilevel Marketing) seperti CNI dan Amway. Jujur saja saya kagum dengan para pakar yang menawarkan konsep-konsep tadi dan jika ditinjau dari segi positif memang sasaran dari konsep yang ditawarkan oleh para pakar motivasi tersebut sangat bermanfaat untuk membentuk pola berpikir positif dari setiap orang, sehingga mendidik orang agar tidak lagi cepat menyerah dalam menjalani segala hambatan dan problematik kehidupan ini. Akan tetapi dari beberapa konsep yang ditawarkan tersebut ada yang saya rasakan kurang "membumi" seolah-olah segala hal bisa dilakukan dengan kekuatan diri kita tanpa memandang bahwa sebenarnya ada suatu batasan manusiawi atau yang kita kenal dengan istilah kodrat. Ada banyak sekali kondisi-kondisi tertentu yang berada diluar kendali dan kekuatan kita, sebagai contoh, penyakit, usia tua, kecelakaan, kematian, bencana alam, hukum alam dan terakhir hukum Tuhan. Semua kondisi tersebut dapat menjadi penghalang yang tak terelakkan, tak terduga dan tak terbendung pada saat kita sedang menjalani perjuangan hidup ini dengan konsep positif thinking tadi. Ada lagi pemikiran lain yang ditawarkan oleh para konsultan motivasi tadi yaitu tentang konsep untuk meraih status menjadi orang yang lebih unggul daripada orang lain. Ada seorang konsultan berkata kepada saya, jangan mau menjadi orang biasa atau “ordinary people” bertekadlah untuk menjadi orang yang luar biasa. Saya melihat adanya unsur semangat persaingan dari konsep tersebut, saya jadi teringat dengan orang-orang di jaman dahulu yang mengajarkan anak-anaknya dengan mengatakan “capailah cita-citamu sampai setinggi langit”. Banyak anak-anak yang dipaksa oleh orang tuanya untuk bersekolah setinggi-tingginya sesuai dengan trend dunia walaupun mungkin jurusan pendidikan yang dipilih orang tuanya tidak sesuai dengan minat sang anak. Orang tua dalam hal ini beranggapan bahwa mereka berpikiran positif hanya ingin agar anaknya tidak kalah bersaing dan menjadi orang yang sukses serta lebih unggul daripada anak-anak lainnya kelak, dengan kata lain orang tua tersebut hanya ingin meningkatkan power of motivation sang anak. Ironisnya begitu banyak anak-anak yang dipaksakan sejak kecilnya bersekolah tinggi akhirnya setelah dewasa harus menelan pil pahit kehidupan karena tetap saja sulit mendapatkan lapangan pekerjaan sebab kondisi persaingan yang sangat kompetitif. Itulah yang saya namakan dengan kondisi tertentu diluar kemampuan kita, hal-hal kecil dapat kita lihat sehari-hari dalam hidup kita, misalnya katakanlah kita adalah seorang yang disiplin dan tepat waktu, kita punya kedudukan di sebuah perusahaan dan sedang menuju ke kantor untuk meeting komisaris, semua orang telah mengenal kita sebagai orang yang tepat waktu, ternyata di perjalanan tanpa di duga kemacetan lalu lintas luar biasa sehingga kita terlambat sampai kantor sektiar 2 jam, minggu depannya ada meeting lagi dengan direksi namun kali ini kita terlambat karena mobil kita menabrak gerobak bakso yang sedang menyeberang jalan, tiga hari kemudian ada meeting lagi dan kali ini juga terlambat karena di tengah jalan istri kita menelpon bahwa anak kita mendadak sakit keras. Apakah orang mau concern dengan problem-problem kita yang menyebabkan kita terlambat? belum tentu, bisa jadi orang menganggap kita hanya mencari dalih untuk membenarkan diri. Tapi intinya yang saya mau katakan bahwa kita dibatasi oleh ketidakmampuan tertentu di dalam hidup ini.

Saya terkadang merenung andaikata semua manusia di bumi ini hanya mau menjadi orang yang besar dan lebih unggul daripada orang lain, bagaimana jadinya apabila di bumi ini tidak ada lagi orang yang mau mengerjakan hal-hal kecil yang kadang dianggap tidak berarti. Coba bayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada orang yang mau menjadi tukang sampah atau pembantu di lingkungan rumah anda? Coba bayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada yang mau jadi office boy atau satpam di kantor anda? Coba bayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada yang mau jadi supir bus atau masinis kereta api? Coba bayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada yang mau menjaga pintu tol atau pintu gerbang lintasan kereta api?. Saya teringat dengan mesin mobil yang menggunakan system karburator, apabila karburator itu dicopot dan dipreteli komponennya satu persatu maka akan terdapat beberapa onderdil yang berukuran kecil, tapi mekanik atau montir pernah mengatakan kepada saya bahwa satu onderdil kecilpun copot maka mobil tersebut tidak akan bisa distarter hidup. Hal ini meng-ilustrasikan bahwa sekecil apapun eksistensi atau kontribusi kita di dalam dunia ini kita bisa berada pada posisi yang sangat berharga, atau sebaliknya sehebat apapun posisi anda saat ini suatu saat tertentu anda akan berhadapan pada kondisi yang anda sendiri tidak dapat kendalikan. Saya teringat dengan sebuah joke atau anekdot yang saya dengar di radio tentang seorang pendeta dan seorang supir yang setelah mati keduanya naik ke surga, namun sang pendeta berada pada tingkat lebih rendah daripada sang supir di surga sana. Sang pendeta protes terhadap malaikat mengapa dia berada pada posisi dibawah sang supir di surga, sang malaikat mengatakan kepadanya bahwa ketika sang pendeta berkhotbah di mimbar para umat jemaat tertidur, tetapi ketika sang supir mengendarai bus para penumpang berdoa.

Jadi saya berkesimpulan ketimbang kita terlena dengan konsep yang tidak realistis sehubungan dengan menjalani hidup ini, lebih baik kita tetap “membumi” dan realistis. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus menerima nasib dan berpangku tangan atau berpasrah diri seolah-olah kita tidak perlu berbuat apa-apa untuk merubah nasib atau bermalas-malasan, bukan itu maksud saya. Kita masih tetap bisa memiliki motivasi dan optimisme dalam hidup ini namun jangan pernah lupa diri atau melanggar kodrat kita sebagai manusia yang memiliki banyak keterbatasan, dan jangan lupa juga terhadap Tuhan sang pencipta yang maha kuasa yang sanggup membantu dan membimbing kita dalam menghadapi segala macam problem ketimbang selalu mengandalkan kekuatan diri sendiri. Dan satu hal lagi konsep untuk selalu lebih unggul daripada orang lain adalah konsep yang akan menjebak kita ke dalam semangat persaingan yang tidak realistik. Just be your self, jadilah diri anda sendiri jangan banding-bandingkan diri anda dengan orang lain, jangan berusaha menjadi sesuatu atau seseorang yang anda tidak sanggup raih. Apapun eksistensi anda saat ini, apapun pekerjaan anda saat ini baik itu besar ataupun kecil dari segi ukuran dunia ini, walaupun dunia menganggap anda orang yang tak berharga menurut saya anda tetap manusia yang berharga paling tidak di mata Tuhan sang pencipta yang maha kuasa.

29 December 2005

Problematik Perspektif

Paling tidak enak jika bertemu dengan orang yang selalu memaksakan sudut pandangnya kepada orang lain, seolah-olah hanya dia saja yang paling tahu, paling benar, paling hebat dan segala jenis paling lainnya. Padahal belum tentu pendapat orang tersebut benar dan belum tentu juga pendapat orang lain itu salah, mengapa? Karena tiap-tiap orang memiliki perspektif masing-masing sehubungan segala hal sehingga jika terjadi suatu perbedaan pendapat berkenaan dengan suatu hal tertentu biasanya lebih banyak disebabkan oleh karena perbedaan sudut pandang, dan dalam hal ini tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah, karena benar atau salah sifatnya relatif tergantung dari sudut pandang mana sebuah problem dilihat oleh tiap-tiap individu orang. Ada ungkapan lama yang mungkin pernah anda dengar “lain ladang lain pula lalangnya, lain danau lain pula ikannya” yang mengartikan bahwa tidak ada manusia yang memiliki kesamaan persis, tiap-tiap orang berbeda-beda pola berpikirnya dan sudut pandangnya. Perbedaan orang dapat ditentukan oleh berbagai latar belakang, bisa latar belakang sosial, budaya, etnis, pendidikan, pengalaman, karakter, selera, dan lain sebagainya. Itulah sebabnya Tuhan menciptakan manusia dengan memiliki ciri khas fisik tertentu seperti sidik jari, bahkan konon ceritanya anak kembar sekalipun dapat berbeda selera dan sifat. Maka janganlah heran kalau anda akan sulit sekali menemukan orang lain yang persis sama dengan sifat atau karakter anda. Saya menganjurkan anda janganlah berharap untuk mendapatkan teman yang memiliki sudut pandang yang sama atau selera yang sama dengan anda.

Berbicara mengenai perspektif atau sudut pandang saya jadi teringat dengan ungkapan tentang dua orang yang melihat gajah dari sisi yang berbeda, orang yang pertama melihat gajah tersebut dari depan sehingga dia akan mengatakan bahwa gajah belalainya panjang dan kupingnya lebar, namun orang yang kedua melihat gajah tersebut dari belakang sehingga dia hanya melihat ekor dan dua kaki belakng yang besar dari sang gajah, ke dua orang tersebut bisa berselisih paham tentang apa yang paling menonjol dari sang gajah tersebut padahal keduanya melihat binatang yang sama, namun masalahnya adalah dari sisi mana mereka melihat. Itulah yang saya sebut sebagai problematik dari perspektif.

Sebut saja contoh kecil, rata-rata orang eropa tidak suka mencium bau buah duren, tapi coba jika anda sebagai orang Indonesia ditawari duren, apalagi duren montong, wah pasti anda akan berbutan untuk menyantapnya, karena disamping buahnya harum rasanya juga enak, itu menurut perspektif anda sebagai orang Indonesia, tidak demikian halnya bagi orang barat. Nah hal inilah yang kadang-kadang dapat menjadi problem horizontal di antara makhluk sosial yaitu sesama manusia. Tak jarang masalah perbedaan perspektif dapat menimbulkan pertikaian yang serius di antara kita manusia, karena perbedaan perspektif akan mengarah kepada perbedaan pendapat dan prinsip tiap-tiap orang. Masalahnya adalah jarang sekali orang yang mau mengalah terhadap pendapat orang lain, kecenderungan manusia adalah berargumen untuk membenarkan pendapatnya sebisa-bisanya. Hanya orang yang memiliki sifat rendah hati dan suka damai sajalah yang bersedia mengalah selama problematik perspektif tersebut hanyalah masalah yang tidak terlalu bersifat prinsipil.

Memang ada beberapa perbedaan perspektif yang harus diselesaikan dengan suatu standard baku seperti perbedaan yang terkait dengan masalah benar atau salah, baik atau buruk, hal ini biasanya akan mengacu kepada hukum, undang-undang, prosedur dll. Misalnya perbuatan membunuh tidak bisa hanya dilihat dari segi perpektif, tapi juga harus dari segi hukum. Halnya juga berkenaan dengan kebenaran prinsipil seperti misalnya tentang dogma atau doktrin agama. Perbedaan perspektif berkenaan dengan dogma agama atau kepercayaan memang harus bermuara pada konsep dasar fundamental yaitu kitab suci dari masing-masing agama yang bersangkutan. Tetapi jika perbedaan perpektif hanyalah hal-hal yang menyangkut selera lebih baik menggunakan dasar kasih, rendah hati, suka damai, dan mengalah ketimbang ngotot untuk selalu memenangkan dan membenarkan pendapat pribadi, padahal pendapat orang belum tentu salah.

26 December 2005

Menghitung umur

Salah satu kebiasaan di tempat saya bekerja adalah memberikan informasi jika ada sanak saudara dari karyawan yang meninggal dunia. Selama bekerja saya sering mendapatkan berita-berita dukacita tentang kematian dari ayah, ibu atau sanak family para karyawan perusahaan. Anda bisa bayangkan jumlah karyawan PT.Kalbe Farma tbk. tempat saya bekerja seluruhnya hampir 3000 orang (saya bekerja di IT dept.) dari jumlah tersebut bisa dimaklumi kalau berita kematian dari sanak saudara para karyawan akan diinformasikan paling tidak hampir setiap minggunya di e-mail. Saya perhatikan rata-rata yang meninggal antara usia 50 sampai 60 tahun, walaupun ada beberapa peristiwa tragis yg merenggut rekan karyawan yang masih usia muda karena kecelakaan atau penyakit. Intinya kematian sepertinya menjadi suatu berita yang "biasa" dan "akrab" di lingkungan kita. Malah saya mengamati usia orang yang mati semakin muda dari tahun-ke tahun. Pernahkah anda merenung sambil menghitung umur anda? jika rata-rata orang meninggal pada usia 60 atau 70 tahun, dan usia anda saat ini katakanlah sudah 50 tahun maka sisa umur anda untuk hidup adalah tinggal 10 atau 20 tahun lagi bukan?, coba bayangkan jika usia anda saat ini sudah mencapai 69 tahun berarti usia hidup anda hanya tinggal 1 tahun lagi dengan asumsi rata-rata umur manusia saat ini. Itupun jika anda tidak mengalami kecelakaan atau penyakit........Maka timbul pertanyaan, apakah kematian adalah akhir dari segala-galanya? jika memang demikian, apa yang akan anda lakukan pada sisa hidup anda yang amat singkat itu?..... kemudian apa yang dapat anda bayangkan setelah anda mati? ..... apakah kematian bukanlah akhir dari segalanya? .... apakah ada kehidupan lain setelah kematian, dan jika ada apa yang akan anda alami dan lakukan di kehidupan lain tersebut?...dan mungkin bisa seribu satu pertanyaan lainnya akan muncul dalam benak kita kalau kita memang concern untuk mencari tahu apa arti sesungguhnya dari "mati". Orang-orang Yunani kuno yang menganut paham Epikuros pernah melontarkan suatu konsep "Nikmatilah hidup ini sepuas-puasnya sebab besok kita akan mati", mereka punya konsep bahwa tidak ada harapan lain setelah kematian, dan kematian adalah akhir dari segala-galanya. Apakah anda juga berpikiran demikian? Jika demikian maka jangka waktu anda untuk dapat menikmati hidup sangat-sangatlah singkat sekali bukan khususnya di dalam sisa hidup anda sekarang. Dan pertanyaan berikutnya jika paham Epikuros ini benar, maka sangatlah tidak sesuai diterapkan di negara Indonesia ini khususnya, karena keadaan ekonomi saat ini yang sangat parah tidak akan bisa mendukung seseorang untuk menikmati kehidupan. Dari sejak kita kecil sampai dewasa, berkeluarga memilik anak dst..dst..dst kita terus hidup dengan perjuangan untuk mencari nafkah dan kebutuhan ekonomi yang tiada hentinya sampai akhirnya kita wafat. Untunglah di sisi lain ada paham agama yang mengajarkan bahwa sebenarnya ada "harapan" bagi seseorang yang telah mati sehingga paling tidak konsep ini dapat menjadi alternatif pilihan bagi orang-orang yang sedang frustasi dalam hidup ini, beberapa konsep agama mengajarkan tentang "dunia dan akhirat", "sorga dan neraka", beberapa agama yang mengajarkan dogma reinkarnasi, ada juga agama mengajarkan kebangkitan orang mati, bahwa orang yang telah mati akan dibangkitkan kembali dan akan hidup di suatu "dunia baru" atau firdaus di bumi ini. Apapun konsep yang diajaran oleh agama-agama tersebut pada intinya adalah bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, sebenarnya ada "harapan" bagi orang mati pada saatnya nanti, hanya saja akan timbul pertanyaan selanjutnya yaitu doktrin manakah yang benar dari semua ajaran agama tentang harapan bagi orang mati? nah hal ini tentu membutuhkan riset dan minat untuk meneliti. Namun disamping itu ada syarat-syarat yang dijabarkan oleh paham agama agar orang-orang mati tersebut dapat menikmati "harapan" nantinya, sebagai contoh orang baik masuk sorga sedangkan orang jahat masuk neraka. Dan beberapa ajaran agama mengatakan perbuatlah sebanyak-banyaknya amal dan kebaikan selama kita hidup agar nantinya ada harapan bagi kita di akhirat setelah kita mati. Konsep agama ini jelas bertentangan dengan konsep filsafat Epikuros tadi, kalau konsep Epikuros dipakai maka tidak ada gunanya berbuat baik selama kita hidup di dunia ini karena toh kematian adalah akhir dari segala-galanya, tidak ada harapan atau suatu "penilaian" baik dan jahat pada orang mati nantinya. Jadi sekarang konsep mana kira-kira yang mendekati pola berpikir anda sehubungan dengan kematian? hal ini akan sangat berpengaruh terhadap cara pandang kita dalam menyikapi proses kematian yang sedang "mengintai" kita masing-masing. Maka saya mengundang para pembaca blog ini, mari sambil menghitung-hitung umur kita masing-masing, kita sama-sama mencari tahu ada apa sebenarnya dengan mati.

14 December 2005

Pilih jadi "orang besar" atau jadi "orang kecil" ?

Pernahkah anda mendengar ungkapan atau pidato seorang tukang becak, seorang buruh atau kuli yang di-publish dalam sebuah tayangan informasi di suatu media massa tertentu?. Dari mulai informasi iklan komersial, kata-kata mutiara, frase pepatah, sampai dengan ungkapan-ungkapan yang bersifat rohani atau religius, semua itu kebanyakan bersumber dari mulut tokoh-tokoh terkemuka seperti presiden, pejabat, professor, doktor, artis, aktor, uskup, pastor, pendeta, uztad, da'i, biksu dan tokoh-tokoh besar lainnya baik tokoh sekuler maupun tokoh agama. Padahal bisa saja tukang sapu jalanan mengungkapkan kalimat yang indah dan menarik serta bermanfaat untuk kebaikan, namun persoalannya adalah media massa mana yang mau mem-publishnya ? Kebanyakan orang berlomba-lomba untuk menjadi "orang besar", orang terpandang, orang terhormat, orang hebat menurut ukuran sekuler dan semangat ini menyusup sampai ke dalam diri para tokoh agama yang seharusnya berpikiran rohani. Sangat jarang sekali yang berlomba-lomba untuk menjadi orang yang bersahaja dan rendah hati karena menurut ukuran sekuler orang bersahaja dan rendah hati adalah "orang kecil". Mengapa demikian ? salah satunya disebabkan karena 'dunia' ini sedang mempropagandakan semangat ambisius, egoisme, prestise, kehormatan pribadi, prestasi dan popularitas sehingga indikator kesuksesan seseorang diukur atas dasar itu semua. Ketika seorang "tokoh besar" memberi komentar ttg suatu hal seperti misalnya "mengabdilah kepada bangsamu" atau "janganlah engkau malas bekerja", walaupun kata-kata tersebut adalah suatu kalimat yang biasa dan bisa saja diungkapkan oleh semua orang baik dari level tukang becak sampai seorang presiden, namun persoalannya adalah kebanyakan orang menilai bukanlah isi dari kalimat tersebut melainkan siapa yang mengungkapkan kalimat tersebut. Presiden Amerika Serikat John F Kennedy pernah mengungkapkan suatu kalimat "don't ask what your country can do for you. ask what you can do for your country" dan kata-kata ini terdengung sampai sekarang, coba andaikata yang menyampaikan ungkapan tersebut hanyalah seorang tukang pos pengantar surat apakah kata-katanya akan diabadikan di media massa sampai sekarang?. Jadi kecenderungan orang di dunia ini lebih menilai siapa orang yang mengatakan sesuatu ketimbang apa yang dikatakannya. Inilah yang disebut dengan "kultus individu".

Coba perhatikan buku-buku yang pernah ditulis di bumi ini, kebanyakan buku dibagian depan atau belakang sampulnya tertera data riwayat hidup sang penulis, dari mulai gelar-gelarnya, latar belakang pendidikannya, jabatannya, kedudukan sosialnya dll, tujuannya adalah supaya setiap pembaca pertama-tama kagum terhadap siapa yang menulis buku itu, bukan terhadap apa isi dari buku tersebut. Coba anda bayangkan apabila ada seorang buruh atau kuli yang menulis artikel yang bagus dalam sebuah buku, dan dia mencantumkan data pribadinya di sampul depan atau belakang bukunya bisa diduga orang-orang akan malas membeli bukunya. Saya pernah mendengar suatu ungkapan yang menarik dan menggelitik dari seorang tukang ojek ketika saya sedang naik ojek dan ngobrol-ngobrol dengan pengendaranya. Dia mengatakan kepada saya bahwa semua kepemilikan dalam hidup ini hanyalah titipan Tuhan, ketika kita lahir telanjang bulat dan tidak membawa apa-apa dari rahim sang ibu, dan ketika kita mati kita juga tidak bisa membawa apa-apa ke kuburan, jadi baik kita miskin ataupun kaya buat dia tidak ada bedanya. Ungkapan yang keluar dari mulut tukang ojek ini buat saya sungguh menarik dan selayaknya diabadikan dalam sampul sebuah majalah bisnis, agar para businessman tidak terlalu materialistis, maruk dan gila harta kekayaan.
Jadi seharusnya siapapun orang walaupun orang kecil sekalipun mesti dihargai "suaranya" layaknya orang besar apabila dia memperlihatkan kapabilitas sebagai orang baik dan benar. Bahkan ironisnya dikalangan cendikiawan agama ukuran-ukuran sekuler pun menjadi suatu indikator terhadap umatnya. Sebagai contoh seorang Pendeta Kristen atau Pastor Katolik atau Da'i Islam akan menjadi seorang tokoh yang populer dan didengar ceramahnya apabila dia memiliki gelar-gelar akademis tertentu atau mungkin jabatan duniawi tertentu, jika tokoh religius tersebut latarbelakangnya hanyalah orang "biasa" maka umatnya akan sulit untuk respek dan hormat kepadanya, inilah fakta yang pahit yang saya amati dan perhatikan. Saya senang mengutip suatu nats atau ayat dari kitab suci tentang pengalaman seorang tokoh besar, seorang juru selamat, yang diakui baik oleh agama Islam maupun agama Kristen yaitu Yesus Kristus atau Nabi Isa. Salah satu penyebab utama mengapa orang-orang Yahudi / Israel menolak Yesus atau nabi Isa (bagi orang Islam) adalah karena latar belakang status sosialnya yang kurang terhormat dari ukuran duniawi, Yesus dilahirkan di kota kecil yang tidak terkenal Betlehem, dari keluarga miskin, ayahnya bukan pejabat tetapi hanyalah seorang tukang kayu, bahkan dia lahir di kandang sapi. Coba anda baca di Kitab Suci, Matius 13:54-55, isi dari ayat itu demikian : Setibanya di tempat asal-nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah ia ini anak tukang kayu? ..dst...dst. Orang-orang Yahudi tidak mau mendengarkan apa yang Yesus katakan hanya karena latar belakang status sosialnya, walaupun mereka tidak bisa menyangkal pengajarannya yang luar biasa bagus. Saya merenungkan dalam-dalam tentang eksistensi Yesus di bumi ini, Tuhan sengaja mengutus Yesus ke dunia ini salah satunya adalah untuk memberi pelajaran bagi "orang-orang besar" yang angkuh dan sombong di dunia ini, bahwa mereka sebenarnya di mata Tuhan adalah mayat-mayat hidup tidak berarti yang sebentar lagi akan kembali ke kuburan dan tidak membawa apa-apa ke dunia orang mati maupun ke akhirat nantinya, tepat seperti yang dikatakan sang tukang ojek tadi kepada saya, jadi silahkan anda pilih mau jadi orang besar atau jadi orang kecil ?.