23 November 2005

Tradisi & pola pikir

Teman saya pernah cerita tentang suatu tayangan di televisi dalam suatu acara “Reality Show” yang menampilkan seorang “bule” dari Amerika sana sedang di test keberaniannya “nangkring” di tempat tertentu yang diyakini banyak hantunya di situ, kemudian seraya kamera televisi dibidik ke arah sang bule itu, terlihat betapa wajah orang bule tersebut sama sekali tidak menyiratkan rasa takut sedikitpun, padahal tayangan-tayangan sebelumnya yang menampilkan orang Indonesia asli kebanyakan mereka takut apabila nangkring di situ. Kalau diperhatikan sebenarnya kondisi tersebut tidak mendatangkan situasi mistik tertentu yang berarti, so apa yang jadi aneh di sini ? apakah sang hantu takut sama orang bule itu sehingga dia tidak muncul ?, atau apakah sang bule yang nggak yakin sama sekali dengan keberadaan sang hantu ? Mengapa banyak sekali orang-orang dari barat sana yang sepertinya tidak percaya terhadap hal-hal yang bersifat tahayul apalagi kepada hantu-hantu ? sementara orang-orang di daerah Asia seperti terbelenggu dengan suatu konsep berpikir yang bersifat spiritisme ?. Coba saja anda amati film-film Barat dan film-film Indonesia khususnya yang ditayangkan di layar televisi, akhir-akhir ini acara sinetron televisi di Indonesia banyak sekali menampilkan adegan-adegan spiritisme, hantu-hantu, setan gentayangan. Ada acara “pemburu hantu”, ada acara “percaya gak percaya” dan adegan reality show lainnya, sementara acara-acara televisi dari Barat lebih banyak bernuansa science, imajinasi, action dan walaupun ada beberapa yang berbau mistik namun sangat jarang. Apabila anda pernah mengamati sekilas budaya barat dan membandingkannya dengan budaya timur, salah satu perbedaan terbesar antara masyarakat di belahan dunia bagian Barat dengan masyarakat di belahan dunia bagian Timur adalah dalam hal tradisi dan adat istiadat. Kehidupan masyarakat Timur sangat banyak dipenuhi dengan berbagai jenis tradisi upacara adat. Mulai dari ketika seseorang masih di dalam kandungan sang ibu, setelah seseorang dilahirkan ke dunia ini, pada masa penyapihan, setelah dewasa dan masuk ke jenjang perkawinan, pada waktu seseorang menderita penyakit, tertimpa musibah atau malapetaka, dan terakhir pada waktu seseorang mengalami kematian - situasi atau keadaan tersebut selalu diwarnai dengan suatu upacara adat atau tradisi tertentu. Upacara-upacara di sepanjang lingkaran hidup manusia itu di dalam antropologi dikenal dengan istilah rites de passages atau life cycle rites. Uniknya di wilayah Asia khususnya kita sangat mudah mengamati bahwa upacara-upacara adat tersebut masih tetap dijalankan sampai sekarang, seolah-olah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di jaman modern ini sama sekali tidak sanggup mendobrak paradigma masyarakat tertentu di Asia khususnya sehubungan dengan kebiasaan menjalankan upacara adat yang telah ber-abad-abad dilakoni oleh nenek-moyang mereka. Sementara itu di belahan bagian barat bumi ini upacara-upacara adat seperti itu sangat jarang diketemukan apalagi khususnya di jaman modern ini.

Pengaruh tradisi adat istiadat terhadap paradigma berpikir
Kemungkinan besar budaya yang berbeda inilah yang mempengaruhi pola berpikir masyarakat bagian Barat dan masyarakat bagian Timur. Teman saya pernah bertanya kepada saya, kenapa sih orang-orang di Mesir (Egypt) & Irak (Babilonia) yang notabene menurut sejarah merupakan bangsa dengan beradaban tertua di dunia seolah-olah ketinggalan dari segi science dan teknologi jika dibandingkan dengan orang-orang di bagian Barat ? waktu itu saya merenung lama juga mendengar pertanyaan tersebut. Dan memang benar penemuan-penemuan Arkeologi di Mesir seperti Piramida misalnya telah membuktikan bahwa peradaban Mesir telah ada jauh sebelum negara-negara di bagian barat exist, Irak juga menurut sejarah adalah pusat kebudayaan dunia yang mana beberapa sumber publikasi sejarah dan agama membuktikan bahwa peradaban manusia dimulai di wilayah Mesopotamia (daerah di antara sungai Tigris dan Eufrat) tepatnya di Irak sekarang. Dan tidak bisa dipungkiri juga bahwa bangsa-bangsa di bagian Barat telah membuktikan bahwa mereka “menyusul” negara-negara lain dalam hal science dan teknologi. Ada banyak contoh yang membuktikan bahwa orang-orang Barat mempunyai pola berpikir yang berbeda dibandingkan dengan orang-orang di bagian Timur, contoh kecil saja orang barat sangat tidak percaya dengan yang namanya tahayul hal-hal yang berbau spritualisme, animisme dan dinamisme sementara di Asia banyak orang yang masih percaya akan hal-hal yang berbau spiritisme, animisme dan dinamisme bahkan di jaman sekarang ini. Saya ambil contoh di India misalnya, sampai sekarang masih banyak masyarakat yang sebenarnya cukup berpendidikan namun tetap menganggap sungai Gangga yang lumayan kotor sebagai "sungai suci", di Jepang beberapa masyarakat yang terpelajar masih menyembah Matahari, dan kalau kita mengamati di negara kita sendiri Indonesia yang terdiri dari banyak pulau dan beragam etnis/suku, kita akan mendapati begitu banyaknya corak-corak tradisi dan upacara adat istiadat yang dianut oleh tiap-tiap suku, dan sampai saat ini adat-istiadat tersebut tetap dijalankan turun-temurun tanpa mengenal status pendidikan seseorang. Di Indonesia misalnya beberapa budaya masyarakat melarang anaknya bermain-main dengan gunting atau jarum pada sore hari di halaman rumah karna dianggap “pamali” , tabu dsb karena akan mengakibatkan malapetaka tertentu nantinya apabila dilakoni. Seorang wanita hamil misalnya tidak diperkenankan memakan telur ayam yang biji kuningnya ada dua dalam satu telur, kalau tidak salah dapat mengakibatkan anaknya lahir kembar siam, atau kalau sedang berada di hutan atau kebun dilarang kencing di sembarang pohon karena konon katanya “penunggunya” bisa marah dan bikin orang kesambet.

Tradisi adat istiadat versus Ilmu pengetahuan
Abad ke 21 ini ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat. Datangnya pemikiran baru maupun teknologi baru ke dalam suatu wilayah tertentu diyakini akan memberi nilai tambah terhadap suatu kebudayaan. Tidak dapat dielak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa saja membawa suatu disorientasi dan diskontinuitas kebudayaan bagi generasi yang sudah tidak lagi kuat memegang tradisi kebudayaan turun-temurun. Di beberapa daerah generasi muda telah mulai secara berkesinambungan “sadar” akan perlunya suatu reformasi tertentu terhadap tata cara adat istiadat yang dianggap tidak logis, tidak efisien dan berbau mistik dan tahayul. Memang jika dikaji secara mendalam tatacara tradisi yang dianut oleh kebanyakan etnis di wilayah Asia, khususnya di Indonesia sepertinya sudah tidak “praktis” lagi dengan perkembangan zaman, dimana zaman telah berubah, segala sesuatu telah mengarah kepada efisiensi dan efektifitas. Satu contoh kecil saja, misalnya upacara pernihkahan dalam adat istiadat tertentu yang memakan waktu begitu lama dan biaya yang begitu besar dengan segala bentuk tatacara upacaranya, sementara ada pilihan lainnya yang lebih simple yaitu resepsi pernikahan sederhana yang hanya memakan waktu sekitar dua jam, tidakkah orang yang berpikiran praktis, ekonomis, efisien dan efektif akan memilih dengan bijak.

Tradisi adat istiadat versus Agama
Beberapa sejarawan mengatakan bahwa di jaman dahulu kala tradisi adat istiadat adalah merupakan ”Agama” dari suatu suku tertentu yang dikenal dengan agama “Animisme dan Dinamisme” Animisme = kepercayaan terhadap kekuatan sipiritisme atau supranatural atau alam roh, sedangkan Dinamisme = kepercayaan terhadap kekuatan yang terdapat dalam benda-benda tertentu seperti pohon, batu, keris, patung dan lain-lain. Sebelum agama-agama dunia seperti Islam & Kristen masuk ke dalam suatu suku tertentu mereka telah memiliki “agama” warisan dari leluhur yaitu tradisi adat istiadat. Agama dunia dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yang pertama agama “monoteisme” dan yang kedua “polyteisme”. Monoteisme adalah agama yang mengenal satu Tuhan (seperti agama Islam, Kristen, Judaisme) sedangkan Polyteisme adalah agama yang mengenal banyak Tuhan (seperti Hindu, Budha, Konghucu, Shinto dll). Pada dasarnya semua agama yang menganut paham monoteis percaya bahwa memang ada dua kekuatan supratural di alam surgawi sana, ada kekuatan baik yang di sebut Tuhan atau Allah dan ada kekuatan jahat yang disebut sebagai Setan atau Iblis atau Hantu atau Jin, demikian tertulis di dalam kitab suci agama-agama monoteis. Ketika para missionaris Kristen dan para musafir Islam datang menjelajah ke Asia khususnya ke Indonesia dan membawa ajaran baru agama mereka. Sejak saat itulah terjadi apa yang dinamakan dengan “sinkretisme” peleburan Agama dengan Tradisi budaya. Bagi agama-agama polyteisme sinkretisme tersebut adalah suatu hal yang mudah diterima karena konsep mengenal banyak allah & dewa-dewi hampir sama dengan konsep kepercayaan adat istiadat yang bersifat animisme dimana kepercayaan terhadap dewa-dewi juga ada, namun bagi agama-agama monoteisme hal ini tidaklah mudah sebab konsep keberadaan Tuhan adalah Esa, Tunggal dan Exclusive, sementara apabila ada konsep ke-illahian yang lain selain Tuhan yang esa tersebut maka bisa dipastikan berasal dari kekuatan supranatural yang jahat yaitu Setan si Iblis. Namun demikian seraya sejarah waktu berjalan peleburan konsep sinkretisme belakangan diterima juga oleh paham agama monoteisme tersebut. Pada akhirnya terbentuklah “agama paduan” yang merupakan perkawinan antara tradisi budaya dengan agama. Itulah sebabnya kita dapat menemukan beberapa kemiripan dogma atau doktrin yang ada di dalam Agama tertentu dengan kepercayaan di dalam tradisi adat istiadat pada etnis tertentu. Oleh karena itulah beberapa kritikus agama mengkritik dogma-dogma tertentu yang dianggap mereka telah di-intervensi oleh beberapa tradisi atau upacara adat tertentu yang bersifat paganism atau animisme. Memang ada banyak norma-norma moral serta filosophy yang dihembuskan oleh adat istiadat tertentu dari etnis tertentu yang bermanfaat dalam hubungan horizontal sesama manusia, akan tetapi yang dikritisi oleh para pemikir fundamental Agama adalah upacara-upacara adat yang bersifat animisme dan spiritisme yang sudah menjadi tradisi atau kebiasaan padahal sebenarnya bertentangan dengan kitab suci suatu agama. Jadi kalau kita kaji ulang kemungkinan besar itu pula yang menyebabkan beberapa orang "pemikir fundamental" di Eropa dan Amerika yang tidak hanya menolak konsep tahayul tetapi juga telah kehilangan kepercayaan terhadap agama itu sendiri karena dianggap sudah tidak murni dan tidak lagi rasional sebab telah mencampuradukkan tradisi dengan agama yang seharusnya murni. Nah timbul pertanyaan .....lalu apakah yang sebenarnya menyebabkan terjadinya degradasi pola pemikiran seperti ini dikalangan masyarakat di negara tertentu ? dan kebenaran seperti apakah yang seharusnya dicari oleh orang-orang kritis dan rasional tersebut ? ......nantikan artikel saya selanjutnya.

No comments: