20 November 2005

Sejarah perayaan Natal

Setiap tanggal 25 Desember umat Kristen merayakan Natal, yang sudah dipercaya sejak dulu sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Sangat wajar bila ada pertanyaan-pertanyaan seputar latar belakang sejarah asal-usul penetapan hari itu sebagai hari lahir Yesus Kristus. Ternyata memang bukan hanya kalangan Kristen saja yang mencoba mencari tahu asal-usul perayaan ini, tetapi mereka yang tidak mengimani Kristus pun ingin tahu. Keingintahuan itu muncul berlandaskan motivasi yang berbeda-beda. Ada yang ingin tahu karena ingin menggali maknanya sekaligus memperdalam imannya pada Yesus Kristus. Ada juga yang sekedar ingin tahu tanpa mau apa-apa setelah tahu. ada juga yang ingin mendapatkan informasi yang benar selengkap-lengkapnya sehingga tidak tersesat mengikuti kebiasaan yang tidak ada dasar Kristianinya sama sekali atau bahkan merupakan warisan dari kebiasaan paganism/kafir yang bertentangan dengan firman Tuhan. Tulisan singkat ini disajikan untuk siapa saja yang memang ingin tahu mengenai kebenaran asal-usul perayaan Natal. Hal ini sangat relevan dan penting untuk memahami tradisi Gereja yang merupakan ekspresi iman Gereja akan Yesus Kristus yang terus berkembang. Setidaknya dengan demikian kita tidak buta, masa bodoh, atau malah menyepelekan sejarah dari tradisi Gereja kita sendiri.

SEJARAH KEKRISTENAN ABAD PERTAMA MASEHI
Jemaat Kristen Perdana atau kristen yang mula-mula ternyata sebenarnya tidak pernah memberikan perhatian pada tanggal kelahiran Yesus. Seluruh perhatian umat pada waktu itu terarah pada Kebangkitan Kristus (bangkitnya Yesus 3 hari setelah mati disalibkan) hal ini dicatat di Alkitab injil secara majemuk oleh rasul-rasul Yesus. Lagipula pada waktu itu, bahkan perayaan hari ulang tahun saja pada umumnya dipandang sebagai kebiasaan kafir (istilah kafir digunakan orang Kristen pada waktu itu memaksudkan orang-orang non-Yahudi yang menyembah berhala dan yang tidak bersunat di bawah hukum Taurat Musa). Seorang tokoh Gereja abad pertama - Origenes (thn. 185-254 Masehi), secara tegas menolak tradisi ulang tahun kelahiran di kalangan umat Kristen. Yang mereka ketahui di jaman mereka orang-orang yang merayakan hari kelahiran atau ulang tahun adalah Raja Herodes – yang memotong kepala Yohanes pembabtis pada perayaan ulang tahunnya, dan sejarah sebelumnya raja Firaun Mesir yang juga membunuh tukang roti istana juga pada acara perayaan ulang tahun sang raja. Oleh karena itu kebiasaan merayakan hari ulang tahun tidak dijalani oleh orang-orang Yahudi pada jaman Yesus, dan Alkitab sendiri tidak pernah mencatat Yesus Kristus merayakan hari ulang tahunnya, atau murid-muridnya para rasul merayakan hari ulang tahun mereka atau ulang tahun Yesus. Seorang tokoh lain bernama Clemens dari Alexandria ( thn. 200 Masehi ) waktu itu malahan mengejek setiap orang kristen yang berusaha menghitung dan menentukan hari kelahiran Yesus.

BENARKAH YESUS LAHIR PADA TANGGAL 25 DESEMBER ?
Berdasarkan catatan sejarah pada waktu itu tidak ada yang tahu persis kapan sebenarnya Yesus di lahirkan oleh Perawan Maria, dan Alkitab-pun tidak mencatat tanggal kelahiran Yesus. Ini harus diakui, karena waktu itu memang tidak ada perhatian mengenai hal seperti itu. Lalu jika demikian halnya kapan sebenarnya Yesus dilahirkan dan apakah mereka perlu untuk memperingatinya, bagi Gereja Perdana hal itu tidak dipandang sebagai hal yang penting. Sekali lagi, kebiasaan merayakan hari ulang tahun waktu itu dipandang sebagai kebiasaan kafir. Jadi ketika itu mereka hanya merayakan hari kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang adalah dasar iman Gereja. Iman akan Yesus yang bangkit itulah yang mempersatukan umat untuk bersehati sejiwa merayakan misteri-misteri iman. Kitab Suci juga tidak banyak mengungkap peristiwa seputar kelahiran Yesus. Memang Kitab Suci bukan buku sejarah, tetapi buku iman. Kitab Suci ditulis oleh para pengarang suci, dan tulisan-tulisan mereka setelah melalui proses kanonisasi yang panjang, dikukuhkan oleh otoritas Gereja. Tujuannya adalah agar semakin banyak orang mengenal dan mengimani Yesus Kristus sebagaimana diimani dan diwartakan oleh Gereja. Meskipun Gereja Perdana tidak ambil pusing dengan hari kelahiran Yesus, Gereja generasi berikutnya, toh tidak mungkin mengelak dari persoalan kapan hari kelahiran Yesus. Gereja akhirnya bergumul dengan soal itu dan berusaha mencari pemecahannya. Waktu terus berlalu dan Gereja semakin berkembang dalam banyak bidang. Kita tahu bahwa Gereja mengalami penganiayaan hebat dalam abad-abad pertama kekristenan. Salah satu alasan kuat mengapa mereka dianiaya karena ada perbedaan keyakinan dengan mayoritas masyarakat Romawi yang mana kerajaan Roma adalah kuasa dunia dikala itu. Kalau masyarakat Romawi pada umumnya beribadah kepada dewa-dewi dan berhala-berhala sementara itu orang Kristen menyembah Allah yang mereka kenal dan imani dalam Yesus Kristus.

KOLABORASI KEBUDAYAAN ANIMISME KE DALAM KEKRISTENAN (Sinkritisme)
Kebudayaan kafir yang berkembang pada waktu itu beraneka ragam, dan Pemerintahan Negara Romawi memiliki kepentingan dan andil besar di dalamnya. Salah satu peran negara dalam mendukung budaya penyembahan dewa-dewi itu terjadi ketika Kaisar Aurelius (th. 212M-275M) mengumumkan pada tahun 274M {berarti pada zaman Paus Felix I yang bertahta tahun 269M-274M, waktu itu Gereja belum diakui secara resmi oleh negara} bahwa 25 Desember adalah hari penghormatan khusus untuk Dewa Matahari. Pada tanggal tersebut orang-orang Roma secara khusus memberi penghormatan kepada dewa Saturnus, dewa pertanian dan datangnya matahari karena itu hari raya penghormatan kepada dewa matahari disebut hari saturnalia. Mereka pada hari tersebut memuja dewa Mithra untuk merayakan kelahiran matahari yang kasat mata, ilahi (Dies Natalis Solis Invicti). Jadi sejak 25 Desember 274M itulah mulai ada perayaan Natal (dari kata Dies Natalis) atau Kelahiran Matahari oleh bangsa Romawi karena diakhir musim salju tanggal itulah sang mentari mulai kembali menampakkan sinarnya dengan kuat. Adanya hari raya resmi itu tentu saja menghadapkan Gereja pada situasi yang tidak mudah. Perlu sikap yang jelas dari para pemimpin Gereja waktu itu agar dapat menjadi pegangan bagi umat. Pada umumnya umat Kristen yang sejati dan benar yang tinggal di Roma menolak mengikuti perayaan itu. Meski demikian, masih banyak umat yang bersifat mendua dalam hal ini karena situasi yang mereka hadapi, beberapa tidak berani mengambil sikap tegas. Setelah Konstantinus berkuasa di Roma, ada keleluasaan gerak bagi umat Kristen untuk melaksanakan keyakinan imannya dalam ibadat maupun dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan agama Kristen dikukuhkan menjadi agama resmi negara tahun 313 Masehi (edict Milan) oleh Konstantinus Agung yang masuk Kristen tahun 312 Masehi (Konstantinus sendiri baru mau dibaptis menjelang ajalnya tahun 337 Maseh).

TRANSFORMASI TRADISI ROMAWI MENJADI PERAYAAN NATAL
Perayaan Natal untuk menghormati kelahiran matahari yang sudah begitu merakyat sulit untuk dihapuskan begitu saja, meskipun banyak orang Romawi ikut menjadi Kristen setelah Konstantinus Agung dibaptis. Perayaan Natal akhirnya tetap dilakukan, tetapi oleh Gereja pusat perhatian dialihkan pada Perayaan Kelahiran Yesus Kristus yang dianggap oleh orang Roma yang masuk kristen sebagai Sang Matahari Sejati. Yesus dianggap adalah Matahari Sejati mereka meng-combine tulisan Alkitab yang mencatat bahwa Yesus membawa terang bagi umat manusia yang berada dalam kegelapan, dengan konsep sumber terang adalah Matahari, karena itu antara Yesus dan Matahari seolah-olah ada kemiripan. “Counter culture” terhadap kultus kafir itu secara sadar dilakukan oleh Gereja. Gereja sadar bahwa banyak orang Romawi menjadi Kristen karena ikut-ikutan Kaisarnya (konstantin yang tadinya penyembah berhala belakangan masuk kristen dan dibabtis). Mereka ini meskipun menjadi Kristen tetapi tidak mau meninggalkan budaya kafirnya. Jadi inkulturasi ini adalah usaha yang dilakukan oleh para pemimpin Gereja pada waktu itu demi pertumbuhan iman umat. Dengan demikian maka perlahan-lahan sepanjang sejarah selanjutnya Perayaan Natal umat Kristen tidak lagi dihubungkan dengan kultus kafir itu. Pada tahun 336 Masehi, secara resmi ditetapkan oleh Gereja bahwa tanggal 25 Desember sebagai hari untuk memperingati kelahiran Yesus. Kaisar Konstantinus-lah yang kemudian memperkenalkannya secara luas sebagai ganti tanggal 5-6 Januari.

EPIFANI
Di dunia Kristen belahan Timur, jauh sebelum peristiwa di atas terjadi sudah ada Gereja yang merayakan Pesta Penampakan Tuhan (Epifani) setiap tanggal 4 Januari. Tetapi yang dimaksudkan oleh sekte ini dengan pesta Epifani ialah munculnya Yesus - sebagai Anak Allah - pada waktu Ia dibaptis di sungai Yordan. Gereja sebagai keseluruhan (Eropa) bukan saja menganggap baptisan Yesus sebagai Epifani, tetapi terutama kelahiran-Nya di dunia. Sesuai dengan anggapan ini Gereja - pada Permulaan abad ke-IV merayakan pesta Epifani pada tanggal 6 Januari sebagai pesta kelahiran & pesta baptisan Yesus. Perayaan kedua pesta ini berlangsung pada tanggal 5 Januari malam (menjelang tanggal 6 Januari) dengan suatu tata ibadah yang indah, yang terdiri dari Pembacaan Alkitab & puji-pujian (nyanyian). Ephraim dari Syria menganggap Epifani sebagai pesta yang paling indah. Ia katakan: "Malam perayaan Epifani ialah malam yang membawa damai sejahtera dalam dunia. Siapakah yang mau tidur pada malam, dimana seluruh dunia sedang berjaga-jaga?" Pada malam perayaan Epifani semua gedung gereja dihiasi dengan karangan bunga. Pesta ini khususnya dirayakan dengan gembira di gua Betlehem di mana Yesus (menurut kepercayaan orang) dilahirkan. Perayaan Epifani sendiri yang jatuh pada tanggal 5-6 Januari itu tidak muncul begitu saja, tetapi ada kaitan dengan kebiasaan yang berkembang di dunia timur waktu itu. Ada catatan para ahli sejarah bahwa sejak tahun 1996 SM bangsa Mesir sudah mengenal kalender matahari. Menurut kalender itu puncak ketinggian matahari jatuh pada tanggal 6 Januari. Tetapi pada zaman Alexandria tahun 331 SM ada koreksi terhadap kalender itu karena ditemukan adanya ketidaktelitian penghitungan. Puncak ketinggian matahari bukan jatuh pada tanggal 6 Januari melainkan tanggal 25 Desember. Rupanya baik festival Natal 25 Desember maupun Epifani keduanya berkaitan erat dengan titik balik matahari. Awalnya keduanya bukan budaya Kristiani, tetapi diambil alih dan diberi makna baru yang sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Konsili Nicea yang berlangsung tahun 325M dengan kuat menggarisbawahi, bahwa Yesus sejak lahir-Nya adalah Anak Allah. Hal ini mendorong Gereja untuk merayakan hari ulang tahun ( dies natalis) Yesus sebagai suatu pesta tersendiri, lepas dari pesta Baptisan-Nya. Untuk itu Gereja membaptis pesta kafir dewa matahari menjadi Pesta Kristen yakni Pesta Natal Yesus Kristus Sang Terang Dunia. Pesta kafir dewa matahari lama sekali masih berpengaruh dalam praktik umat yang belum menyadari sepenuhnya iman Kristen. Bahwa pengaruh ini masih ada hingga abad V bias kita simak dari tindakan Paus Leo (th. 440-461) yang harus menasihatkan orang-orang Kristen pada waktu itu supaya mereka jangan merayakan pesta dewa matahari, tetapi Natal Yesus Kristus.

DARI EPIFANI 6 JANUARI KE NATAL 25 DESEMBER
Rupanya tradisi Natal (=Epifani) sudah ada terlebih dahulu di Gereja Timur yang kemudian mengilhami Gereja Barat (Roma). Gereja Barat semula juga merayakan Epifani tanggal 5-6 Januari, tetapi kemudian dipindah menjadi 25 Desember. Pergeseran ini sudah terjadi sebelum dikukuhkan secara resmi pada tahun 336M di Roma. Setelah penetapan ini, Perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember terus menyebar ke seluruh dunia kekristenan. Tercatat bahwa di Antiokhia Perayaan Natal sudah dilakukan pada tahun 375M, dan di Konstantinopel tahun 380. Tahun 430M Perayaan Natal juga mulai dirayakan di Alexandria (Mesir) dan berlanjut ke tempat-tempat lain dimana kekristenan sudah menanamkan akarnya. Masa Natal sebagaimana kita kenal sekarang merentang dari tanggal 25 Desember sampai tanggal 6 Januari. Sejak Konsili Vatikan II Epifani dapat dirayakan pada hari minggu yang jatuh sebelum tanggal 6 Januari.

NATAL YANG SEMAKIN MERIAH DAN KEHILANGAN MAKNANYA
Sekarang Natal sudah bukan lagi dirayakan hanya oleh orang beriman Kristiani. Natal telah mendunia, dikenal seantero jagad. Kesan yang kuat bila orang bicara mengenai Natal adalah lagu-lagu yang merdu, liturgy yang indah, pesta-pesta meriah, tokoh legendaris Sinterklas dengan kereta rusanya sambil bagi-bagi hadiah, Pieth Hitam, lilin-lilin, pohon natal, salju berupa kapas, kandang atau gua Natal dll. Apakah sejak awal dirayakan semua kesan Natal yang sekarang kita gambarkan itu sudah ada? Tahun 336 adalah awal tahun liturgi yang terus berkembang sampai seperti yang sekarang kita kenal. Ada sekian banyak generasi dari berbagai pelosok dunia yang memberikan sumbangan ide terhadap aksesoris perayaan Natal dari berbagai sumber dan atas dasar perenungan mereka mengenai Natal. Misalnya saja, Palungan Natal baru dimulai dan diperkenalkan oleh St. Fransiskus Asisi dan para pengikutnya tahun 1223M.

ASAL USUL POHON NATAL & SINTERKLAS
Jika anda mencari kata Pohon Natal atau Sinterklas di dalam Alkitab maka anda tidak akan menemukannya, Pohon Natal diambil atau diadopsi dari kebudayaan Jerman untuk kepentingan iman Kristen. Menurut tradisi, St. Bonifasius (th. 680) adalah rasul bangsa Jerman. Ia mengganti pohon Eik yang dikorbankan untuk ‘Odin” dengan pohon Den yang dipersembahkan untuk menghormati kanak-kanak Yesus. Pohon terang itu menjadi lambang hidup abadi. Pohon terang menjadi lambang kehadiran Yesus sendiri yang menawarkan hidup abadi kepada bangsa-bangsa. Ada satu tradisi yang berasal dari Inggris yakni berkunjung dari rumah ke rumah dengan lilin bernyala sambil menyanyikan lagu-lagu Natal (Christmas Carol). Kartu Natal baru mulai tahun 1846M. Tokoh legenda SinterKlas (berasal dari nama Santo Nikolas, Uskup Myra abad ke-IV) adalah seorang tokoh yang membawa kegembiraan baru, popular di New York abad 19. Dari pembahasan ini semua kita tahu bahwa kesan Natal yang sekarang kita miliki tidak serta merta ada sejak zaman Yesus, tetapi itu merupakan kristalisasi dari suatu proses tradisi yang panjang dari ber abad-abad yang lalu. Kini Natal tidak lagi sekedar perayaan iman dalam liturgi Gereja, tetapi telah menjadi sebuah pesta dunia. Natal seringkali menjadi kesempatan yang baik bagi keluarga-keluarga untuk berkumpul, berbagi hadiah, dan makan bersama. Di kota-kota besar Natal disambut dengan hiasan-hiasan yang menakjubkan, persiapan-persiapan pesta besar, tak jarang juga discount-discount untuk produk-produk tertentu digelar demi tujuan tertentu pula. Natal juga telah menjadi kesempatan untuk mengembangkan jaringan bisnis yang kadang-kadang “bisnis kotor”. Orang bernegosiasi sambil merayakan Natal, merayakannya sambil minum minuman keras. Natal dalam arti tertentu telah menjadi budaya kapitalis. Natal gemerlap yang dirayakan di gedung-gedung megah dengan hiasan yang wah, semakin menjauhkan Natal Kelahiran Yesus Kristus dari konsep kesederhanaan. Padahal ketika Yesus lahir ke dunia, Ia lahir di kandang hewan. Yesus juga lahir bukan dari keluarga kaya, ayahnya hanyalah seorang tukang kayu yang miskin, ibunya Maria hanya bisa mempersembahkan kepada Tuhan seekor atau sepasang burung tekukur & merpati setelah Yesus lahir - Lukas 2:24, (kebiasaan orang Yahudi dibawah hukum Taurat adalah mempersembahkan korban bakaran kepada Allah di bait, apabila orang itu kaya maka persembahannya berupa domba jantan yang tidak bercela, namun kalau seseorang berasal dari keluarga miskin persembahannya berupa sepasang burung tekukur atau burung merpati) - Imamat 5:7 & Imamat 5:11. Yesus juga lahir di kota yang kecil Betlehem, bukan kota besar, Yesus lahir dalam kondisi kesederhanaan, dalam ketulusan, dalam kemurnian hati yang tercermin dalam sikap dan kata itulah sebenarnya Ia menyapa kita. Semoga hal ini tidak dilupakan.
Sumber tulisan disadur dari :
1. A New Dictionary of Liturgy and Worship, J.G. Davies, SCM Press, London, 1989.·
2. The Modern Catholic Encyclopedia, Gill & Macmillan Ltd. Minnesotta, 1994.·
3. Katekisasi Perjanjian Baru I, Dr. J.L. Ch. Abineno, BPK Gunung Mulia - Jakarta, 1984.·
4. Sejarah Gereja, Dr. H. Berkhof & Dr. H. Erklaar, BPK Gunung Mulia, 1991.·
5. The New Columbia Encyclopedia, Columbia University Press, 1975.

No comments: