07 January 2006

Motivation VS Limitation

Akhir-akhir ini banyak sekali bermunculan orang - orang yang merepresentasikan diri mereka sebagai konsultan "power of motivation". Mereka menawarkan suatu paradigma sehubungan dengan konsep positif thinking, optimisme dan motivasi, saya pernah beberapa kali mengikuti seminar-seminar yang diadakan oleh beberapa konsultan tersebut (sepertinya kurang etis untuk menyebutkan namanya). Disamping itu saya pernah membaca beberapa artikel yang terkait dengan konsep positif thinking, dan setiap berangkat ke kantor atau pulang dari kantor kadang-kadang saya menyetel radio Smart FM 95.9 Mhz dan beberapa radio lain di dalam mobil saya, topicnya berisi pembahasan talk show berkisar konsep “power of motivation”, isi pembahasannya seputar optimisme, motivasi, berpikiran positif. Dulu saya juga pernah mengikuti beberapa seminar MLM (Multilevel Marketing) seperti CNI dan Amway. Jujur saja saya kagum dengan para pakar yang menawarkan konsep-konsep tadi dan jika ditinjau dari segi positif memang sasaran dari konsep yang ditawarkan oleh para pakar motivasi tersebut sangat bermanfaat untuk membentuk pola berpikir positif dari setiap orang, sehingga mendidik orang agar tidak lagi cepat menyerah dalam menjalani segala hambatan dan problematik kehidupan ini. Akan tetapi dari beberapa konsep yang ditawarkan tersebut ada yang saya rasakan kurang "membumi" seolah-olah segala hal bisa dilakukan dengan kekuatan diri kita tanpa memandang bahwa sebenarnya ada suatu batasan manusiawi atau yang kita kenal dengan istilah kodrat. Ada banyak sekali kondisi-kondisi tertentu yang berada diluar kendali dan kekuatan kita, sebagai contoh, penyakit, usia tua, kecelakaan, kematian, bencana alam, hukum alam dan terakhir hukum Tuhan. Semua kondisi tersebut dapat menjadi penghalang yang tak terelakkan, tak terduga dan tak terbendung pada saat kita sedang menjalani perjuangan hidup ini dengan konsep positif thinking tadi. Ada lagi pemikiran lain yang ditawarkan oleh para konsultan motivasi tadi yaitu tentang konsep untuk meraih status menjadi orang yang lebih unggul daripada orang lain. Ada seorang konsultan berkata kepada saya, jangan mau menjadi orang biasa atau “ordinary people” bertekadlah untuk menjadi orang yang luar biasa. Saya melihat adanya unsur semangat persaingan dari konsep tersebut, saya jadi teringat dengan orang-orang di jaman dahulu yang mengajarkan anak-anaknya dengan mengatakan “capailah cita-citamu sampai setinggi langit”. Banyak anak-anak yang dipaksa oleh orang tuanya untuk bersekolah setinggi-tingginya sesuai dengan trend dunia walaupun mungkin jurusan pendidikan yang dipilih orang tuanya tidak sesuai dengan minat sang anak. Orang tua dalam hal ini beranggapan bahwa mereka berpikiran positif hanya ingin agar anaknya tidak kalah bersaing dan menjadi orang yang sukses serta lebih unggul daripada anak-anak lainnya kelak, dengan kata lain orang tua tersebut hanya ingin meningkatkan power of motivation sang anak. Ironisnya begitu banyak anak-anak yang dipaksakan sejak kecilnya bersekolah tinggi akhirnya setelah dewasa harus menelan pil pahit kehidupan karena tetap saja sulit mendapatkan lapangan pekerjaan sebab kondisi persaingan yang sangat kompetitif. Itulah yang saya namakan dengan kondisi tertentu diluar kemampuan kita, hal-hal kecil dapat kita lihat sehari-hari dalam hidup kita, misalnya katakanlah kita adalah seorang yang disiplin dan tepat waktu, kita punya kedudukan di sebuah perusahaan dan sedang menuju ke kantor untuk meeting komisaris, semua orang telah mengenal kita sebagai orang yang tepat waktu, ternyata di perjalanan tanpa di duga kemacetan lalu lintas luar biasa sehingga kita terlambat sampai kantor sektiar 2 jam, minggu depannya ada meeting lagi dengan direksi namun kali ini kita terlambat karena mobil kita menabrak gerobak bakso yang sedang menyeberang jalan, tiga hari kemudian ada meeting lagi dan kali ini juga terlambat karena di tengah jalan istri kita menelpon bahwa anak kita mendadak sakit keras. Apakah orang mau concern dengan problem-problem kita yang menyebabkan kita terlambat? belum tentu, bisa jadi orang menganggap kita hanya mencari dalih untuk membenarkan diri. Tapi intinya yang saya mau katakan bahwa kita dibatasi oleh ketidakmampuan tertentu di dalam hidup ini.

Saya terkadang merenung andaikata semua manusia di bumi ini hanya mau menjadi orang yang besar dan lebih unggul daripada orang lain, bagaimana jadinya apabila di bumi ini tidak ada lagi orang yang mau mengerjakan hal-hal kecil yang kadang dianggap tidak berarti. Coba bayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada orang yang mau menjadi tukang sampah atau pembantu di lingkungan rumah anda? Coba bayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada yang mau jadi office boy atau satpam di kantor anda? Coba bayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada yang mau jadi supir bus atau masinis kereta api? Coba bayangkan bagaimana jadinya apabila tidak ada yang mau menjaga pintu tol atau pintu gerbang lintasan kereta api?. Saya teringat dengan mesin mobil yang menggunakan system karburator, apabila karburator itu dicopot dan dipreteli komponennya satu persatu maka akan terdapat beberapa onderdil yang berukuran kecil, tapi mekanik atau montir pernah mengatakan kepada saya bahwa satu onderdil kecilpun copot maka mobil tersebut tidak akan bisa distarter hidup. Hal ini meng-ilustrasikan bahwa sekecil apapun eksistensi atau kontribusi kita di dalam dunia ini kita bisa berada pada posisi yang sangat berharga, atau sebaliknya sehebat apapun posisi anda saat ini suatu saat tertentu anda akan berhadapan pada kondisi yang anda sendiri tidak dapat kendalikan. Saya teringat dengan sebuah joke atau anekdot yang saya dengar di radio tentang seorang pendeta dan seorang supir yang setelah mati keduanya naik ke surga, namun sang pendeta berada pada tingkat lebih rendah daripada sang supir di surga sana. Sang pendeta protes terhadap malaikat mengapa dia berada pada posisi dibawah sang supir di surga, sang malaikat mengatakan kepadanya bahwa ketika sang pendeta berkhotbah di mimbar para umat jemaat tertidur, tetapi ketika sang supir mengendarai bus para penumpang berdoa.

Jadi saya berkesimpulan ketimbang kita terlena dengan konsep yang tidak realistis sehubungan dengan menjalani hidup ini, lebih baik kita tetap “membumi” dan realistis. Saya tidak mengatakan bahwa kita harus menerima nasib dan berpangku tangan atau berpasrah diri seolah-olah kita tidak perlu berbuat apa-apa untuk merubah nasib atau bermalas-malasan, bukan itu maksud saya. Kita masih tetap bisa memiliki motivasi dan optimisme dalam hidup ini namun jangan pernah lupa diri atau melanggar kodrat kita sebagai manusia yang memiliki banyak keterbatasan, dan jangan lupa juga terhadap Tuhan sang pencipta yang maha kuasa yang sanggup membantu dan membimbing kita dalam menghadapi segala macam problem ketimbang selalu mengandalkan kekuatan diri sendiri. Dan satu hal lagi konsep untuk selalu lebih unggul daripada orang lain adalah konsep yang akan menjebak kita ke dalam semangat persaingan yang tidak realistik. Just be your self, jadilah diri anda sendiri jangan banding-bandingkan diri anda dengan orang lain, jangan berusaha menjadi sesuatu atau seseorang yang anda tidak sanggup raih. Apapun eksistensi anda saat ini, apapun pekerjaan anda saat ini baik itu besar ataupun kecil dari segi ukuran dunia ini, walaupun dunia menganggap anda orang yang tak berharga menurut saya anda tetap manusia yang berharga paling tidak di mata Tuhan sang pencipta yang maha kuasa.

No comments: