14 February 2007

Fakta Perbedaan Paradigma

Ketika timbul keadaan tertentu yang mengarah kepada suatu diskusi tentang agama atau kepercayaan diantara beberapa orang, maka bisa dipastikan akan muncul banyak sekali situasi, kondisi atau pendapat dan pandangan di antara tiap-tiap individu yang terlibat dalam diskusi tersebut. Saat ini telah begitu banyak mailing list atau group discussion dan situs-situs yang dirancang khusus untuk berkumpulnya para peminat dan pengamat agama-agama di dunia ini. Saya kadang memperhatikan di dalam beberapa forum diskusi (milis) ada yang cukup berbobot serta kritis, ada pula yang berisi obrolan tak bermutu dan cenderung hanya berupa ajang perdebatan sengit tak menentu yang bertujuan untuk menang debat saja.

Kelompok orang berdasarkan reaksi dan pandangan hidup
Dalam pengamatan saya selama ini memang ada begitu beragam reaksi orang-orang jika dihadapkan kepada diskusi tentang kepercayaan atau agama. Ada yang alergi jika berdiskusi tentang agama, ada yang tidak peduli dengan hal-hal apapun yang bersifat rohani, banyak orang yang lebih senang diskusi tentang politik, teknologi, ekonomi, manajemen dll, diskusi soal agama benar-benar dianggap tidak populer dan bahkan cenderung dianggap bodoh oleh beberapa orang, ada yang bersikap skeptis atau bahkan acuh tak-acuh terhadap agama dan lebih fokus pada hal-hal duniawi seperti mengejar karir dan harta kekayaan materi, ada yang atheis atau agnostic, bahkan ada yang sinis terhadap keberadaan agama, ada juga orang yang berprinsip bahwa agama tidak terlalu perlu dianut seseorang karena agama hanyalah label saja yang penting cukup berbuat baik dan bertingkah laku patut terhadap orang lain itu saja tidak harus beragama, ada yg takut terjadi perdebatan atau perbantahan jika berdiskusi dan mengatakan bahwa agama tidak perlu didiskusikan tidak perlu diperbandingkan ataupun diselidiki, ada yang mengatakan bahwa berdiskusi tentang agama sangat sensitif sifatnya, di sisi lain ada yang bersifat dogmatis terhadap ajarannya dan bahkan cenderung fanatik, ada juga yang pasrah menerima agama warisan yang telah dianut sejak lahir dari orang tuanya dan merasa bahwa agamanya tersebut tidak perlu lagi dikaji ulang atau diteliti kembali kebenarannya ataupun diperdebatkan, ada yang menggantungkan sepenuhnya iman dan kepercayaan mereka kepada pendetanya, pastornya atau biksunya, uztadnya sehingga tidak berani untuk didiskusiakan sebab tidak mempunyai modal pengetahuan sama sekali, andaikatapun mereka memiliki kitab suci namun itu hanya merupakan pajangan saja di atas rak buku, ada juga yang bersikap fanatisme buta, fundamentalistis & radikal, ada juga yang berpandangan liberal dan pluralism, beberapa berpandangan bahwa segala sesuatu bersifat relatif, menurut orang yang berpandangan ini tidak ada kebenaran absolute termasuk kebenaran agama, segalanya tergantung perspektif seseorang atau cara kita memandang, dan oleh karena itu tidak ada kebenaran yang bersifat mutlak, beberapa berpandangan bahwa dogma atau doktrin agama tidak perlu dikritisi atau diteliti kebenarannya, jangan “mengusik” keberadaan ribuan jenis agama di dunia ini biarkan masing-masing kepercayaan berjalan sendiri-sendiri tidak usah diselidiki kebenarannya, biarkan saja berjalan apa adanya.

Itulah situasi dan paradigma berpikir yang mungkin akan kita dapati dari berbagai macam orang apabila anda dihadapkan pada suatu diskusi agama, dan mungkin bisa jadi ada seribu satu macam situasi lain yang berbeda apabila kita terlibat dalam situasi tersebut. Manakah diantara pandangan-pandangan tersebut di atas yang benar-benar cocok? itu semua berpulang kepada anda masing-masing, pendapat adalah hak prerogatif seseorang silahkan anda putuskan sendiri pilihan anda, atau mungkin anda mengatakan bahwa tidak satupun di antara konsep yang disebutkan di atas anda pegang, yah silahkan juga. Sementara itu Jika kita lihat fakta lain yang lebih ekstrim dari sisi yang berbeda ada sekelompok orang yang bahkan rela mati demi agamanya, atau rela “mematikan” orang lain atau membunuh orang lain demi agamanya pula sehingga hal ini telah mengakibatkan banyak orang di dunia ini menjadi “terganggu” atau bahkan “takut” terhadap eksistensi dari banyaknya agama-agama yang saling bertikai satu sama lain.


Apa sebenarnya definisi dari agama?
Terjemahan dari agama dalam bahasa Inggris adalah "religion", sebuah kamus menjelaskan arti dari kata Religion: “religion is a beliefs and worship: people’s beliefs and opinions concerning the existence, nature, and worship of a deity or deities, and divine involvement in the universe and human life”, sedangkan arti kata worship adalah “treat somebody or something as deity: to treat somebody or something as divine and show respect by engaging in acts of prayer and devotion” (Microsoft® Encarta® Reference Library 2003. © 1993-2002 Microsoft Corporation). Jadi di dalam kata religion terkandung makna “pengabdian”, “penyerahan diri”, “pengorbadan diri” terhadap sesuatu, bisa terhadap satu oknum atau pribadi yang berkuasa seperti Tuhan (agama-agama monoteisme), atau bisa juga terhadap kekuatan alam atau dewa-dewa dan dewi-dewi (kepercayaan polyteisme). Memang tak dapat dipungkiri bahwa sepanjang sejarah eksistensi agama di dunia ini, tatacara dari ibadat agama-agama tersebut diatur oleh suatu lembaga atau organisasi, dan organisasi tersebut dijalankan dengan berlandaskan pada hukum-hukum yang digariskan secara fundamental di dalam kitab suci dari masing-masing agama tersebut. Di dalam tiap-tiap organisasi agama hampir selalu ada struktur hirarki kepemimpinan yang akan berperan dalam mengatur tatanan organisasi dalam mengurus tatacara ibadat bagi umatnya. Tidak sedikit organisasi agama yang melibatkan dirinya dengan organisasi politik guna bertujuan untuk mendapat dukungan dari pemerintahan negara. Agama seolah-olah "kawin" dengan politik dengan motivasi utk memperoleh wewenang dan kekuatan, itulah sebabnya dulu pernah muncul pernyataan dari pemerintah negara tentang agama yang "diakui" dan "tidak diakui" negara, setiap agama yang hanya berupaya untuk tunduk secara vertikal terhadap Tuhan sang pencipta tanpa melibatkan diri dengan politik negara akan dianggap tidak menghormati pemerintah dan oposisi sehingga masuk kategori agama tidak diakui negara, ironis memang, tapi itulah faktanya. Di sisi lain ada juga agama yg tidak memiliki organisasi, namun demikian apabila suatu agama tidak memiliki hirarki kepemimpinan dan organisasi tetap saja terdapat tokoh-tokoh cendikiawan atau guru-guru agama yang berkuasa dan bertanggungjawab untuk mengajarkan serta membimbing umatnya agar tetap dalam koridor hukum fundamental dari kitab sucinya, dan biasanya kebanyakan umatnya akan tunduk, respek dan mengikuti arahan sang tokoh atau guru agama tersebut. Itu semua adalah fakta yang kita bisa lihat sendiri dari eksistensi agama-agama di dunia ini.

Akhir kata timbul pertanyaan, apakah agama atau kepercayaan perlu didiskusikan? apakah agama perlu dikaji ulang? perlukah kita mendalami agama kita atau agama orang lain? perlukan kita mengkritisi agama kita maupun agama orang lain? tidakkah sebaiknya kita pasrah saja menerima agama yg sudah kita anut sejak lahir atau agama wariwan? apakah kebenaran absolute itu memang ada? tidakkah segala hal bersifat relatif? atau mungkin pertanyaan paling mendasar, apakah memang perlu beragama atau terikat dengan organisasi agama tertentu? mari kita merenungkan pertanyaan itu semua.




5 comments:

zhen said...

termasuk kelompok pola berpikir manakah anda ?

Ronald T.Gultom said...

Hallo Zhen / Mr.Yardi, senang ketemu anda kembali, apa kabar?

Thanks atas pertanyaannya.

Begini....
Saya sangat yakin bahwa kebenaran absolute itu harus ada, karena kebenaran sejati itu identik dengan keberadaan Tuhan sang pencipta. Jika tidak ada kebenaran mutlak, maka Tuhan-pun pasti tidak ada, ini adalah rumusan mendasar menurut saya.

Kebenaran mutlak yang saya maksudkan adalah kebenaran yang berasal dari Tuhan, bukan kebenaran manusia, karena tidak ada satupun manusia di dunia ini yang sempurna dan benar termasuk saya. Semua manusia telah jatuh ke dalam dosa, setidak-tidaknya dosa warisan yg diturunkan oleh moyang kita Adam & Hawa.

Tidak diketahuinya kebenaran mutlak bukan berarti kebenaran tersebut tidak ada. Sama ilustrasinya jika jaman dulu orang belum menemukan listrik dan segala teknologi spt komputer, pesawat terbang dll, itu bukan berarti teknologi tersebut tidak ada, hanya saja belum ditemukan oleh orang jaman dahulu kala. Demikian juga berkenaan dengan kebenaran sejati/mutlak.

Jadi singkatnya, saya masuk kategori orang yang percaya bahwa kebenaran mutlak itu ada, dan sedang terus menggali dan belajar tentang hal itu sampai sekarang, tidak ada kata Tamat belajar bagi orang yang ingin menggali kebenaran.

>> Salam <<

zhen said...

percaya itu ada
atau itu memang ada ?

Ronald T.Gultom said...

Dear Mr.Zhen,

Mengapa saya percaya bahwa kebenaran sejati atau kebenaran mutlak itu ada? yaitu karena kebenaran sejati itu harus ada.

Seperti komentar saya sebelumnya, karena "kebenaran sejati itu identik dengan keberadaan Tuhan sang pencipta" maka kebenaran sejati harus ada. Jika tidak ada maka Tuhan-pun tidak ada.

Mengapa demikian? krn jika Tuhan ada, Dia pasti memiliki standar kebenaranNya, dan tidak akan membiarkan kekacauan di dunia ini tanpa batas, saya yakin bahwa hanya masalah waktu saja manakala kelak Tuhan pada akhirnya akan menyatakan kebenaranNya yang sejati kepada umat manusia di bumi ini, paling telat pada hari penghakimanNya (akhirat / kiamat / armagedon).

Sementara hari akhir itu belum tiba, umat manusia diberi kesempatan untuk mencari kebenaran sejati yang berasal dari Tuhan tersebut.

Sejarah mencatat sepanjang abad dari generasi ke generasi, umat manusia terus menjelajah mencari kebenaran tentang Tuhan-nya. Kira-kira lebih dari 3.500 tahun yang lalu manusia terus mencari dan menjelajah tentang kebenaran mereka.

Agama Judaisme +/- tahun 1513 BC
Agama Hindu +/- tahun 1500 BC
Agama Buddhist +/- tahun 563 BC
Agama Kristen +/- tahun 33 AD
Agama Islam +/- tahun 530 AD

Itu semua adalah agama-agama utama, kita belum lagi bicara tentang sekte-sekte atau pecahan dari agama utama tersebut, susunan kristen saja saat ini terdiri atas ratusan sekte, Islam juga demikian, dll. Sejarah mencatat bahwa Setiap tahun selalu saja muncul sekte agama baru atau paling tidak konsep pencerahan yang baru, itu membuktikan bahwa orang terus menjelajah.

Semoga komentar saya ini bisa menjawab pertanyaan anda, terimakasih.

Ronald T.Gultom said...

Tambahan lagi untuk melanjutkan komentar sblmnya.....,

Jika kebenaran sejati itu tidak ada, maka untuk apa orang-orang sepanjang sejarah repot-repot mencari dan menjelajah kalau toh tidak akan pernah mendapatkan kebenaran sejati?

Kalau manusia tidak akan dapat menemukan kebenaran sejati, lalu untuk apa orang repot-repot menjalankan rutinitas ibadah ke klenteng, ke wihara, ke kuil, ke gereja, ke mesjid dan segala bentuk ibadah lainnya?

Kalau kebenaran sejati tidak ada, untuk apa berbuat baik? toh orang baik dan orang jahat sama-sama tetap bisa menikmati kehidupan koq, bahkan fakta membuktikan orang jahat lebih banyak dan lebih kuat bertahan hidup daripada orang baik, sementara orang baik lebih cepat mati. Bahkan koruptor lebih menikmati kehidupan ketimbang orang jujur.

Kalau kebenaran sejati tidak ada lebih baik kita nikmati hidup ini sepuas-puasnya sesuka hati kita tanpa harus peduli segala aturan hukum, dll.

Jadi kesimpulan singkatnya Kebenaran Sejati pasti ada!