26 December 2005

Menghitung umur

Salah satu kebiasaan di tempat saya bekerja adalah memberikan informasi jika ada sanak saudara dari karyawan yang meninggal dunia. Selama bekerja saya sering mendapatkan berita-berita dukacita tentang kematian dari ayah, ibu atau sanak family para karyawan perusahaan. Anda bisa bayangkan jumlah karyawan PT.Kalbe Farma tbk. tempat saya bekerja seluruhnya hampir 3000 orang (saya bekerja di IT dept.) dari jumlah tersebut bisa dimaklumi kalau berita kematian dari sanak saudara para karyawan akan diinformasikan paling tidak hampir setiap minggunya di e-mail. Saya perhatikan rata-rata yang meninggal antara usia 50 sampai 60 tahun, walaupun ada beberapa peristiwa tragis yg merenggut rekan karyawan yang masih usia muda karena kecelakaan atau penyakit. Intinya kematian sepertinya menjadi suatu berita yang "biasa" dan "akrab" di lingkungan kita. Malah saya mengamati usia orang yang mati semakin muda dari tahun-ke tahun. Pernahkah anda merenung sambil menghitung umur anda? jika rata-rata orang meninggal pada usia 60 atau 70 tahun, dan usia anda saat ini katakanlah sudah 50 tahun maka sisa umur anda untuk hidup adalah tinggal 10 atau 20 tahun lagi bukan?, coba bayangkan jika usia anda saat ini sudah mencapai 69 tahun berarti usia hidup anda hanya tinggal 1 tahun lagi dengan asumsi rata-rata umur manusia saat ini. Itupun jika anda tidak mengalami kecelakaan atau penyakit........Maka timbul pertanyaan, apakah kematian adalah akhir dari segala-galanya? jika memang demikian, apa yang akan anda lakukan pada sisa hidup anda yang amat singkat itu?..... kemudian apa yang dapat anda bayangkan setelah anda mati? ..... apakah kematian bukanlah akhir dari segalanya? .... apakah ada kehidupan lain setelah kematian, dan jika ada apa yang akan anda alami dan lakukan di kehidupan lain tersebut?...dan mungkin bisa seribu satu pertanyaan lainnya akan muncul dalam benak kita kalau kita memang concern untuk mencari tahu apa arti sesungguhnya dari "mati". Orang-orang Yunani kuno yang menganut paham Epikuros pernah melontarkan suatu konsep "Nikmatilah hidup ini sepuas-puasnya sebab besok kita akan mati", mereka punya konsep bahwa tidak ada harapan lain setelah kematian, dan kematian adalah akhir dari segala-galanya. Apakah anda juga berpikiran demikian? Jika demikian maka jangka waktu anda untuk dapat menikmati hidup sangat-sangatlah singkat sekali bukan khususnya di dalam sisa hidup anda sekarang. Dan pertanyaan berikutnya jika paham Epikuros ini benar, maka sangatlah tidak sesuai diterapkan di negara Indonesia ini khususnya, karena keadaan ekonomi saat ini yang sangat parah tidak akan bisa mendukung seseorang untuk menikmati kehidupan. Dari sejak kita kecil sampai dewasa, berkeluarga memilik anak dst..dst..dst kita terus hidup dengan perjuangan untuk mencari nafkah dan kebutuhan ekonomi yang tiada hentinya sampai akhirnya kita wafat. Untunglah di sisi lain ada paham agama yang mengajarkan bahwa sebenarnya ada "harapan" bagi seseorang yang telah mati sehingga paling tidak konsep ini dapat menjadi alternatif pilihan bagi orang-orang yang sedang frustasi dalam hidup ini, beberapa konsep agama mengajarkan tentang "dunia dan akhirat", "sorga dan neraka", beberapa agama yang mengajarkan dogma reinkarnasi, ada juga agama mengajarkan kebangkitan orang mati, bahwa orang yang telah mati akan dibangkitkan kembali dan akan hidup di suatu "dunia baru" atau firdaus di bumi ini. Apapun konsep yang diajaran oleh agama-agama tersebut pada intinya adalah bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya, sebenarnya ada "harapan" bagi orang mati pada saatnya nanti, hanya saja akan timbul pertanyaan selanjutnya yaitu doktrin manakah yang benar dari semua ajaran agama tentang harapan bagi orang mati? nah hal ini tentu membutuhkan riset dan minat untuk meneliti. Namun disamping itu ada syarat-syarat yang dijabarkan oleh paham agama agar orang-orang mati tersebut dapat menikmati "harapan" nantinya, sebagai contoh orang baik masuk sorga sedangkan orang jahat masuk neraka. Dan beberapa ajaran agama mengatakan perbuatlah sebanyak-banyaknya amal dan kebaikan selama kita hidup agar nantinya ada harapan bagi kita di akhirat setelah kita mati. Konsep agama ini jelas bertentangan dengan konsep filsafat Epikuros tadi, kalau konsep Epikuros dipakai maka tidak ada gunanya berbuat baik selama kita hidup di dunia ini karena toh kematian adalah akhir dari segala-galanya, tidak ada harapan atau suatu "penilaian" baik dan jahat pada orang mati nantinya. Jadi sekarang konsep mana kira-kira yang mendekati pola berpikir anda sehubungan dengan kematian? hal ini akan sangat berpengaruh terhadap cara pandang kita dalam menyikapi proses kematian yang sedang "mengintai" kita masing-masing. Maka saya mengundang para pembaca blog ini, mari sambil menghitung-hitung umur kita masing-masing, kita sama-sama mencari tahu ada apa sebenarnya dengan mati.

4 comments:

Anthony Ventura said...

Bravo, Ronald! Rekan IT yang satu ini memang ok punya dalam hal menuangkan isi pikirannya. Judulnya pun sangat cerdas. Sejak dulu saya memang mengaguminya...

Jadi saudara-saudara, anda ditawarkan konsep pemikiran yang mungkin sebelumnya tak pernah anda pikirkan sama sekali. Kalau memang benar begitu, jangan berkecil hati. Setiap orang punya tembok yang membatasi pikirannya, jadi dengan ini Ronald menawarkan satu wawasan baru.

Saya hanya berharap bahwa Ronald tidak keburu dicap sesat hanya karena ia menawarkan sesuatu yang 'berbeda'. Ingat, tidak semua yang kita ketahui selama ini adalah benar, dan tidak semua yang ditawarkan Ronald adalah salah pula. Jadi sikapilah dengan bijak sana...

Anthony Ventura - Penulis

Ken Law said...

Ronald adalah satu-satunya makhluk hidup yang pernah "menggoncang" iman saya, bukan dalam arti negatif tentu saja. Dalam beberapa hal saya memiliki persamaan dengan teman kita ini, saya tidak suka kediktatoran. Jadi saya akan selalu berusaha memiliki pikiran yang terbuka.

Sebenarnya mudah untuk mencari tahu ada apa di balik kematian, lebih mudah daripada mengirim ilmuwan ke bulan untuk menyelidiki keadaan disana, yang sulit adalah membuat laporannya, karena tidak ada manusia yang dapat kembali dari "ekspedisi ke alam baka". Satu - satunya cara adalah dengan mencari tahu dari kepercayaan - kepercayaan yang ada, dan tentu saja iman mutlak diperlukan, tapi harus hati-hati karena banyak hal yang dapat diimani di dunia ini.

Saya pernah mendengar nasihat sederhana untuk orang - orang yang gemar menghancurkan hidup orang lain dan hidupnya sendiri dengan alasan tidak percaya adanya alam baka. Nasihatnya seperti ini, "Apa ruginya berbuat baik walaupun alam baka itu memang tidak ada?"

Saya bukan penulis, jadi pasti banyak sekali kesalahan dalam tulisan saya, mohon dimaafkan.

KenLaw - Nobody :-)

Ken Law said...

Ronald adalah satu-satunya makhluk hidup yang pernah "menggoncang" iman saya, bukan dalam arti negatif tentu saja. Dalam beberapa hal saya memiliki persamaan dengan teman kita ini, saya tidak suka kediktatoran. Jadi saya akan selalu berusaha memiliki pikiran yang terbuka.

Sebenarnya mudah untuk mencari tahu ada apa di balik kematian, lebih mudah daripada mengirim ilmuwan ke bulan untuk menyelidiki keadaan disana, yang sulit adalah membuat laporannya, karena tidak ada manusia yang dapat kembali dari "ekspedisi ke alam baka". Satu - satunya cara adalah dengan mencari tahu dari kepercayaan - kepercayaan yang ada, dan tentu saja iman mutlak diperlukan, tapi harus hati-hati karena banyak hal yang dapat diimani di dunia ini.

Saya pernah mendengar nasihat sederhana untuk orang - orang yang gemar menghancurkan hidup orang lain dan hidupnya sendiri dengan alasan tidak percaya adanya alam baka. Nasihatnya seperti ini, "Apa ruginya berbuat baik walaupun alam baka itu memang tidak ada?"

Saya bukan penulis, jadi pasti banyak sekali kesalahan dalam tulisan saya, mohon dimaafkan.

Ken Law

Anonymous said...

Terima kasih atas informasi menarik