07 September 2006

Harapan Permanen atau Semu?

Tanggal 2 September 2006 yang lalu, saya ikut dalam jajaran panitia seminar sehari Stem Cell yang diadakan di Aula FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Saya kebetulan ditempatkan oleh ketua panitia dalam seksi dokumentasi sebagai kameramen lengkap dengan peralatan kamera handycam merk Sony dll layaknya seperti seorang wartawan, hal ini menguntungkan buat saya karena memungkinkan saya untuk menyimak acara-demi acara presentasi dengan baik. Berbeda dengan panitia lainnya yang mondar-mandir mengurus sarana dan prasarana baik sebelum maupun selama acara berlangsung sehingga mereka tidak bisa menyimak acara dengan baik seperti saya.

Selama acara presentasi berlangsung ada banyak hal yang cukup menarik buat saya, seraya para profesor, doktor dan para ahli di bidang kedokteran, farmasi, kimia dan biologi molekuler menyajikan bahan presentasinya secara bergantian, saya terus menyimak dengan seksama sambil membidikkan lensa kamera video saya. Selain pembicara dari FKUI, tampil pula pembicara-pembicara dari FK UGM Yogyakarta, FK UNAIR Surabaya dan pembicara tamu dari Singapura.

Inti dari semua presentasi tersebut adalah adanya suatu harapan di masa depan bagi para praktisi medis dalam mengatasi berbagai jenis penyakit dengan teknologi medis alternatif dalam hal ini Stem Cell. Memang sepertinya hal ini merupakan suatu harapan dan perkembangan medical science yang spektakuler. Saya ingat apa yang dikatakan Dr.Boenyamin PhD. salah satu presenter, beliau mengatakan bahwa stem cell masuk dalam kategori medical science generasi ke 5.

1. Herbal Medicine (pengobatan alamiah)
2. Synthetic Medicine
3. Antibiotic (Penicilin) Medicine
4. Biotechnology Medicine
5. Stem Cell Medicine

Pada saatnya nanti teknologi medis stem cell ini akan sanggup menggantikan metoda pegobatan cara lama dengan metoda baru, yaitu meng-injeksi sel aktif ke dalam organ tubuh yang sakit (misalnya jantung atau otak) melalui pembuluh darah, sehingga sel yang di-injeksi tersebut akan beregenerasi dan memperbaiki sel-sel yang rusak di dalam organ-organ tubuh manusia. Hanya saja dalam hati saya ironis sekali, para pembicara rata-rata sudah lanjut usia, rata-rata berumur diatas 60 tahun. Saya bertanya dalam hati apakah mereka masih hidup apabila kelak teknologi stem cell ini berhasil diterapkan di Indonesia? Karena salah satu presenter yang sudah berusia lebih dari 70 tahun menjelaskan bahwa teknologi stem cell tidak hanya bisa digunakan untuk pengobatan saja melainkan juga bisa digunakan untuk menghambat proses penuaan (Anti Aging Medicine) maka muncul pertanyaan berikutnya apakah para pakar-pakar tersebut yang nota bene sudah pada lanjut usia nantinya masih sempat menikmati teknologi stem cell itu? inilah yang saya sebut dengan ironi.

Saya bertanya lagi dalam hati apakah stem cell pada saatnya kelak memang benar akan menjadi harapan gemilang yang bersifat permanen? hampir semua pakar dan para ilmuwan sangat mengandalkan science dan bahkan cenderung mendewakan ilmu pengetahuan, memang dalam kadar tertentu teknologi medis dapat membantu umat manusia mengatasi berbagai jenis penyakit dengan cara yang canggih tapi jangan lupa konsekuensinya, teknologi medis canggih sudah pasti sangat mahal harganya sehingga tidak semua orang dapat menikmatinya kelak, disamping itu masih banyak aspek-aspek etis dan hukum yang terkait, sebab ada juga teknologi stem cell yang melanggar norma-norma etis dan kemanusiaan seperti yang dikatakan oleh Prof. Dr. dr. MK Tadjudin ketua Pokja Stem Cell Komisi Bioetika Nasional, isu penelitian stem sel dapat ditinjau dari segi ilmiah, etika dan hukum. Menurutnya bila stem cell ini digunakan sebagai regenerasi atau therapeutic diperbolehkan. Yang tidak diperbolehkan adalah membuat cloning (suatu individu hidup yang utuh).

Karena itu saya berpikir pada akhirnya semua alternatif pengobatan modern apapun sifatnya semu, tidak dapat memecahkan alasan mendasar umat manusia, semua orang toh tetap saja akan sakit, usia tua dan akhirnya mati. Andaikatapun para ahli dapat memperpanjang umur orang ada beberapa problem lain yang akan terjadi, apakah orang yang panjang umurnya itu akan hidup senang di tengah-tengah dunia yang semrawut ini, penuh dengan problem politik, sosial, peperangan, bencana alam, polusi udara, air dan tanah serta problematik lainnya yang notabene tidak dapat dihindari oleh orang yang kaya raya atau para ahli sekalipun, sejarah peradaban manusia sudah membuktikan bahwa dunia ini semakin rusak di bawah kendali manusia. Disamping itu apa enaknya umur panjang jika teman-teman sebaya dia rata-rata sudah meninggal sehingga dia akan menjadi orang lansia yang kesepian tidak ada teman sebaya lagi selain itu anak-anak serta family sudah sibuk masing-masing dan tidak begitu peduli terhadapnya.

Jadi bagaimanapun juga manusia pada akhirnya tetap membutuhkan sumber kekuatan yang bersifat adimanusiawi atau istilah lain supranatural (dalah 'bahasa agama' dikenal dgn istilah Tuhan sang pencipta) untuk pemecahan problematik secara permanent. Tidak ada seorang ilmuwan pun di dunia ini yang sanggup meniadakan penyakit atau menahan kematian atau memperpanjang umur manusia dalam kadar unlimited. Tidak ada seorang pakar pun yang sanggup memperpanjang umur manusia. Ujung-ujungnya manusia pada akhirnya toh akan bermuara kepada pencarian akan kekuatan adimanusiawi tersebut dalam mengatasi segala jenis problem umat manusia secara permanen khususnya dalam topik ini yaitu problem penyakit, usia tua dan kematian, anda percaya atau tidak waktu sajalah kelak yang akan membuktikannya.

2 comments:

Erik Tapan said...

Dear Pak Ronald,
Sunggu suatu analisa yang sangat mendalam dan sangat "out of box".
Artinya melenceng dari tema simposium.

Mestinya Pak Ronald juga ikut jadi pembicara di sesi terakhir, sehingga semua pada bingung. :-)
He...he... becanda lho.

Pendapat saya: memang benar, kita terlalu mencintai hal yang semu. Bentuk fisik manusia (daging, darah, dll), adalah bentuk sementara karena manusia belum sanggup mempunyai bentuk yang lebih tinggi.
Sayangnya banyak orang yang sangat mendambakan hal ini untuk tetap dipertahankan.

Sebenarnya tidak mutlak salah. Kalau usia panjang tersebut digunakan untuk hal-hal yang baik, tentu baik adanya.
Misalnya usia seseorang ditambah agar banyak orang yang bertobat, dll.

Tetapi kalau usia panjang tersebut, digunakan untuk menambah dosa??

Demikian sedikit komentar dari saya dan terus berkarya.

Salam,
Erik Tapan

Ronald T.Gultom said...

Terimakasih Dokter Erik atas komentarnya,

Sebenarnya maksud tulisan saya itu tidaklah hendak mematahkan konsep science "demi kebaikan". Bukan itu esensi tulisan saya.

Saya sangat menghargai para praktisi medical science dan lain-lain apalagi jika itu dikembangkan untuk kebaikan umat manusia yang notabene bersifat "semu" belaka. Tapi daripada tidak berkarya yah lebih baik memang para praktisi medis tetap mengadakan penelitian secara terus-menerus untuk kebaikan umat manusia.

Namun saya ingin mengajak para pembaca tulisan saya untuk merenung, bahwa di luar dimensi kita ada dimensi lain yang bersifat adimanusiawi yang pada akhirnya semua orang akan mencari itu entah dengan cara bagaimana.

Saya berpikir bhw insting manusia adalah tetap mengandalkan kekuaran superpower, coba perhatikan film-film "adimanusiawi" yang sering diputar di bioskop seperti Superman, Spiderman, Batman dll yang kesemuanya adalah manusia super yang sanggup menanggulangi problem manusia seperti memberantas kejahatan, menciptakan keadilan dan lain sebagainya.

Konsep Film itu pasti muncul karena sepanjang sejarah, manusia tidak sanggup menanggulangi problem-problem mereka, maka diciptakanlah tokoh2 yang superpower sebagai "candu" manusia agar manusia senang bisa mengatasi problem dengan imajinasi yang sekali lagi bersifat semu belaka.

Salam,
Ronald